Kesehatan Atau Ekonomi

Oleh: Chehob R Helmi

Opini: Kesehatan Atau Ekonomi

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Layar handphone saya melihatkan sebuah pesan masuk. Dari aplikasi WhatsApp. Pesan dari seorang kawan yang mengirimkan sebuah foto. Berupa potongan gambar berita yang dikutip salah satu akun media sosial di Instagram. Yang memuat sebuah berita soal PPKM kemungkinan akan diperpanjang.

Belum sempat saya balas pesan tersebut, kawan saya sudah mengirim pesan kembali. “Saya komen di situ, “Kenapa tidak sekalian saja di lockdown seperti di Wuhan,” bunyi pesannya. “Ada yang nanggapin?,” tanya saya. “Belum. Mikir kali mau jawab apa”.

Dari chat-nya ia terlihat sedang kesal. Atau mungkin sedang gundah gulana karena membaca postingan berita tersebut.

Maklum saja. Baru sekira dua bulan ini usahanya kembali beroperasi. Setelah sebelumnya berhenti total akibat pandemi. Dan kini harus kembali terhenti. Saat Kota Balikpapan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Mulai 15 Januari sampai 29 Januari 2021 mendatang.

Yang mewajibkan beberapa jenis usaha seperti tempat olah raga, pusat kebugaran, tempat hiburan dan lainnya menutup sementara kegiatannya. Dan pembatasan jam operasi untuk rumah makan, kafe dan sejenisnya hingga jam 21.00 Wita.

Pemerintah mencoba tegas. Sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus. Tapi pelaku usaha menjerit. Terutama pelaku usaha yang beroperasi hanya di malam hari.

Banyak yang keberatan dalam komentar yang ada di postingan tersebut. Tidak sedikit juga yang menyindir pemerintah. Yang seperti kebingungan mesti melakukan apa. “PPKM menghancurkan UMKM,”. ” UMKM yuk bersatu. Kita ngobrol sama wali kota biar ada solusi enggak membunuh ekonomi,”.

Juga ada yang komentar minta di-lockdown total saja. Ini sepertinya sepemikiran dengan kawan saya-komennya masih terbawa kesal.

Sampai tulisan dibuat, belum ada jawaban atau balasan dari orang-orang di balaikota. Meskipun berkali-kali “disenggol” di setiap komentar.

Sebenarnya bukan hanya pemerintah Balikpapan saja yang menghadapi situasi seperti ini. Pemerintah daerah lain dan pemerintah pusat pun menghadapi hal sama: dibuat pusing oleh si covid. Bukan lagi tujuh keliling. Tapi sudah ribuan keliling. Bagaimana tidak. Yang disiplin menerapkan protokol kesehatan pun masih juga kena.

Kasatgas Covid-19 Letjend Doni Monardo contohnya. Yang sangat disiplin menerapkan protokol kesehatan. Yang rajin berolahraga. Dengan berjalan kaki setiap pagi. Menempuh jarak lebih kurang 8 kilometer. Tapi…..aah sudahlah.

Serba sulit. Mau membebaskan aktivitas masyarakat, yang terjangkit virus meningkat. Membatasi kegiatan masyarakat, roda ekonomi terganggu, eh penderitanya juga tetap bertambah.

Lihat saja dari kasus positif di Kota Balikpapan. Yang berapa hari ini tidak pernah di bawah angka 100. Pemerintah Kota Balikpapan sepertinya benar-benar dibuat pusing. Harus bagaimana? Atau memilih yang mana? Semua sepertinya sudah dilakukan. Terbaru dengan melakukan rapid test antigen. Bagi yang ingin masuk ke Kota Balikpapan melalui jalur darat. Tapi bukan jaminan bisa menurunkan angka yang terjangkit virus.

Pelaku usaha sudah seperti kehilangan kesabaran menghadapi situasi yang ada. Bagi mereka ekonomi tetap harus bergerak. Tapi pemerintah masih belum ketemu solusi yang tepat. Agar virus dan ekonomi bisa sama-sama dikendalikan. Semesta pun tersenyum melihat bumi mencari solusi. (eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply