Bahaya di Balik Deepfake dan Face Swap

Akhir-akhir ini, manipulasi foto wajah kembali marak di tanah air. Tren ini juga menjangkiti masyarakat Kalimantan Timur. Meski tujuan pembuatannya hanya untuk bersenang-senang, ada bahaya mengintai di baliknya.

nomorsatukaltim.com – Kemunculan miliarder Tiongkok, Jack Ma, melalui tayangan video berdurasi 50 detik setelah berbulan-bulan menghilang, memunculkan kecurigaan publik. Netizen dari berbagai belahan dunia curiga, orang yang mengenakan jas berwarna biru itu bukanlah Ma yang asli.

“Bagaimana kita tahu Jack Ma yang muncul di video hari ini bukan lah ada upaya pemalsuan?” tanya seorang pengguna Twitter. Pertanyaan bernada senada juga dilontarkan netizen dari berbagai belahan dunia.

Ketika membaca tulisan ini, mungkin saja Anda baru menerima kiriman foto kolega dalam bentuk tubuh lain. Kalau kolega Anda seorang pria, kemungkinan besar akan mengirimkan wajahnya dalam rupa perempuan ayu. Atau sebaliknya. Ini sebenarnya bukan barang baru.

Manipulasi wajah dalam purwarupa yang lain sudah dilakukan tahun 1990-an. Tepatnya ketika aplikasi pengeditan foto, Photoshop diluncurkan. Namun saat itu, kemampuan orang untuk melakukan editing sangat terbatas.

Dengan perkembangan teknologi informasi yang didukung sistem operasi Android dan IOS, aplikasi pengolah foto dan video semakin gampang dioperasikan.

Dampaknya, aktivitas deepfake mulai marak pada 2017, setelah didahului lahirnya face swap.  Teknologi rekayasa wajah ini berdasarkan kecerdasan buatan (artificial intelligent).  Citra sintetis manusia ini dilakukan dengan menggabungkan gambar atau video original dengan gambar atau video yang ingin dimanipulasi.

Aplikasi lain yang serupa adalah DeepFaceLab, FaceSwap dan myFakeApp. FakeApp, misalnya bisa membuat rekonstruksi wajah yang akurat dan menerapkannya dalam video atau gambar bergerak. Salah satu aplikasi manipulator wajah yang merajai Play Store saat ini, ialah FaceApp. Aplikasi itu sudah diunduh sebanyak 100 juta kali dan mendapat rating 4,6 dari 5.

Face swap cukup trending di seluruh dunia, tidak hanya snapchat yang mempunyai filter ini, terdapat aplikasi khusus untuk ‘face swap’ di antaranya Face Swapping, Face Swap Booth, Face Swap Live, mix booth, Zao, dan lain-lain. Instagram pun tidak mau kalah, mereka juga meluncurkan filter face swap ini pada Maret 2019.

DAMPAKNYA

Akibat kemampuannya ini, baik face swap maupun deepfake sering dipakai untuk tindak kejahatan. Khusus deepfake misalnya, dipakai untuk menyerang para publik figur. Mulai membuat video porno selebriti atau tokoh publik, revenge porn, berita palsu atau digunakan untuk menipu dengan motif finansial.

Tak sedikit selebriti atau tokoh publik yang menjadi korban deepfake. Di antaranya adalah Daisy Ridley dan Gal Gadot. Korban lainnya adalah Emma Watson, Katy Perry, Taylor Swift sampai Scarlett Johansson. Para selebriti perempuan umumnya dijadikan target deepfake yang berkaitan dengan pornografi.

Korban deepfake tidak hanya datang dari kalangan selebritas, tetapi juga dari kalangan politisi. Misalnya, wajah Presiden Argentina, Mauricio Macri yang diganti dengan wajah Adolf Hitler.

Atau wajah Angela Merkel yang diganti dengan Donald Trump. Apabila sulit untuk membayangkan bagaimana deepfake bekerja, cukup bayangkan dua orang yang wajahnya diganti dengan face-swap, namun dengan hasil yang lebih halus.

Aplikasi ini mengejutkan dunia pada 2018 ketika komedian AS, Jordan Peele meluncurkan video peringatan bahaya deepfake menggunakan tubuh Barack Obama.

Bahaya di Balik Deepfake dan Face Swap

Grafis: Siska/Nomor Satu Kaltim

DI INDONESIA

Akhir tahun lalu, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Bambang Soesatyo mengingatkan masyarakat mewaspadai deepfake. Ia menyebut aplikasi ini bisa menjadi sarana baru mengembangkan hoaks dan hate speech. Sehingga bisa membuat kebingungan di masyarakat.

“Bahkan pada skala yang lebih besar, bisa membuat perpecahan di masyarakat. Antara benar dan salah, antara fakta dan ilusi, menjadi sangat tipis sekali perbedaannya,” kata bekas wartawan itu dalam pernyataan yang diterbitkan media-media nasional.

Menurut Bambang Soesatyo, Saat ini Amerika Serikat dan berbagai negara maju lainnya sedang disibukkan dengan penanganan deepfake.

“Tak menutup kemungkinan dalam waktu dekat Indonesia juga menghadapi masalah serupa,” tandas Bamsoet.

Field Chief Security Officer, Asia Pacific Palo Alto Networks, Kevin O’Leary dalam diskusi di Jakarta, melaporkan deepfake saat ini belum 100 persen mempengaruhi Indonesia.

“Namun, teknologi tersebut sudah sangat dekat dan akan berdampak pada Indonesia dalam waktu dekat,” ujar Kevin dirilis cyberthreat.id yang dipantau, Selasa (26/1/2021).

Dua tahun lalu, kata Kevin, deepfake masih bisa dibedakan dengan kasat mata antara yang palsu dan yang asli.

“Ke depannya jika teknologi deepfake sudah sempurna, akan sangat susah untuk mengelola ataupun membedakan antara yang asli dan yang palsu. ‘Digital Watermark’ mungkin bisa juga menjadi solusi, karena jika sebuah aplikasi memproduksi video deepfake ini jika terdapat watermarknya mungkin kita akan tahu itu palsu.”

Terlebih, kata dia, terdapat satu solusi yang mungkin akan sangat berguna dan bermanfaat dalam kasus ini. Kasus yang dimaksud adalah untuk membedakan video original dan video palsu.

Saya tahu perusahaan yang bergerak di bidang ‘steganography’. Steganography akan dapat membedakan antara video asli dan video palsu,” ujarnya.

Steganography adalah seni dan ilmu menyembunyikan informasi dengan menanamkan pesan di dalam pesan lain, yang tampaknya tidak berbahaya.

Steganografi bekerja dengan mengganti bit data yang tidak berguna atau tidak digunakan dalam file komputer biasa (seperti grafik, suara, teks, HTML, atau bahkan floppy disk) dengan bit informasi yang berbeda dan tidak terlihat. Informasi tersembunyi ini dapat berupa teks biasa, teks sandi, atau bahkan gambar. (*/yos)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply