Sejak COVID-19 Melanda, Pasar Tradisional di Mahulu Sepi Pengunjung

Mahulu, nomorsatukaltim.com – Sepi. Pagi di Pasar tradisional Kampung Long Bagun Ulu, Mahulu nampak lengang. Jumah pengunjung bisa dihitung dengan jari. Cuma 10 orang.

 

Hanya terlihat sekitar 10 orang saja pengunjung alias pembeli. Belum pagi. Jadi memang belum ada pengunjungnya. Tapi para pedagang sayur dan sembako sudah banyak buka.

Wito (45), salah satu pedagang sayur di pasar Long Bagun, bercerita kalau saat ini memang kurang pembeli. Subuh, ditambah lagi musim pandemi.

 

“Jarang ada yang membeli subuh. Yang rame itu kalau ada Long Boat (perahu bermesin tempel) dari Ulu Mahakam datang ke Long Bagun. Sekarang ini musim surut Sungai Mahakam,” jelasnya, sambil membersihkan sayur sawi jualannya.

 

Sebenarnya di Pasar Long Bagun tidak ada pedagang sayur yang rumahnya jauh dari pasar. Merata berada didekat pasar. Karena memang nyaris tak ada pedagang sayur lokal. Didominasi oleh pedagang pendatang.

 

“Sejak sebelum salat subuh saya bersama istri sudah bangun. Membuka lapak sayur,membersihkan sayur, kemudian diampar diatas lapak,” papar Wito.

 

“Kalau air Mahakam agak naik, subuh dari Ulu Mahakam diatas dari Long Bagun, banyak pembeli sayur datang ke pasar ini” tukasnya.

 

Kalau sudah berjualan dilapak sayurnya, suwito nonstop satu hari penuh. Istirahat hanya makan dan salat. Selebihnya tetap berjualan.  Paling cepat jam 20.30 Wita baru tutup lapak sayurnya.  Kalau gak ada pembeli dia sabar saja.

“Kalau penghasilan tidak menentu. Bisa juga saat musim rame pembeli, saya dapat sampai Rp 2 juta sehari,” tutupnya, dan mengaku hasil berjualan sayur itu bisa menopang ekonomi keluarganya.

 

Lain cerita dilapak pasar Pelabuhan Batoq Kelo, Kecamatan Long Bagun. Subuh itu memang belum ada penjual sayur yang datang. Hanya ada penjual nasi kuning, Dea (38), warga RT 02, Kampung Long Bagun Tengah.

“Kalau subuh belum ada penjual sayur disini. Pagi baru mereka datang. Biasanya ramai juga subuh, kalau ada penumpang yang akan mudik ke Long Pahangai atau Long Apari. Jadi ramenya pasar saat air Mahakam agak besar,” kisah Dea,  ibu rumah tangga  yang sudah 10 tahun berdagang nasi kuning di pelabuhan Batoq Kelo.

 

Lantas tak ketinggalan, ternyata di pasar tradisional Ujoh Bilang, Ibukota Mahulu  dikala subuh juga tidak ada aktifitas. Pada pukul 05.00 Wita sepi, belum ada pengunjung.  Tapi sudah banyak pedagang sayur. Tidak ada pedagang sayur warga lokal. Semua pendatang, baik dari Jawa maupun Sulawesi.

“Kalau subuh mana ada pembeli. Saya sudah beberapa tahun jualan sayur di pasar Ujoh Bilang. Nanti jam 6 atau jam 7 pagi baru ada pembeli datang,” ujar Ngatini (33), pedagang sayur didalam stan pasar Ujoh Bilang.

 

Menurut Ngatini, dia membuka lapak sayurnya sejak pukul 05.00 Wita (Subuh). Tutup tak tentu waktunya. Bisa sampai malam.

“Kalau tidak laku, sayur yang masih bagus disimpan dalam kulkas pendingin. Tak kalau sudah layu, dibuang,” ucapnya.

 

Sekarang ini kondisi COVID-19 mengganas dibeberapa daerah Kaltim. Namun syukur Mahulu masih bisa bertahan dalam zona hijau. Tetapi rupanya berpengaruh juga. Pembeli yang datang ke pasar tetap kurang.

“Kurang sekali pembeli. Biasanya sebelum  masa corona dulu, menjelang Natal pasti ramai pasar. Saya bisa dapat Rp 3 juta sehari. Tapi sekarang ini payah,” ujarnya, dan mengatakan bahwa dia menyewa tanah untuk stan berjualan didalam pasar Ujoh Bilang Rp 1,8 juta perbulan.

 

Dia mengakui sebelum berjualan sayur di pasar, dulu banyak pekerjaan lain yang pernah digelutinya.

“Kalau berjualan sayur  saat waktu baik pengunjung banyak, bisa untung besar. Bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga,” tandas Ngatini.

 

 

Di Pasar Nala, Kampung Linggang Bigung, Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten  Kutai Barat (Kubar), rupanya beda. Sejak pukul 03.00 Wita sudah aktifitas pedagang. Herlina (49) salah satu pedagang sayur, warga RT 10, Linggang Bigung, mengaku sudah bangun sejak pukul 02.30Wita.

“Bersiap ke pasar untuk membuka lapak sayur-sayuran yang akan saya jual. Kalau jam 3 sampai subuh itu sudah mulai ramai Pasar Nala,” ungkap Herlina, ditemui Jumat kala subuh itu.

 

Terlebih dihari pasar (Kamis dan Minggu), Herlina sudah standbay di Pasar Nala dengan dagangan sayurn\ya, menanti pembeli. Kalau bukan hari pasar, memang bisa berleha, karena kurang pengunjung pasar itu.

“Kalau hari pasar, ramainya sampai jam 10.00 Wita bahkan sampai jam 12.00 memang agak sepi, apalagi sejak corona masuk ke Kubar. Itu sangat kurang pembeli,” ucap wanita beranak dua ini, dan mengaku pernah berdagang sayur di Pasar Ujoh Bilang, Mahulu.

 

Herlina mengaku, jika punya modal besar, bisa meraup untung banyak. Karena di Pasar Nala sangat cepat perputaran dagang. Saat ini dia kesulitan modal, bahkan belum bisa menambah modal awalnya.

“Kalau punya modal besar, lumayan. Sekarang omzet saya pas-pasan, karena sesuai modal yang dimiliki. Yang parah lagi musim corona ini pengunjung agak berkurang,” tutur Herlina, yang sebelumnya juga sering memenuhi pesanan makanan catering kantoran.

 

Jika sayurnya dari pasar tidak laku, dibawa pulang. Bahkan jika tak layak dijual, maka akan dibuangnya, atau diberikan kepada warga yang memelihara hewan ternak.

“Pekerjaan rutin saya berdagang sayur-sayuran. Itu untuk saya memenuhi kebutuhan hidup bersama  dua anak saya,” tutur Herlina yang mengaku tidak pernah mendapat bantuan sosial COVID-19 dari pemerintah.(imy/boy)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply