Gawat, Berau Darurat Sampah

TANJUNG REDEB, DISWAY – Dilema menghadapi ancaman darurat sampah. Dirasakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Berau. Sebab pengelolaan sampah baru ala kadarnya. Anggaran pendukung juga terbatas. Padahal dibutuhkan peralatan yang memadai. Bahkan, Kasubag Tata Usaha (KTU) TPA Berau, Agus Tri Hariyanto menyebut alat operasional rusak.

Pihak TPA pun kesulitan. Mengatasi sampah masyarakat Berau yang mencapai 50-60 ton per hari. Estimasinya, satu tahun, sampah yang dikelola mencapai 18.250 hingga 21.900 ton.

Yang digunakan saat ini, kata Agus, hanya satu ekskavator. “Yang satunya mesin terganggu. Dozer dan loader juga rusak. Tidak bisa digunakan,” ujarnya kepada Disway Berau, Rabu (20/1).

Belum lagi, katanya, tidak dilakukan pemilahan. Sampah yang tiba langsung diumpuk, dibiarkan padat sampai satu meter.

Karena sebagian besar sampah dari limbah rumah tangga, UPT TPAS mengolah menjadi kompos. Dengan produksi terbatas.

“Kompos untuk tanaman di sekitar kompleks TPA dulu. Belum untuk dikomersialkan. Karena belum produksi skala besar,” ungkapnya.

Sekadar informasi, kompos pupuk organik sisa-sisa bahan yang telah mengalami pelapukan, mengandung unsur yang dibutuhkan tanaman.

Agus berharap, ke depan ada alokasi anggaran dan alat operasional. Untuk memaksimalkan pengelolaan sampah di Bumi Batiwakkal.

Selain itu, usulnya, lahan TPA harus diperluas. Agar benar-benar tidak darurat sampah ke depan. “Harusnya ada relokasi atau tempat baru. Masalahnya kembali lagi, anggaran,” tandasnya.

Sebelumnya, perluasan TPA sudah direncanakan tahun ini. Oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau. Sebab yang digunakan baru 2 hektare. Dari luas lahan 12 hektare. (*)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply