Belajar Fashion di DFA

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Rangkaian acara Visit Kaltim Fest (VKF) 2021 tengah berlangsung. Seri pertama sudah dimulai sejak 11 Januari. Yakni fashion talk I. Kali ini, fashion talk II yang diselenggarakan.

Sekedar informasi, VKF merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Dispar Kaltim). Acara ini berkepentingan untuk mempercepat pembangunan kepariwisataan di Kaltim. Fashion talk adalah podcast yang mengamati dunia melalui lensa mode. Beberapa hal soal dunia fashion akan diobrolkan oleh pakarnya.

Untuk fashion talk II dengan tema “Berkarir di Dunia Fashion”, mengundang beberapa narasumber yang bekerja dan berkecimpung di dunia tersebut. Seperti Lenny Agustin yang berprofesi sebagai fashion designer, Anas Maghfur sebagai founder Digifashion Academia (DFA). Lalu ada dua co-founder DFA yaitu Gita Reh yang juga sebagai Program Development DFA, dan Aniesh Berlian sebagai fashion consultant di DFA.

Anas Maghfur yang pertama membagikan pengalamannya. Ia sendiri konsen di kain tradisional Kaltim. Kali ini disebut dengan wastra. Yakni kain yang sarat akan makna dan lebih memiliki nilai filosofi serta sejarahnya sendiri.

Anas Maghfur menceritakan DFA hadir di tengah pandemi yang terjadi di Kaltim. Tepatnya Juni 2020 lalu. Tujuannya tak lain lantaran kegiatan-kegiatan serta aktivitas dibatasi. Salah satunya aktivitas berkreasi di dunia fashion.

Kemudian kata Anas Maghfur, DFA ingin menciptakan suasana baru. Menjadi sekolah fashion yang bisa dijangkau siapa saja. Dan semua dilakukan secara virtual. Alasan lainnya DFA hadir ialah soal sekolah fashion yang terbilang mahal. Bagi Anas Maghfur, dunia fashion adalah seni yang tak perlu ada batas. Dan tentunya bernilai ekonomis.

“Sekolah fashion itu mahal, dan memakan waktu. Atributnya saja sudah didapat,” kata Anas Maghfur yang biasa disapa Anas ini, Rabu (13/11/2021).

Melalui co-founder DFA, Gita Reh penjelasan soal DFA kembali dilanjutkan. Dalam DFA sendiri ada 5 kelas yang diberikan kepada peserta. Peserta yang dimaksud oleh Gita Reh ialah mereka yang mengikuti kelas di DFA.

Lima kelas itu yakni fashion illustration, design, consultation, drafting, dan terakhir business. Para peserta yang mengikuti kelas DFA juga berasal dari berbagai daerah. Tak hanya di Kaltim saja. Seperti Bandung dan Yogyakarta. Beberapa hasil karya para peserta juga akan dipamerkan. Walaupun tidak mudah mengikuti tiap-tiap kelas. Tetapi para peserta terus diarahkan. Ibarat kata dipaksakan untuk bisa berkarya.

“Hasilnya akan luar biasa. Bisa saja mereka memiliki brand masing-masing,” ujar Gita Reh.

Gita, panggilan Gita Reh, memiliki banyak harapan di DFA. Dia berharap semua peserta mampu membangun sebuah brand. Serta koleksi busananya sendiri. Dia juga menyampaikan, kelas konsultasi selalu menjadi dambaan. Karena mereka bercerita tentang impian dan karya-karyanya. Ilustrasi diajarkan lebih detail ketika konsultasi dilakukan.

“Di sini juga kita menyediakan wadah untuk mereka para pelaku fashion untuk bisa saling terhubung melalui kontak kami di sosial media,” tandasnya.

Member DFA dibeberkan Gita ada yang dari Arab Saudi, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Mesir. Untuk totalnya, ada 300 member yang tersebar di berbagai regional. Dirinya menceritakan lagi, Borneo Fashion Bration (BFB) juga salah satu wadah yang diberikan pemerintah kepada para designer. Banyak peserta dari DFA yang juga ikut di kegiatan BFB.

Salah satunya ialah Erlia. Wanita asal Bandung yang menjadi kandidat terbaik dalam kegiatan BFB. Berdasarkan pengalaman Erlia yang hanya Ibu Rumah Tangga (IRT), dirinya tertarik untuk mendaftar di DFA agar bisa mengembangkan bisnis. Dirinya bisa menjahit, tapi masih merasa belum memiliki kemampuan.

“Banyak hal belajar di DFA. Tidak terpikirkan apa itu design, cara menggambar, nah di situ (DFA) diajarkan. Dijelaskan. Dan merasa diri sendiri harus tekun belajar,” ungkap Erlia.

Lenny Agustin juga memberikan tanggapan. Seorang fashion designer yang berdomisili di Jakarta tersebut sudah berkarir di dunia fashion sejak 2001. Latar belakang Lenny Agustin terjun di dunia fashion karena dirinya sudah mencintai fashion. Dia juga sejak SD sering membuat busana untuk boneka-bonekanya. Kemudian membuat kliping soal fashion dari surat kabar yang dia dapatkan.

“Berjiwa seni, silakan masuk di dunia fashion. Ini dunia yang enggak akan mati. Baik kreativitas, maupun bisnisnya,” terang Lenny Agustin dengan antusias.

Banyak jenis pekerjaan yang masih berhubungan dengan fashion. Begitu pun polanya. Beberapa hal yang harus dilakukan dan didalami di dunia fashion harus kuat. Tiga tips yang dibagikan Lenny Agustin. Niat, skill, dan ilmu pengetahuan. Itu juga yang diterapkan oleh dirinya sendiri.

“Puluhan tahun dan yah beginilah saya sekarang. Jangan ikut-ikutan orang, niat diri sendiri,” lanjutnya.

Bagi Lenny Agustin, profesi sebagai fashion designer bisa dicapai siapa saja. Era internet seperti sekarang sangat menguntungkan bagi mereka generasi muda. Karena menurutnya, dari jualan, kesempatan, dan potensi juga sama-sama bisa diperoleh

Kendala juga dialami oleh era online di dunia fashion. Seperti produk yang cepat berubah. Persaingan ketat. Plagiator. Dan jaringan internet.

Fashion designer, yang paling sering dialami itu, plagiator sih,” terangnya.

Aniesh Berlian juga memiliki pendapat senada soal nilai ekonomi bisnis yang terjadi di dunia fashion. Baginya, bekerja di lingkungan orang yang mengerti fashion sangat menguntungkan. Untuk segi apapun. Kepekaan dan penerapan dari dunia fashion bisa dibagikan kepada masyarakat umum. Dan sekali lagi diakui Aniesh Berlian itu sangat bermanfaat.

“Harus konsisten sih dan sangat membantu,” pungkas Aniesh panggilannya. (nad/zul)

Leave A Reply