Memajukan Balikpapan Melalui Paradiplomasi

Praktik paradiplomasi memberikan kesempatan bagi aktor sub-negara seperti Balikpapan. Untuk memaksimalkan potensi kerja sama yang diusung dengan pihak luar negeri. Sehinggga dapat menghasilkan manfaat. Berupa keuntungan dalam bidang tertentu.

OLEH: YUSIN NOVIARIN*

Pada era ini, aktivitas hubungan internasional sangat dipengaruhi oleh globalisasi. Globalisasi telah mengaburkan batas-batas negara dan membuat interaksi yang lebih kompleks antar bagian-bagian dari negara itu. Sehingga muncullah istilah paradiplomasi.

Paradiplomasi merupakan kerja sama yang dilakukan oleh sub-negara dengan pihak di luar negeri. Sub-negara yang dimaksud dapat dicontohkan seperti kota-kota yang terletak dalam negara tersebut. Praktek paradiplomasi sangat menarik untuk dibahas. Karena dapat memberikan keuntungan yang positif bagi aktor sub-negara. Untuk memajukan kotanya serta menyejahterakan masyarakatnya.

Salah satu bentuk implementasi paradiplomasi di Indonesia adalah praktek paradiplomasi yang dilakukan oleh Balikpapan. Kota Balikpapan memiliki hubungan kerja sama paradiplomasi dengan International Council of Local Environmental. Initiatives (ICLEI). Kerja sama ini berfokus dalam bidang lingkungan. Terutama pada perubahan iklim.

ICLEI merupakan jaringan global yang terkenal di dunia memiliki anggota sekitar 1.750 kota kecil dan kota besar besar (local & regional). Terletak di 86 negara yang berkomitmen. Untuk membangun masa depan kota yang berkelanjutan.

Balikpapan sering melakukan koordinasi. Untuk bekerja sama dengan ICLEI. Melalui kantor perwakilan ICLEI yang terletak di Jakarta (Yayasan ICLEI Indonesia) dan kantor pusat ICLEI untuk Asia Tenggara yang terletak di Filiphina.

ICLEI memiliki asas ekonomi hijau dan infrastruktur pintar. Karena itu, ICLEI telah menggaet 20 persen populasi perkotaan global. Kerja sama yang dibangun dengan ICLEI ini membantu para anggotanya. Untuk membuat kota dan desa mereka berkelanjutan, memiliki daya tahan yang baik dalam kerusakan lingkungan, memiliki keanekaragaman hayati, rendah karbon, efisien dalam memakai sumber daya, serta memiliki masyarakat yang sehat dan bahagia.

ICLEI memiliki dua anggota yang dianggap sebagai kota percontohan di Indonesia. Salah satunya Balikpapan. Kerja sama yang dilakukan oleh Balikpapan dengan ICLEI dilatarbelakangi oleh tujuan yang sama terhadap lingkungan. Dengan memfokuskan bidang kerja samanya dalam perubahan iklim.

Balikpapan mempunyai komitmen yang baik terhadap lingkungan. Dengan tata ruang 52 persen kawasan hutan lindung, 48 persen kawasan budi daya berdasarkan Perda Nomor 12 Tahun 2012 tentang RTRW Balikpapan, dan larangan tambang batu bara 0 persen berdasarkan Perwali Nomor 12 Tahun 2013 tentang Balikpapan Kawasan Bebas Tambang.

Dengan kata lain, Balikpapan memiliki kepedulian yang bagus dalam hal lingkungan. Terlebih dengan komitmennya yang telah membuat ICLEI memiliki ketertarikan bekerja sama dengan Balikpapan. Karena menganggap Balikpapan mempunyai komitmen yang kuat terhadap perubahan iklim.

Selain itu, ketertarikan kerja sama tersebut juga didasari oleh faktor persamaan visi dan misi. Yang mengarah pada transformasi perkotaan dan pembangunan global berkelanjutan. Balikpapan sangat optimis pada pencapaian target penurunan emisinya pada tahun 2020 sebagai kontributor terhadap target penurunan emisi nasional. Untuk menurunkan emisi sebesar 25,82 persen dengan program ICLEI: Green Climate Cities.

Kerja sama yang di lakukan Balikpapan dengan ICLEI ini di bagi menjadi dua: Urban Leds I dan Urban Leds II. Dari tahun 2013 hingga 2020. Program ini pun masih terus berlanjut.

Berdasarakan kerja sama Urban Leds II dan tindakan imigasi, dicetuslah bantuan small project optimalisasi pemanfaatan gas metana TPA Manggar. Besaran dana hibah yang diberikan sekitar 150 juta atau sebesar EUR 10.000. Untuk mendanai proyek tersebut.

Proyek ini ditangani oleh Dinas Lingkungan Hidup Balikpapan. Sebagai tanda kerja sama ini, maka dibuatlah perjanjian kerja sama antara Dinas Lingkungan Hidup Balikpapan dan Yayasan ICLEI Indonesia pada 26 Juli 2020. Tentang proyek percontohan Urban Leds II. Dengan judul optimalisasi pemanfaatan gas metana di tempat pembuangan akhir sanitasi Manggar nomor 007/PKS/ICLEI-IO/VII/2020 nomor 660/668/DLH.

Perjanjian ini bertujuan mendukung proyek percontohan mengoptimalkan pemanfaatan produksi gas metana di TPA Manggar. Sehingga dapat mendukung pencapaian atas penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Gas metana yang dihasilkan oleh sampah TPA Manggar dapat membahayakan lapisan ozon bumi. Oleh karena itu, dengan adanya proyek ini, gas metana tersebut dialihfungsikan dan diolah sedemikian rupa menjadi bahan bakar. Yang dapat berubah menjadi api dan juga menjadi energi listrik. Untuk penerangan rumah-rumah warga.

Hal ini bertujuan untuk mengurangi GRK dari konsumsi bahan bakar elpiji menjadi beralih ke gas metana. Projek ini telah membantu 50 warga sekitar TPA Manggar. Untuk memanfaatkan api yang berasal dari gas metana tersebut. Proyek ini juga mengurangi beban ekonomi masyarakat. Untuk membeli bahan bakar elpiji. Yang sebelumnya digunakan untuk memasak.

Manfaat lainnya dari kerja sama yang dibangun dengan ICLEI yakni ICLEI menjadi jembatan bagi Balikpapan dan juga negara pendonor yang tertarik membantu Balikpapan. Untuk menurunkan emisi gas. Berkaitan dengan masa pandemi COVID-19 yang sedang terjadi, hal berakibat pada penurunan anggaran pemerintah yang akan disalurkan kepada dinas terkait. Seperti Dinas Lingkungan Hidup. Selain itu, anggaran dari pemerintah tidak sepenuhnya mengakomodir biaya yang diperlukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Balikpapan. Untuk melaksanakan proyek-proyek yang berkaitan dengan penurunan emisi.

Oleh karena itu, dengan kehadiran ICLEI sangat menguntungkan dan membantu Dinas Lingkungan Hidup Balikpapan. Untuk melakukan upaya penuruan emisi gas di kota tersebut. Beberapa hal lain yang dilakukan ICLEI dalam membantu Balikpapan yaitu ICLEI memengaruhi kebijakan Pemkot Balikpapan. Dalam pembuatan RPJMD untuk penurunan emisi gas. Selain itu, ICLEI juga telah membantu membuat penyusunan RAD GRK Balikpapan dan penyusunan kajian kerentanan serta risiko dampak perubahan iklim.

Praktek paradiplomasi yang dilakukan oleh Balikpapan dan ICLEI memberikan manfaat bagi masyarakat Balikpapan. Guna meningkatkan kesejahteraannya. Hubungan aktivitas paradiplomasi masih senantiasa berkembang di Indonesia. Para aktor sub-negara berusaha memaksimalkan potensi dan kerja sama yang sedang berlangsung.

Pemerintah daerah juga berusaha mengoptimalkan pelaksanaan prosedur paradiplomasi yang diatur dalam undang-undang. Agar kerja sama itu terstruktur. Sebagai kelanjutan dari praktek paradiplomasi di Balikpapan, salah satu kota di Jepang juga tertarik melakukan kerja sama di bidang lingkungan. Namun, masih dalam tahap penjajakan.

Balikpapan perlu mengoptimalkan kerja sama sub-state aktor ini. Sesuai peraturan perundang-undangan. Untuk menggali potensi keuntungan dari praktek paradiplomasi. Terlepas dari hal itu, Balikpapan telah melakukan usaha yang optimal dan terbaik atas kerja samanya dengan ICLEI.

Hal ini berbuah manis. Ditandai dengan kemajuan Balikpapan dalam bidang lingkungan. Seperti pengelolaan gas metana di TPA Manggar serta tak kalah penting manfaat dari pengelolaan gas metana tersebut mampu dirasakan oleh warga sekitar. (*Mahasiswi Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang).

4 Komentar

Leave A Reply