Bayi di Berau Selamatkan Orang Tuanya dari Musibah Sriwijaya

Pencarian terhadap para penumpang pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ 182 yang jatuh di perairan Pulau Seribu, Jakarta, masih berlangsung sampai  kemarin. Para petugas belum menemukan satupun penumpang. Sementara berbagai cerita terkait orang-orang yang selamat karena gagal berangkat, mulai bertebaran di media sosial. Salah satunya kisah Demang Linus, warga Berau, Kalimantan Timur.

nomorsatukaltim.com – “Saya sudah booking pesawat untuk berangkat ke Sintang, namun si kecil sangat rewel dan tidak mau ditinggal. Sempat memaksa adik terbang, tapi dia juga terkendala speedboat.”

Tulisan itu diunggah Demang Linus melalui akun Facebook. Postingan yang diterbitkan Minggu, (10/1/2021) sudah dilihat 121 orang dan mendapat komentar puluhan orang.

Untuk memastikan kebenaran informasi itu, Disway Berau grup Disway Kaltim, mewawancarai warga Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau itu.

“Memang benar (itu tulisan saya), saya dan adik harusnya ke Pontianak dengan Sriwijaya Air yang jatuh itu,” kata Demang Linus, kemarin.

Aktivis lingkungan itu mengatakan, tidak seperti biasanya, si kecil yang baru berumur satu bulan menangis kencang. Tidak seperti biasanya, Rea Utama, si buah hati juga tak mau diam meski sudah dikasih ASI.

“Bahkan diayun oleh neneknya juga tetap menangis. Saya tinggal (sebentar) juga menangis,” ujarnya.

Karena itulah, Demang menghubungi sang adik supaya berangkat lebih dulu ke bandara.

“Saya sempat memaksa adik bersiap-siap, kalau saya tidak jadi berangkat di hari itu juga,” tambahnya.

Tapi sang adik juga terkendala transportasi. Ia tak menemukan speedboat untuk menyeberang ke Berau. Jadilah keduanya gagal berangkat.

Demang sendiri telah memesan tiket pesawat ke Pontianak sehari sebelum hari nahas itu. Ia memesan tiket Lion Air tujuan Berau-Jakarta, yang transit di Balikpapan. Lalu tiket Sriwijaya Air dari Jakarta ke Pontianak. Ia seharusnya berangkat dengan Sriwijaya Air SJ 182/SJY 182 rute Jakarta-Pontianak jenis Boeing 737-524.

Ia juga melakukan tes rapid antigen di Tanjung Redeb dan memastikan dirinya siap berangkat. Sebelumnya, Demang juga menyiapkan skema, jika dari bandara Berau dilakukan lockdown lokal, akan terbang langsung dari Balikpapan.  Dari Pontianak, ia akan menuju Sintang.

“Awalnya, saya ingin menjenguk paman yang sedang sakit,” jawab Demang ditanya soal tujuannya ke Pontianak. Belakangan, ia menerima kabar pria yang dihormati itu sudah meninggal dunia. Karena itulah, Demang memaksa berangkat untuk mengikuti prosesi pemakaman.

Pria yang bekerja cukup lama di Kawasan konservasi itu sempat menangis lantaran gagal berangkat. Belakangan, ia merasa bersyukur karena batal berangkat.

“Kayak mimpi, ternyata pesawat Sriwijaya, Jakarta-Pontianak yang aku booking itulah yang jatuh,” kata bapak satu anak itu dengan nada sedih.

Sampai saat ini memang belum ada penerbangan langsung yang menghubungkan Berau-Pontianak. Meski berada di satu daratan, warga Kaltim yang ingin bepergian ke Kalimantan Barat maupun Kalimantan Tengah harus transit terlebih dulu di Surabaya, atau Jakarta.

Saat berita duka itu datang, Demang segera membuka laptop dan melihat riwayat pembatalan tiket tersebut. Barulah dia menyadari bahwa kode pesawat yang akan ditumpangi sama persis. Diakuinya dia merasa beku seketika dan segera menghapus riwayat pemesanan dari browser laptopnya. Dia takut membuat trauma pada dirinya.

“Mungkin Tuhan masih sayang sama saya, dan mungkin Om Dot meminta kepada Tuhan agar kami berkumpul di waktu yang tepat. Tidak di tanggal 9 Januari kemarin,” ujarnya.

Soal kegagalannya berangkat, Demang menilainya sebagai takdir.

Bayi di Berau Selamatkan Orang Tuanya dari Musibah Sriwijaya

Grafis: Putri/Nomor Satu Kaltim

“Saya sempat menyesal sebab tidak satupun dari kami berdua bersaudara di perantauan bisa datang ke pemakaman om,” kata Co Founder organisasi konservasi lingkungan CAN Borneo itu.

Demang mengaku tersadar bahwa meskipun dia memiliki ongkos untuk pulang, tapi dia tidak bisa membeli takdir yang diberikan Tuhan.

“Itulah mengapa di status (Facebook) itu saya menulis agar kita ingat bahwa uang bisa membeli segalanya bahkan menerbangkan kita kemanapun tapi tidak dengan takdir kita,” katanya. Ia juga bersyukur si buah hati menggagalkan keberangkatannya ke Pontianak.

BUKAN KARENA USIA

Sementara itu penyelidikan terhadap penyebab jatuhnya Sriwijaya Air terus dilakukan. Pengamat Penerbangan, Alvin Lie menegaskan jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di perairan Pulau Seribu, Jakarta, tidak berkaitan dengan usia pesawat.

“Walaupun pesawat usianya sudah 26 tahun, tapi asal perawatannya baik tidak ada masalah. Kemudian pesawat ini juga pernah dikandangkan oleh Sriwijaya antara 23 Maret sampai tanggal 23 Oktober, tahun lalu. Setelah itu sudah aktif lagi terbang,” kata Alvin dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV, Sabtu (9/1/2021).

Berdasarkan grafik kecepatan dan informasi lainnya, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 kehilangan ketinggian secara drastis.

“Pesawat kehilangan ketinggian secara drastis pada ketinggian 10 ribu kaki, sedangkan kecepatan vertikal atau kecepatan turunnya mendekati 3 0ribu kaki per menit. Jadi kalau ada di ketinggian 10 ribu kaki, pesawat terhempas ke permukaan hanya butuh sepertiga menit atau 20 detik,” imbuh Alvin

Kemungkinan besar, lanjut Alvin, ketika pesawat turun, kehilangan ketinggian sedemikian cepat, pesawat sudah tidak dapat dikendalikan. Jika ditanya soal kemungkinan penyebab pesawat jatuh, Alvin mengungkapkan kemungkinan cuaca buruk tidak dapat jadi alasan.

“Untuk unsur cuaca, rasa-rasanya nggak segitunya (pesawat sampai kehilangan ketinggian drastis) karena di saat yang sama banyak pesawat melakukan penerbangan di wilayah yang sama,” jelasnya.

Kemungkinan lain, pesawat mengalami masalah dengan sistem kendali. Kalau masalah terjadi pada mesin, kondisi jatuhnya pesawat tidak akan seperti yang dialami Sriwijaya Air SJ182.

Alvin menjelaskan jika mesin bermasalah, pesawat masih bisa melayang, begitu pula jika dua mesin mati. Pesawat masih bisa melayang dan dikendalikan untuk mendarat darurat. Alvin juga sempat mengecek tidak ada may day call atau panggilan darurat. Pilot pun tidak melaporkan kerusakan atau kondisi darurat ke pihak air traffic controller (ATC) atau pengatur lalu lintas penerbangan.

“Kemungkinan ini terjadi sedemikian cepat dan mendadak, sehingga pilot tidak sempat berbuat apa-apa,” imbuhnya.

Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dipastikan jatuh di Kepulauan Seribu. Pihak Basarnas memperkirakan pesawat jatuh di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki. pukul 14.40 WIB. Pesawat terbang dari bandara Soekarno-Hatta pukul 14.36 WIB dan seharusnya mendarat di Bandara Supadio, Pontianak pada pukul 15.15 WIB. (rap/yos)

Leave A Reply