Tiap Tahun ODGJ Meningkat

TANJUNG REDEB, DISWAY – Kurun waktu 3 tahun terakhir, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) meningkat di Berau. Sesuai pendataan di 21 puskesmas.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, ODGJ 2017 sebanyak 297 orang, 2018 sebanyak 317, dan 2019 sebanyak 335. Dan hingga Oktober 2020 sudah 468 orang. ODGJ dengan gangguan ringan 237 jiwa dan gangguan berat 229 jiwa. Bahkan di 2020 masih ada yang dipasung 2 orang.

Padahal, menurut Kasi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Berau, Nurhayati, pemasungan terhadap ODGJ tidak boleh dilakukan. Akan lebih memperparah.

Kebanyakan ODGJ yang dipasung mengidap gangguan jiwa berat. Hanya saja pihak keluarga tidak mau menyerahkan kepada Dinkes maupun pihak terkait seperti Dinas Sosial.

Sebab itu, permasalahan paling berat untuk menanggulangi para ODGJ, khususnya gangguan berat adalah keluarga mereka sendiri.

“Masih ada dua yang dipasung. Di Gunung Tabur dan Tanjung Batu. Kita coba masuk melalui camat tapi belum ada respons. Mereka akan semakin parah jika dipasung,” ungkapnya.

Dikatakan, peningkatan dari tahun ke tahun, terutama di 2020, tidak ada hubungannya dengan pandemik COVID-19. “Belum ditemukan stres karena imbas COVID-19,” ungkapnya kepada Disway Berau (16/12).

Nurhayati mengaku gencar melakukan skrining di 21 puskesmas. Kesehatan mental menjadi prioritas yang perlu diperhatikan, walaupun banyak masyarakat yang menganggap gejala ODGJ sebagai aib.

Sebelum 2017, katanya, ODGJ di Berau belum mendapatkan penanganan yang baik. Sebab belum ada obat khusus yang tersedia di Berau. Padahal ODGJ harus terus berdampingan dengan obat khusus. Kendati mereka sudah dinyatakan sembuh. “Terutama ODGJ gangguan berat,” tandasnya.

Sejauh ini, pantauan Dinkes, kebanyakan ODGJ adalah pemakai narkotika aktif. Ketika tidak bisa memenuhi kebutuhan, mereka mulai depresi. Selain itu, masalah internal keluarga. Seperti kehilangan pasangan. Kebanyakan menimpa laki-laki. (RAP)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply