Kelautan dan Perikanan Sumbang 7%

TANJUNG SELOR, DISWAY – Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sektor perekonomian yang menjadi penopang utama di Kaltara. Sumbangsihnya mencapai 7 persen.

Dikatakan Gubernur Kaltara Irianto Lambrie, upaya pengembangan sektor kelautan dan perikanan, sangat didukung oleh kondisi geografis Kaltara. Panjang garis pantai Kaltara mencapai 3.557,65 kilometer, dengan luas perairan 776.845,39 hektare, dan memiliki 182 pulau.

“Batas wilayah laut Kaltara (12 mil) mencapai 7.316,43 kilometer persegi. Dan, total karang keseluruhan di Kaltara 141.163,” kata Irianto, kemarin (16/12).

Belum lagi kawasan mangrove di Kaltara yang luasnya sekitar 180.981,7 hektare, dengan luas kawasan konservasi 29.918,89 hektare. “Kawasan konservasi di Kaltara ada 4. Yakni Kawasan Konservasi Sinelak di Nunukan seluas 664,96 hektare, yang kini diusulkan perdanya. Lalu, Kawasan Konservasi Tanjung Cantik-Binusan (Nunukan) seluas 289,53 hektare. Juga dalam usulan perda,” ujarnya.

Selain itu, ada juga Kawasan Konservasi Bebatu di Tana Tidung seluas 415,48 hektare, dan Kawasan Konservasi Karang Malingkit di Bulungan yang dalam usulan perda seluas 24.581,98 hektare.

Bila dilihat lebih jauh lagi, pengembangan potensi tersebut berada di 25 kecamatan pesisir. 7 kecamatan berada di Bulungan, 4 kecamatan di Tarakan, 10 kecamatan di Nunukan, dan 4 kecamatan di Tana Tidung.

“Sesuai data BPS (Badan Pusat Statistik), pada 2016, kontribusi pertanian secara umum (termasuk perikanan) terhadap perekonomian Kaltara mencapai 17 persen. Dimana, 7 persen itu berasal dari sektor kelautan dan perikanan,” ujar Irianto.

Kontribusi sektor itu terhadap pendapatan domestik regional bruto (PDRB) Kaltara, terus meningkat sejak 2008, dengan rerata 10 persen hingga 15 persen per tahunnya. “Peningkatan yang terjadi, menunjukkan bahwa sub sektor kelautan dan perikanan mempunyai potensi di masa depan, dengan menjadi salah satu sub sektor sebagai prime mover pembangunan Kaltara. Lantaran potensi sumber daya ikan yang besar dan belum dimanfaatkan secara optimal,” ungkapnya.

Salah satu sub sektor yang berpotensi besar dioptimalkan, adalah perikanan budi daya. Utamanya, tambak udang, ikan, rumput laut dan kepiting bakau. “Untuk tambak udang, produktivitasnya masih sangat rendah, sekitar 0,13 ton per hektare per tahun. Ini dikarenakan terbatasnya aksesibilitas dan sarana produksi. Lantaran semua sarana produksi didatangkan dari Sulawesi Selatan maupun Jawa,” sebutnya.

Melihat kondisi itu, DKP Kaltara pun gencar melakukan penguatan budaya bahari melalui peningkatan produksi perikanan budi daya. “Ada sejumlah ciri khas perikanan budi daya di tiap kabupaten dan kota di Kaltara. Di Tarakan, komoditasnya udang windu dan kepiting soka. Sementara, Bulungan punya perikanan bandeng, Nunukan dengan rumput laut, dan Tana Tidung memiliki udang galah,” kata Irianto.

Adapun sejumlah upaya yang dilakukan Pemprov Kaltara, untuk meningkatkan produksi perikanan budi daya melalui APBD 2020, di antaranya melakukan sosialisasi atau pembinaan, pelatihan budi daya ikan, udang, dan rumput laut, serta demplot tambak percontohan.

“Selain itu, pada tahun ini, DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) juga melakukan pemetaan dan pendataan lahan tambak di Tana Tidung dan Nunukan,” ujarnya. HMS

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply