Naik Enggak Turun Enggak, Anhar: PAD Samarinda Gitu-Gitu Aja

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tepian flat. Datar. Tidak pernah ada kenaikan signifikan. Begitu sindiran Anggota Komisi III DPRD Samarinda Anhar.

Katanya 80 persen masih disupport dana perimbangan. PAD lima tahun terakhir pun flat. Cuma berkisar diangka Rp 500 miliar.  “Lima tahun terakhir APBD kita begitu-begitu saja. Seharusnya kemampuan fiskal kita sebagai kota besar bisa lebih mandiri,” ucapnya.

Ia mengkhawatirkan Samarinda terlena selalu bergantung dari dana bagi hasil. Hingga kecanduan menggantungkan kekuatan fiskal dari sumber dana transfer pusat dan provinsi. Samarinda ini kata Anhar ibarat bayi yang terus disuapi. Tidak bisa mencari dan meningkatkan sumber pendapatan daerah.

Itu menurutnya akan sangat rentan. Mengambil contoh saat ini, ketika pandemi melanda. Dana dari pusat dan daerah terpangkas. Akhirnya, APBD juga ikut terkoreksi. Karena Pemda tak mampu menggenjot PAD. Ia menjabarkan, ada keterkaitan antara implementasi RPJMD dengan kinerja PAD.

Baca juga: Polisi Belum Siap, Sidang Praperadilan Dua Mahasiswa Kembali Ditunda

Yakni ketika RPJMD betul-betul mampu membangun infrastruktur ekonomi yang terkoneksi. Untuk mendorong peningkatan kinerja ekonomi dan geliat usaha. Maka dari situ, akan berdampak multiplier effect pada peningkatan PAD.

Paling tidak, kata dia, PAD mampu mendanai belanja aparatur dan belanja-belanja modal. “Karena setiap belanja modal itu pasti ada multiplier effect untuk peningkatan kinerja ekonomi dan potensi peningkatan PAD,” tutur Anhar.

“Kalau kita bangun pelabuhan, kita bangun perpustakaan apa nilainya buat daerah. Hanya sekadar aset saja,” singgung Politisi muda PDIP ini.

Yang dia lihat selama ini APBD terbebani belanja operasional dan belanja pegawai. Padahal menurutnya, setiap uang yang digunakan belanja modal pasti ada multiplier effect-nya.

Ia menambahkan, APBD kota seharusnya disingkronisasi dengan agenda dan program pemerintah provinsi. Sehingga pembangunan terintegrasi dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Serta tidak saling tumpang tindih.Dari kajian tersebut, Anhar bertanya-tanya, apa yang sudah dicapai Pemkot Samarinda selama ini?

Dilihat dari parameter penanganan banjir, katanya, banjir malah kian menjadi-jadi pada musim tertentu. Itu artinya, upaya pengendalian gagal. Padahal, lanjutnya lagi, kerugian bagi daerah yang disebabkan oleh banjir amat besar. “Bayangkan saja berapa kerugian ekonomi bagi Samarinda ketika banjir menyerang,” pungkasnya. (das/boy)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply