alexa
  • disway ntt malang
  • ngopisore

Mufakat Kanjeng Sinuhun (16): Persidangan

Di persidangan mulai terungkap. Rencana mengubah anggaran dari 250 miliar menjadi 1,3 triliun itu. Semuanya diputuskan di ruangan Kanjeng Sinuhun. Dihadiri staf Pemangku Kota Ulin. Siapa yang memulai mengusulkan itu?. Apakah sepontanitas atau sudah direncanakan.

——————

MUFAKAT KANJENG SINUHUNBERUNTUNGLAH Suryanata. Sesepuh Bidang Perencanaan itu tidak menghadiri undangan pertemuan di balai sinuhun. Ia memang diundang melalui stafnya, Britnita. Selama ini, Britnita lah yang kerap berkomunikasi dengan balai sinuhun. Termasuk dalam proyek perluasan lahan pertanian 1.000 hektare itu. Mewakili sang atasan.

Surya berhalangan hadir lantaran mengikuti turnamen golf yang diadakan klub golf di Kota Ulin. Sebetulnya ia bersedia saja hadir pada pertemuan itu. Sayang, informasinya mendadak. Sedangkan untuk mengikuti turnamen tersebut, ia sudah siapkan jauh-jauh hari. Bahkan ia sudah rencanakan siapa-siapa saja lawan mainnya.

Surya hobi olahraga golf. Dalam sepekan bisa dua hingga tiga kali turun lapangan. Moment turnamen seperti itu sangat ia nantikan. Sayang sekali untuk dilewatkan. Surya pun meminta Britnita untuk hadir pada meeting dadakan tersebut. Itu juga yang mendatangkan malapetaka bagi Britnita. Akhirnya perempuan berusia 45 tahun itu yang jadi tersangka. Lalu didakwa.

Sebagai Sesepuh Bidang Perencanaan, Surya tahu ada beberapa perubahan angka. Itu ia sampaikan di persidangan. Sebagai saksi. Menurut Surya, dari beberapa diskusi antara pemangku kota dan para sinuhun, beberapa kali pagu anggaran itu berubah.

Awalnya, pengajuan anggaran mulai tahun 2014 nilainya sebesar 350 miliar. Namun ketika itu, alokasi anggaran untuk itu tidak mencukupi. Alias pemangku kota tidak punya alokasi sebesar itu. Maka kemudian diubah, angkanya menjadi 250 miliar. Anggaran itu untuk pembelian lahan pertanian dan beberapa infrastruktur yang akan dibangun. Dengan asumsi, kekurangan anggaran akan ditambah pada tahun anggaran berikutnya.

Surya pun akhirnya kaget. Pertemuan tersebut menghasilkan perubahan angka drastis. Ia dikabari Britnita bahwa terjadi perubahan anggaran menjadi 1,3 triliun. Dan sudah diputuskan pada rapat di ruangan Kanjeng Sinuhun.

Surya tak ambil pusing dengan perubahan tersebut. Perubahan seperti itu biasa saja. Toh sudah ada timnya. Bayangannya, biasa saja terjadi karena sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perluasan lahan pertanian kala itu.

Soal program itu, Surya mengakui sudah menjadi rencana strategis dari Pemangku Kota Ulin. Alasannya jelas, untuk memenuhi kebutuhan pangan kota dan menjaga dari inflasi yang berlebihan. Dan utamanya agar kebutuhan pangan warga tidak tergantung daerah lain.

Surya menyampaikan itu di depan hakim persidangan. Ia bersaksi atas nama Britnita yang duduk di kursi pesakitan. Britnita dianggap terlibat karena menghadiri rapat penentuan perubahan anggaran menjadi 1,3 triliun tersebut. Dia dianggap mengetahui dan terlibat.

Selain Britnita. Yang duduk di kursi pesakitan lainnya adalah Mayang. Sesepuh Bidang Pertanian pengganti Khairul yang juga menjadi terdakwa dan disidang.

Mayang yang ketika itu menjadi staf Khairul menceritakan bahwa dirinya mendapat panggilan dari administrator balai sinuhun. Dengan alasan rapat mendadak. Tidak ada dalam jadwal rapat antara kedua instansi tersebut.

Siang itu, Mayang bergegas menuju balai sinuhun. Bersama Khairul yang ketika itu masih menjadi Sesepuh Bidang Pertanian. Ia bertemu Britnita di ruang lobi, sebelum tangga menuju lantai dua. Tempat ruangan Kanjeng Sinuhun.

Ruangan Kanjeng Sinuhun cukup luas. Selain kursi singgasana Kanjeng dan meja berukuran panjang dua meter, juga terdapat kursi sofa. Melingkar. Cukup untuk 6 orang. Belum lagi ada kursi-kursi tambahan. Kanjeng Sinuhun biasa menerima tamu penting di ruangan itu. Termasuk rapat-rapat penting dengan para ketua-ketua bidang. Sementara untuk rapat yang sifatnya umum, biasa digelar di ruang rapat. Ada dua ruang rapat di balai sinuhun itu.

Sebelum masuk ruang Kanjeng Sinuhun, terlebih dahulu melewati ruangan sekretaris. Tamu biasanya menunggu panggilan di ruang sekretaris itu. Namun, karena sudah ditunggu, Khairul, Britnita dan Mayang langsung dipersilakan masuk oleh sang sekretaris. Namanya Tata, perempuan muda berusia 25 tahun. Sudah bersuami, tapi belum dikaruniai momongan.

“Masuk saja pak, bu, langsung ya. Sudah ditunggu,” sapa Tata.

Tata memang sudah kenal dengan para pemangku kota. Karena sering mengadakan pertemuan di ruang rapat balai.

Saat masuk, di dalam ruangan sudah ada Sinuhun Usrif, Ucok dan Ayass. Sementara Kanjeng Sinuhun, masih terlihat sibuk di mejanya. Pekerjaan harian, menandatangani sejumlah berkas. Lima menit berselang, Kanjeng Sinuhun pun bergabung di sofa itu dan mulai perbincangan agak serius.

Kanjeng ketika itu menanyakan tentang lokasi lahan. Apakah pemangku kota ulin sudah punya lokasi yang dimaksud. Untuk perluasan lahan pertanian itu. Khairul menjawab ada beberapa lokasi yang sudah ditawarkan. Namun, masih belum memenuhi kriteria. Terutama terkait luasan lahannya. Kurang dari 1.000 hektare.

Pun begitu, lokasinya cukup sulit dijangkau. Juga sulit mendapatkan air yang cukup. Karena kebutuhan lahan pertanian, seyogianya juga dibarengi dengan ketersediaan air yang cukup.   

“Bagaimana dengan tawaran Sinuhun Ucok?,” tanya Kanjeng.

Sebelumnya memang, Ucok sudah pernah menawarkan tanah dengan kriteria yang dimaksud di Desa Titik Jauh. Luasnya lebih dari 1.000 hektare. Berdampingan dengan kawasan Hutan Lindung Kota Ulin. Cadangan air di kawasan itu juga diprediksi cukup memadai. Juga terdapat sungai kecil di antara area lahan tersebut.

“Oh yang itu, belum kami survei. Tapi harganya apa tidak terlalu tinggi?,” kata Khairul.

“Kalau soal harga itu kan tergantung NJOP-nya. Memang tawarannya tinggi, tapi sesuai dengan kebutuhan kita,” timpal Ucok.

Khairul, Mayang dan Britnita pun tertegun sejenak. Kemudian Khairul membahas soal anggaran. Bagaimana pun angka 250 miliar sudah tertuang dalam nota kesepahaman antara kepala Pemangku Kota dengan Kanjeng Sinuhun. Apa hal itu tidak menjadi masalah?!

Ucok terdiam. Pun begitu dengan Kanjeng Sinuhun. Sejurus kemudian Kanjeng melirik Sinuhun Usrif. Yang dilirik sudah paham. Usrif pun mulai berbicara.

Menurutnya, soal anggaran itu tergantung keputusan pemangku kota dan sinuhun. Artinya, yang hari itu berkumpul dan membahas program perluasan lahan pertanian dari dua unsur tersebut. Artinya juga, sudah bisa memutuskan jika ada perubahan anggaran. Minimal bisa menjadi rekomendasi untuk ditindaklanjuti.

“Yang punya anggaran itu kan kita. Disini juga ada Kanjeng Sinuhun sebagai stakeholder Kota Ulin. Sebagai pemegang keputusan, apakah alokasi anggaran itu disetujui atau tidak?. Penentunya kan disini!,” jelas Usrif.

Memang dalam kewenangannya, pemangku kota yang mengusulkan angaran dan program. Tapi, apakah anggaran dan program itu disetujui atau tidak menjadi peran dari sinuhun. “Ya, kalau Kanjeng Sinuhun menyetujui itu, artinya tidak ada masalah. Program pemangku kota pun bisa jalan”.

“Bagaimana dengan Sultan, kepala Pemangku Kota Ulin? Mungkin kita ajukan dulu,” tanya Khairul.

“Sultan harusnya setuju, programnya kan bisa berjalan. Bukannya yang paling penting itu kebutuhan masyarakat yang harus diutamakan?!,” jelas Usrif.

“Baik. Jadi bagaimana teknisnya?”—Khairul tampak masih ragu.

“Jadi begini, buat dulu rencana anggaran baru. Yang lama diubah. Nanti saya setujui. Sultan kan nanti tinggal tandatangan saja,” jawab Kanjeng Sinuhun.

Khairul mengangguk. Dia akan membahas dulu di internal timnya. Juga Britnita, ia akan segera melaporkan hasil rapat dadakan tersebut kepada Sesepuh Bidang Perencanaan Suryanata.

Setelah semuanya sepaham. Pertemuan itu pun selesai. Masing-masing pihak akan menindaklanjuti sesuai bidang dan kewenangannya. Namun, selama pertemuan itu, Sinuhun Ayass tidak banyak bicara. Hanya sesekali menimpali saja.

*****

Keesokan harinya, Mayang pergi keluar kota. Mengikuti seminar pertanian di Regional 2 Negeri Antahberantah. Ia berangkat seorang diri. Mayang memang dianggap ahli dalam bidang pertanian. Sekolahnya pun jurusan pertanian. Ia seorang insinyur pertanian. Jika ada seminar-seminar yang bersifat kajian dan hal-hal baru dalam bidang itu, sudah biasa Mayang lah yang ditunjuk untuk mengikuti kegiatan atau program baru itu.

Mayang pun belum membahas hasil pertemuan di ruangan Kanjeng Sinuhun dengan Khairul. Karena ia buru-buru pulang dan Khairul ada jadwal mendampingi Sultan untuk kegiatan olahraga off road.

Sore itu, Mayang merasa kelelahan. Badannya terasa berat untuk digerakkan. Kepalanya kunang-kunang. Subuh-subuh ia berangkat ke bandara. Naik pesawat hingga dua kali. Kemudian dilanjut dengan seminar marathon hingga sore. Ia pun mencoba memejamkan matanya, sore itu. Untung saja, hotel yang ia tempati cukup nyaman. Pemandangan sekitarnya pun indah. Berada di kawasan perbukitan.

Namun, Mayang belum mau buru-buru untuk menikmati kota wisata di Regional 2 itu. Masih ada pekerjaan rumah untuk membuat bahan presentasi besok pagi. Sore ini, ia coba istrahat sejenak. Rencananya habis Isya, baru akan menyiapkan bahan presentasi tersebut.

Bunyi telepon membangunkan tidurnya. Tak terasa sudah maghrib. Nama Khairul muncul di layar handphone-nya. Tertulis nama Bos 2—itu nama yang ia simpan untuk Khairul, sebagai atasannya di Bidang Pertanian. Ia pun menulis Bos 1 untuk nama Sultan, sebagai kepala Pemangku Kota.

“Hallo, iya pak?”…

“Dimana May?,”

“Masih diluar kota pak, ikut acara seminar pertanian”.

“Oh… Kapan balik?”.

“Lusa sepertinya pak, besok pagi saya giliran persentasi”.

“Begini, nanti kamu buatkan rencana perubahan anggaran ya. Yang kita bahas di balai sinuhun itu,”.

“Oh, saya kah pak? Bukannya biasanya bapak yang buat itu?,” tanya Mayang.

Biasanya untuk perencanaan strategis memang dikerjakan Sesepuh Bidang Pertanian. Harus selevel sesepuh. Mayang pun selama ini belum pernah diminta melakukan hal serupa. Namun, sebagai bawahan, Mayang harus patuh pada perintah atasannya itu.

“Ya, kamu buat saja lah ya. Nanti baru aku lihat. Solanya Kanjeng Sinuhun minta segera”.

“Siap pak”.

“Berapa lama? Minggu depan selesai ya,” pinta Khairul.

“Baik pak, saya upayakan”.

Setelah percakapan selesai. Mayang pun berpikir, bagaimana membuat perubahan rencana anggaran itu. Ia sama sekali tidak punya bayangan jika apa yang dia lakukan itu menjeratnya di pengadilan. BERSAMBUNG- baca selanjutnya; Sang Buronan. (ived18)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply