Mufakat Kanjeng Sinuhun (15): Membungkam Kaum Hermes

Suara itu penting. Jika tidak ada yang menyuarakan, tidak ada yang mengisahkan, maka bisa saja cerita itu hilang. Lenyap ditelan bumi. Jadi sekadar bisikan warung kopi yang tak berarti. Kaum Hermes adalah corong suara itu. Maka perlu juga untuk dikendalikan.  

———————– 

MUFAKAT KANJENG SINUHUNADMINISTRATOR Balai Sinuhun memanggil semua perwakilan media di Kota Ulin. Mereka meminta penawaran kerja sama publikasi program dan kegiatan balai sinuhun. Semua berkas CV perusahaan dilampirkan untuk persyaratan kelengkapan administrasi. Dari media kecil hingga besar. Semuanya diundang. Sudah disiapkan sejumlah anggaran untuk kerja sama tersebut.

Bahkan, muncul juga media-media baru. Di antaranya ada juga yang diminta langsung oleh Kanjeng Sinuhun. Antara lain melalui Ibra—ini sapaan panggungnya. Karena nama aslinya Sarimin. Ia dipangil Ibra karena penggemar berat pesepakbola Zlatan Ibrahimovic, asal Swedia. Koleksi pakaian Ibrahimovic pun tak terhitung. Dalam seminggu, ada saja pakaian bertuliskan Ibrahimovic yang ia pakai.

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

Di beberapa kesempatan, Sarimin ini sering pula mengenalkan diri dengan nama Ibra. Akhirnya keterusan. Orang-orang memanggil nama itu.

Ibra sebetulnya bukan Kaum Hermes. Ia tidak punya latarbelakang sebagai pembawa pesan. Dan tidak pernah pula bekerja secara profesional sebagai Kaum Hermes. Namun, ia dikenal aktif di berbagai kegiatan. Sering bertemu dengan para Hermes. Akhirnya akrab. Terutama untuk kegiatan faksi politik dan kepemudaan.

Belakangan Kaum Hermes kaget. Tiba-tiba banyak Hermes-Hermes baru yang sering keluyuran di Balai Sinuhun dan di kantor pemangku kota. Mereka beraktivitas layaknya sang pembawa pesan. Gaya berpakaiannya sama. Mereka juga menenteng kamera dan mengikuti sesi-sesi wawancara. Kendati jarang bertanya. Hanya ikut nimbrung bersama Hermes lainnya.

Suatu Hari, Ibra menghubungi Abe. Ngajak ketemuan. Kebetulan kenal. Abe adalah sosok yang mudah akrab dengan siapa saja. Ibra menawarkan Abe untuk membuat media online baru. Tak tanggung-tanggung tiga media sekaligus. Kebetulan mudah dan terjangkau membuat platform media online ini. Rupanya Ibra juga pusing mengelola banyak media. Tapi, sayang ada anggaran yang telah disiapkan. Lumayan bisa menambah penghasilan.

Abe belum mengiyakan. Ia ragu dengan tawaran Ibra. Yang katanya diminta langsung oleh Kanjeng Sinuhun. Bagi Abe, menjadi Kaum Hermes ini memiliki tanggungjawab besar. Ini sebuah profesi luhur. Kendati banyak orang yang memandang dengan mata sebelah. Ya, karena itu tadi; terlalu mudah untuk menjadi Kaum Hermes. Berbeda dengan Ibra yang tujuannya adalah penyerapan anggaran.

Tapi sebetulnya, tujuan Ibra bukan hanya itu. Ia mengemban misi dari Sinuhun Usrif. Tentunya atas persetujuan Kanjeng Sinuhun. Menurut Usrif. Selain mengendalikan Kaum Hermes dengan alokasi anggaran, juga untuk melakukan fungsi kontrol. Siapa saja Kaum Hermes yang “nakal”. Tetap mengangkat isu soal kasus perluasan lahan pertanian itu.

Lebih jauh, langkah ini disebut Usrif sebagai block within strategy—strategi memecah Kaum Hermes. Membuat blok yang pro dan kontra. Harapannya, Kaum Hermes yang masih getol mengangkat isu tersebut makin sedikit dan dikucilkan. Sinuhun Usrif memang jago membuat settingan seperti itu. Karenanya ia sering diajak diskusi oleh Kanjeng Sinuhun, sekaligus menjadi konsultan politiknya.

Pada praktiknya, dari puluhan media yang dirangkul, masih ada saja Kaum Hermes yang “nakal”. Berani mengupdate perkembangan kasus penyidikan. Salah satunya Usman. Ia berani memberitakan kasus proyek perluasan lahan pertanian di Desa Titik Jauh itu secara berkesinambungan. Selain Usman, ada beberapa Kaum Hermes lagi yang juga berani. Padahal mereka juga sudah mendapat jatah alokasi dana kerja sama di Balai Sinuhun.

Tapi sebagian besar tiarap. Termasuk Henry Natan dan Abe. Mereka lebih memilih jalan aman. Terutama agar dapur perusahaan media yang menaunginya dapat tercukupi kebutuhannya.

Suatu waktu, Usman menghadiri jumpa pers bersama Kepala Kantor Punggawa Militer Besar yang baru. Pengganti Waluyo. Kegiatan tersebut digelar di ruang VIP Bandara Kota Ulin. Semua Kaum Hermes dari berbagai media datang. Banyak. Hampir semuanya datang. Mahendra, kepala Punggawa Militer Besar itu ingin menjalin silaturahmi dengan Kaum Hermes. Pada awal masa tugasnya. Mereka dianggap bisa membantu tugas-tugas punggawa militer dalam melakukan penertiban dan keamanan warga.

Di penghujung acara, seperti biasa Kaum Hermes melakukan wawancara. Mereka membawa isunya masing-masing. Usman pun ikut dalam kerumunan itu. Setelah yang lain selesai wawancara, tibalah giliran Usman. Yang ditanyakan soal perkembangan kasus proyek perluasan lahan pertanian 1.000 hektare tersebut. Mahendra kaget. Ia masih pejabat baru. Dan belum tahu perkembangan kasus yang ditangani bawahannya.

Namun ketika itu, Mahendra mengaku berkomitmen bahwa kasus penggelemubungan dana yang menyangkut para petinggi Kota Ulin itu akan terus berlanjut. Usman pun lega. Ia sudah merekam semua percakapan itu. Yang penting adalah komitmen! Ya, komitmen. Hanya itu!!…pikir Usman. Soal caranya mau bagaimana, itu diserahkan instansi penegak hukum tersebut. Yang penting komitmen dulu. Komitmen sang pejabat di regional 4 itu.

Usman senang sekali mendapat statement penting itu. Langkahnya ringan meninggalkan ruang VIP Bandara Kota Ulin. Lalu bergegas menuju parkiran motor. Hasil wawancara tadi harus segera dituliskan. Jangan sampai kalah cepat dengan para Hermes lainnya.

Baru saja mengenakan helm, teleponnya berdering. Usman segera melihat siapa nama di balik suara telepon itu. Wow..Kanjeng Sinuhun. Ada apa Gerang?. Tumben-tumbenan telepon. Biasanya malah Usman yang sering menghubungi untuk keperluan sumber berita. Tak pikir panjang, Usman pun segera menerima panggilan itu.

“Man..tadi kamu wawancara apa?!,” tanya Kanjeng Sinuhun.

Tapi kali ini nada bicaranya agak beda dari biasanya—pikiran Usman mulai berputar. Bertanya-tanya. Apa maksud pertanyaan itu.

Aahhh…soal apa ya, Kanjeng?,” tanya Usman.

“Barusan itu lho! Wawancara dengan kepala Punggawa Militer Besar, soal perluasan lahan pertanian..”

“Mmm…Oh..oh”. Usman bingung mau jawab apa. Seperti dalam cerita seorang pencuri yang tertangkap basah. Lidahnya terasa kelu. Susah untuk digerakkan.  

“Siapa yang suruh kamu?,” timpal Kanjeng Sinuhun, lagi.

“Eehhh…ndak Kanjeng, tadi hanya ngobrol saja. Belum tayang kok,” Usman mencoba untuk berkilah.

“Alahh…aku punya videonya. Jangan ditayangkan ya!!,” ujar Kanjeng, kemudian menutup pembicaraan.

Usman pun hanya mampu menjawab; “Siap Kanjeng, Siap..”.

Tak berapa lama, Kanjeng Sinuhun mengirimkan video saat Usman mewawancarai Mahendra. Menggunakan alat perekam suara pula. Waduh… tambah kaget. Kok bisa dirinya sedang wawancara ada yang mengambil gambar dari belakang. Pun gambar itu diserahkan kepada Kanjeng Sinuhun. Hanya selang beberapa menit.

Usman mulai mencari-cari, siapa orang yang tadi berada di belakangnya. Ternyata banyak. Ada Kaum Hermes dan para aparat punggawa militer. Banyak pula yang tidak dikenalnya. Hahh…antara takut, khawatir dan kaget menjadi satu.

Usman pun kembali ke kantornya. Kemudian ia bercerita kepada rekannya sesama Kaum Hermes tentang kejadian tersebut. Rekan-rekan Usman pun kaget. Kok segitunya ya. Dalam sejarah mereka menjalankan profesi sebagai pembawa kabar, baru kali ini peristiwa seperti itu. Biasanya Kaum Hermes kompak jika menghadapi intimidasi dari pihak luar. Apalagi terkait dengan pekerjaannya.

Ah.. enggak mungkin rasanya jika itu dilakukan Kaum Hermes. Beberapa rekan Usman berpendapat demikian.

Memang pada saat itu, kata Usman, kemungkinan ada dua yang berpotensi melakukan itu. Pertama, Kaum Hermes dan kedua dilakukan oleh aparat punggawa militer. Tapi, Usman cenderung percaya jika video tersebut diambil oleh Kaum Hermes baru. Yang baru-baru muncul itu. Yang menjadi antek Kanjeng Sinuhun. Karena kalau orang-orang lama, rasanya tidak mungkin. Kendati di lapangan bersaing, namun mereka mengetahui etika profesi.

Sebetulnya peristiwa itu bukan kali pertama Usman ditegur. Ini sudah yang keduanya. Yang pertama ketika Usman berhasil mengambil gambar Sinuhun Usrif saat menghadiri pemanggilan penyidik punggawa militer. Dari jarak sekitar 10 meter. Ketika itu Sinuhun Usrif melihat dan melambaikan tangan. Bukan lambaian happy. Tapi lambaian penanda tidak setuju dengan pengambilan gambar itu. Lalu, Usrif menghampiri Usman. “Tolong ya dek, jangan difoto. Dihapus ya,” pintanya.

Namanya juga Usman. Anak muda yang baru lulus kuliah ini tetap keukeuh. Idealismenya berbisik. Lajuttt.. ini tugasmu sebagai Kaum Hermes. Foto dan berita tersebut tetap tayang. Keesokannya Kanjeng Sinuhun protes. Tapi percuma karena berita tersebut sudah menyebar kemana-mana. BERSAMBUNG- Baca selanjutnya; Persidangan. (ived18)

Saksikan video menarik berikut ini: