Melihat Ritual Laliq Ugal di Kampung Tukul

Hampir setiap tahunnya, masyarakat suku Dayak Bahau yang bermukim di Kampung Tukul, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat (Kubar) melaksanakan ritual Laliq Ugal. Memanggil roh-roh. Meminta kesuburan ladang yang baru saja ditanami.

Oleh: Y Samuel Laurens

KUBAR, nomorsatukaltim.com– Ini ritual adat suku Dayak Bahau yang turut temurun dilaksanakan. Dilakukan untuk memberikan kesuburan pada ladang yang baru saja ditanam. Sebab, umumnya masyarakat suku Dayak Bahau ini, kesehariannya adalah petani.

Ritual Laliq Ugal ini rangkaian besar ritual adat pasca tanam masyarakat. Meminta bantuan para roh-roh baik agar memberikan kesuburan pada ladang yang baru saja ditanam.

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

Sekretaris Adat Dayak Bahau Kampung Tukul, Avun, ketika ditemui akhir pekan lalu, memaparkan bahwa dulunya bentuk-bentuk roh itu cukup menakutkan. Namun demi kesuburan ladang apa boleh buat. Kemudian disiasati. Roh-roh yang dipanggil tadi, dipakaikan topeng dan ditutup daun pisang. Topeng ini yang kemudian kerap dinamakan Hudoq.

“Puncaknya, ritual ini adalah tari Hudoq. Dimana masyarakat Kampung Tukul berbondong-bondong berkumpul di Balai Adat Victor Syaharun (Lamin Adat di Kampung Tukul) menari Hudoq. Mulai dari yang muda sampai yang tua ikut menari bersama,” pungkas Avun kepada Disway-Nomor Satu Kaltim.

Memang Tari Hudoq ini tidak bisa sembarangan digelar. Karena tujuannya mendatangkan roh baik menolong tanaman masyarakat. Hanya bisa dilakukan setelah masa tanam. Jika dilaksanakan di luar momen tersebut, dipercaya akan mengalami kesialan atau keburukan.

“Memang ada beberapa penampilan Tari Hudoq di luar sana yang menyajikan sebagai kesenian, tapi khusus adat di tempat kami hanya boleh melaksanakan pada saat selesai menanam padi,” kata Avun.

Tahun 2020 ini, puncak ritual Laliq Ugal dilaksanakan pada Minggu (15/11/2020). Hampir semalam suntuk. Suasana balai adat ketika itu cukup ramai. Sejak dimulai sekira pukul 13.30 Wita, masyarakat satu per satu memadati tempat acara dan memulai tari Hudoq.

Memang tidak semua masyarakat Kampung Tukul yang hadir di lokasi acara menggunakan kostum ciri khas Hudoq. Ada yang menggunakan baju adat Dayak Bahau dengan aneka aksesoris dan pernak-pernik khas suku Dayak.

Meski tampil dengan kostum beragam, namun peserta tari Hudoq yang berkisar 100 orang itu, kompak menari mengitari  balai adat diiringi lantunan gong khas Dahak Bahau.

Fani, salah satu pemuda Kampung Tukul sangat bangga bisa mengikuti ritual Laliq Ugal ini kembali. Hampir tak pernah putus, ritual adat dan budaya suku Dayak Bahau ini diikutinya setiap tahun.

Ia memakai kostum yang dibuat dari daun pisang, menggunakan topeng ciri khas Tari Hudoq, menari bersama dan berbaur dengan masyarakat Kampung Tukul lainnya.

“Saya punya pengalaman magis mengikuti ritual ini. Pernah hampir 6 jam saya menari Hudoq, tapi sedikit pun tak merasa kelelahan,” papar Fani.

Padahal, Menurut Fani, menggunakan kostum Hudoq ini cukup panas. Belum lagi harus menari mengikuti irama berkeliling lamin. Jika dibayangkan, tentunya cukup melelahkan.

Ketertarikan Fani terhadap adat budaya Suku Dayak Bahau ini bukan tanpa alasan. Sudah sejak ia duduk di bangku SD, tari Hudoq ini sudah diikutinya.

“Dulu waktu masih kecil, karena belum punya topeng, saya ikut menari juga, tapi dengan kostum berbahan kardus,” kata pria ramah ini.

Tak banyak memang yang bisa ia berikan untuk menghormati para leluhurnya. Namun, dengan berpartisipasi dalam gelaran ritual tahunan ini dan terus melestarikan budaya Suku Dayak Bahau di Kampung Tukul, diharap bisa menjadi kontribusi besar melestarikan budaya Tari Hudoq di Provinsi Kalimantan Timur.

Martinus, kepala Adat Dayak Bahau Kampung Tukul berharap aset berharga adat Dayak Bahau ini terus dilestarikan, baik dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Meski Zaman sudah serba digital, jangan sampai budaya dari nenek moyang ini hilang.  (sam/dah)

Saksikan video menarik berikut ini: