Tanamkan Daya Juang Berwirausaha pada Perempuan

PPU, nomorsatukaltim.com – Siti Rukiyah berangkat dari rumah untuk menanam mangrove. Di wilayah pesisir Kelurahan Kampung Baru, Penajam Paser Utara (PPU). Hal itu menjadi rutinitasnya setiap hari selama hampir delapan tahun. Dia memang seorang pejuang perempuan pesisir di kabupaten termuda kedua di Kalimantan Timur (Kaltim) tersebut.

Kiprahnya yang sangat luar biasa itu dikisahkan lagi dalam webinar bertajuk Enlightening Moment Webinar Womanpreneur besutan PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) bersama Smart FM Balikpapan, Rabu (30/9). Yang mengusung tema Peran Serta Wirausahawan Perempuan Untuk Meningkatkan Ekonomi Masyarakat.

Webinar berdurasi dua jam yang dipandu Edy Ardian itu diikuti dengan antusias oleh puluhan para pelaku UMKM wanita baik di Balikpapan dan PPU Utara. Juga puluhan wartawan Kaltim. Semua keunggulan dan masalah dikupas tuntas.

Kepedulian terhadap lingkungan hidup di wilayah yang ditunjuk sebagai Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia masa depan itu tak diabaikan PHKT. Yang wilayah kerja utamanya memang di daerah berjuluk Benuo Taka itu.

Ruki menjadi salah satu penerima program Corporate Social Responsibility (CSR) anak perusahaan Pertamina Hulu Indonesia ini.

“Tahun 2012 saya dibawa oleh PHKT ke Jogjakarta dan Bogor. Untuk mengikuti pengolahan hasil mangrove. Saya dapat ilmunya dari situ,” kata perempuan yang karib disapa Ruki itu.

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

Sepulang dari sana, Ruki bersama Kelompok Usaha Wanita Bina Bersama membangun sebuah industri panganan khas. Yang berbahan dasar tumbuhan mangrove.

Produknya beragam. Ada sirup dan kue basah juga kering. Buah mangrove itu disulap menjadi tepung. Yang merupakan bahan dasar olehan beragam kue.

Berkat dukungan PHKT pula usahanya itu bisa berkembang. Produk cimi-cimi, amplang dan dodolnya sudah dipasarkan hingga ke luar daerah.

Begitu juga yang diterima Salbiyah, Ketua Koperasi Loa Putri Petung. Dia menjalankan usaha pusat oleh-oleh khas PPU.

Dua perempuan ini memang dihadirkan khusus dalam webinar kali ini. Kisah keduanya diyakini mampu menginspirasi banyak manusia lain. Itu tujuannya.

Bukan tanpa alasan tema perempuan itu diangkat. Bukan juga hanya karena emansipasi wanita. Tapi karena pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari kalangan perempuan di Indonesia terus bertambah.

ucapan pemkab mahulu

Riset Sasakawa Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) menyebutkan, persentase wirausaha yang dipegang perempuan di Indonesia mencapai 80 persen. Bila disandingkan dengan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah usaha mikro yang dikelola oleh perempuan tahun lalu mencapai 14 juta unit. Tahun ini, data International Finance Corporation (IFC) menyebut jumlahnya 30,6 juta unit.

PELUANG BESAR

Ketua IPMI Cabang Balikpapan, Emi Hasyimiah Alaydrus menuturkan, peluang itu sangat baik. Utamanya untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi skala nasional. Pengaruhnya, semakin banyak pengusaha, maka akan mempercepat peningkatan status Indonesia sebagai negara maju.

Kekuatan perempuan tak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan, menurut dia, merupakan sosok yang tangguh. Biasanya terbukti saat menghadapi tantangan di tengah krisis.

Meski begitu, pengusaha perempuan harus tetap bekerja sama. “Selain itu, penting pula para pelaku usaha wanita ini untuk terkumpul dalam satu wadah dalam pergerakan,” urai dia.

Hal itu berkaitan dengan membuka jejaring baik secara nasional maupun internasional. Juga sebagai peningkatan pola kerja sama. Yang sebelumnya offline menjadi online.

“Saat ini sudah berjalan. Dan yakin ke depan akan lebih berkembang. Persiapan yang harus dilakukan tentu dengan berbagai pelatihan,” sambung Emi.

Kendati demikian, tak sedikit UMKM yang dikelola perempuan belum mendapatkan perhatian serius. Ada berbagai kendala yang dihadapi: kurangnya akses permodalan, minimnya edukasi serta pemasaran. Termasuk kurangnya peluang yang sama dengan pelaku UMKM laki-laki.

Memang hal itulah yang sedang digali PHKT. Pada dasarnya banyak perempuan yang mengembangkan UMKM. Bahkan ada yang berhasil menciptakan lapangan kerja. Mereka pun digandeng oleh perusahaan tersebut. Namun, rangkul saja tidak cukup. Perlu ada dukungan yang lebih. Yang juga harus tepat sasaran. Apalagi selama pandemi COVID-19 jumlah pelaku usaha perempuan diperkirakan akan semakin meningkat.

Asisten Manager CSR PHKT, Dharma Saputra memastikan, PHKT akan lebih aktif dan produktif. Pihaknya memiliki tanggung jawab untuk pemberdayaan program wirausahawan perempuan. Dalam program Peningkatan Ekonomi Masyarakat (Pemas).

TUJUAN PHKT

Program CSR ini digelar di empat kabupaten dan kota di Kaltim. Ada beberapa tahapan dalam pelaksanaannya. “Salah satunya yang sedang berjalan ini. Studi pemetaan sosial dan pelibatan pemangku kepentingan. Sehingga bisa bersinergi,” kata Dharma.

Tujuan utama Pemas ini untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Dengan lebihbanyak menyerap kaum perempuan dan kelompok rentan dari masyarakat lokal. Lalu, meningkatkan gairah ekonomi lokal melalui industri rumah tangga.

Jalannya, melalui pemanfaatan sumber daya sesuai dengan kearifannya. Semisal pisan, singkong, jahe merah, kunyit, mengkudu, dan daun sirsak. Atau

hasil produksi tambak udang/ikan bandeng. Sebagai pemenuhan kebutuhan oleh-oleh khas daerah.

“Kami juga memiliki visi mewujudkan kemandirian masyarakat pesisir yang berdaya saing dan ramah lingkungan. Sedangkan salah satu misi kami yakni meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir, mendorong berkembangnya usaha ekonomi pesisir dengan memanfaatkan potensi lokal,” ungkapnya.

Selain meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pesisir, mereka juga memiliki tujuan untuk menjaga ekosistem pesisir.

Program yang dimulai sejak tahun 2015 itu masih berlanjut hingga saat ini. Turut mewujudkan Sustainable Developments Goals dalam kesetaraan gender melalui pembangunan dan pemberdayaan perempuan.

“Untuk mewujudkan itu semua, kami selalu adakan pelatihan. Guna meningkatkan kompetensi organisasi dan produksi,” sebutnya.

Lalu ada pendampingan kepengurusan sertifikasi produk yang diperlukan. Sehingga produk yang dihasilkan memiliki daya saing. Disambut dengan adanya pendampingan dalam pemasaran.

“Yang terpenting dampak yang dihasilkan ialah tertanamnya nilai kemandirian dan kemampuan menciptakan lapangan kerja,” tuntas Dharma. (rsy/qn)

Saksikan video menarik berikut ini: