Mufakat Kanjeng Sinuhun (13): Gelombang Aksi

Politik jalanan dengan pengerahan massa aksi, rupanya cukup ampuh dalam mendorong proses hukum berlanjut. Di Negeri Antahberantah ini, bukan barang baru jika kasus hukum tiba-tiba mandek. Apalagi jika menyangkut sinuhun atau para petinggi. Ya, hanya tekanan politiklah yang bisa menggulirkan itu. Langkah pertama dengan mengonsolidasikan mahasiswa.

——————- 

MUFAKAT KANJENG SINUHUNROMI benar-benar emosi. Ancaman yang dilakukan Sinuhun Usrif via telepon membuatnya tambah bersemangat. Itu juga membuktikan bahwa ada masalah dalam proyek perluasan lahan pertanian 1.000 hektare tersebut. Data penunjang pun sudah ia dapat dari Kaum Hermes. Ada kenaikan anggaran yang fantastis. Dari 250 miliar menjadi 3 triliun.

Mundur bukanlah pilihan bagi Romi. Apalagi ia lama digembleng di LSM Terang Benderang. Binaan Mr Bobot. Yang reputasinya sudah cukup diakui di Negeri Antahberantah ini. Membongkar kasus korupsi berjamaah. Apalagi setelah data itu diserahkan ke Mr Bobot, dan disimpulkan bahwa ada indikasi korupsi.

Mr Bobot pun menyarankan agar Romi terus memantau kasus ini. Termasuk melakukan supervisi hukum kepada para penyidik dan prosesnya di pengadilan.

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

Karena para punggawa militer besar sudah bergerak, maka langkah terpenting bagi Romi adalah mengawal prosesnya. Jangan sampai berhenti di tengah jalan. Indikasi ke arah itu sudah ada. Makanya ia akan melakukan pressure politik melalui aksi mahasiswa. Apalagi Romi dulunya juga aktivis kampus di Kota Ulin. Komunikasi dengan para kader dan adek tingkatnya masih terjalin baik.

Malam itu, Romi akan mendatangi sekretariat organisasi mahasiswa di kampus terkemuka di Kota Ulin. Ia sudah menghubungi Lina, salah seorang aktivis di kampus tersebut. Lina dan teman-temannya menyambut gembira kedatangan Romi. Yang juga senior di kalangan mereka. Cerita-cerita heroik Romi semasa mahasiswa dulu, sudah sering dibicarakan di antara para mahasiswa itu.

Sebelum berangkat, Romi pun kembali menghubungi Lina. Menanyakan apakah teman-teman aktivis kampus itu sudah pada berkumpul. Lina pun menyarankan agar Romi segera meluncur. Memang belum semua berkumpul, tapi setidaknya para pengurus inti organisasi itu sudah sedia.

Tak lama berselang, Romi pun tiba di lokasi. Ia membawa serta dua plastik gorengan. Kemudian kopi kemasan. Ia tahu betul karakter mahasiswa. Gorengan dan kopi bisa menjadi perangsang diskusi-diskusi mendalam. Tentang situasi nasional dan situasi lokal—khususnya yang terjadi di Kota Ulin ini.

Tidak sulit untuk menggerakkan aktivis mahasiswa itu. Apalagi ini isunya seksi. Korupsi yang dilakukan para petinggi Kota Ulin. Para sinuhun. Itu saja sudah cukup membakar semangat para aktivis mahasiswa. Tanpa embel-embel apa pun. Apalagi ini ada indikasi proses hukumnya mandek. Kemudian aktor intelektualnya belum terungkap ke publik. Dari sinuhun hanya Ucok saja yang dinyatakan tersangka.

Apakah hanya seorang? “Tidak mungkin. Untuk kasus seperti ini, pengalaman saya pasti melibatkan banyak pihak. Ini yang harus kita kawal,” jelas Romi.

ucapan pemkab mahulu

Semakin malam, tambah banyak aktivis organisasi tersebut berdatangan. Dari awalnya hanya 5 orang, dalam dua jam kemudian sudah lebih dari 15 orang yang ikut diskusi tersebut. Diskusinya makin gayeng hingga membuat rencana aksi demonstrasi.

Namun, Romi menyarankan agar menggandeng organisasi mahasiswa lainnya. Termasuk lintas kampus. Supaya bargaining posisinya makin kuat ketika beraksi. Para mahasiswa itu pun terbakar semangatnya. Mereka akan melakukan konsolidasi untuk merencanakan aksi demonstrasi berkelanjutan. Apalagi sasarannya adalah balai sinuhun. Sudah lama mereka memendam kekecewaan terhadap kinerja sinuhun.

*****

Pekan-pekan berikutnya. Gelombang aksi mahasiswa bergelora. Secara berkala. Ada aksi gabungan antara element mahasiswa, namun ada juga aksi sendiri-sendiri. Dilakukan masing-masing organisasi. Sasaran mereka tiga titik. Yakni kantor Pemangku Kota Ulin, Balai Sinuhun dan kantor Punggawa Militer Besar.

Isunya pun berkembang. Tidak hanya kasus korupsi perluasan lahan pertanian, tapi juga kasus korupsi lainnya yang selama ini proses hukumnya dinilai mandek. Isu berikutnya menyoal banjir yang masih menghantui warga Kota Ulin.   

Senin siang. Long march mahasiwa menuju Balai Sinuhun tampak lebih ramai dari biasanya. Kali ini adalah aksi gabungan. Edo adalah koordinator aksinya. Masih satu organisasi dengan Lina. Edo memang ketua dari organisasi ekstra kampus. Sementara Lina sekretarisnya. Keduanya berhasil mengajak element mahasiswa lain untuk bergabung. Termasuk organisasi intra kampus, yakni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari kampus-kampus di Kota Ulin.

Target mahasiswa itu bertemu dan dialog dengan Kanjeng Sinuhun. Sesampainya di depan balai, mereka menutup jalan. Mereka menggelar mimbar bebas di tengah jalan tersebut sampai Kanjeng Sinuhun mau menemui peserta aksi. Jalanan macet. Kendaraan yang melintas di jalur tersebut terpaksa dialihkan melalui jalan alternatif lainnya.

Personel Punggawa Militer Sektor Kota Ulin pun kalangkabut. Mereka terpaksa harus turun ke jalan. Mengatur dan menertibkan lalu lintas. Sementara massa aksi enggan beranjak. Mereka terus melakukan orasi.

“Kanjeng Sinuhun harus bertanggung jawab!!. Kasus korupsi proyek perluasan lahan pertanian harus dikawal. Jangan sampai rakyat sengsara karena ulah para sinuhun”—kata Edo dalam orasinya.  

Komandan Regu (Danru) Punggawa Militer yang mengawal aksi tersebut mendatangi massa aksi. Ia ditemui Lina dan Farhan—tim negosiator aksi. Kepada Farhan, Danru meminta agar massa aksi pindah ke pinggir jalan supaya lalu lintas kendaraan bisa berjalan normal. Namun, Farhan dan Lina tidak menggubris itu.

Sementara di Balai Sinuhun, Sobir dan sinuhun lainnya mencoba menghubungi Kanjeng Sinuhun. Karena massa aksi hanya mau ditemui oleh Kanjeng. Kepada Sobir, Kanjeng Sinuhun mengaku tengah berada di luar kota. Ia meminta agar Sobir dan para unsur pimpinan lainnya yang menemui.

“Bagaimana ini, Kanjeng tak bisa datang,” kata Sobir.

“Ya sudah biarkan saja. Biar punggawa militer nanti yang tertibkan. Mau bagaimana lagi?!,” timpal Sinuhun Agung.

Saat itu memang hanya 5 orang sinuhun saja yang ada di balai. Termasuk Mr S. Yang mulanya membocorkan kasus proyek perluasan lahan pertanian itu kepada Kaum Hermes. Namun, Mr S, Agung dan Sobir sepakat tidak mau menemui pedemo.  “Percuma juga, karena yang dicari Kanjeng Sinuhun,” kata Mr S.

Untuk kali kedua, Danru kembali meminta massa aksi untuk tidak menghalangi jalan. Namun, lagi-lagi mendapat penolakan. Massa mahasiswa tersebut tetap menutup jalan. Waktu menjelang sore, Danru pun mendapat perintah dari kepala Punggawa Militer Sektor agar aksi segera dibubarkan.

Akhirnya pasukan punggawa militer mendesak massa aksi. Terjadilah aksi dorong-dorongan. Bentrokan pun tak bisa dielakkan lagi. Teriakan dan jerit tangis histeris mewarnai Jalan Balai sore itu. Sebagian mahasiswa lari tungganglanggang. Tercatat 12 mahasiswa yang harus dibawa ke rumah sakit akibat terkena pentungan punggawa militer. Termasuk Lina yang tidak sempat menghindar dari amukan petugas.

Kepala Punggawa Militer Sektor mengaku bertanggungjawab atas aksi kekerasan yang terjadi. Namun, ia beralasan demi menjaga ketertiban umum. Bentuk tanggung jawabnya, semua mahasiswa yang mengalami kekerasan dan dirujuk ke rumah sakit, biayanya ditanggung punggawa milliter.

Peristiwa tersebut tidak membuat para mahasiswa jera. Konsolidasi politik mahasiswa dari kampus ke kampus kian massif. Mereka terus menerus melakukan aksi secara berkala. Menyuarakan kebobrokan pemerintah dan para sinuhun. Mereka menganggap para sinuhun sudah tidak amanah dalam menyuarakan kepentingan rakyat.

Kasus bentrokan punggawa militer dengan para mahasiswa itu tak hanya terjadi sekali dua kali. Beberapa aksi demonstrasi berujung bentrokan. Atau paling tidak aksi dorong-dorongan. BERSAMBUNG- Baca Mufakat Kanjeng Sinuhun selanjutnya: Pertemuan Itu. (ived18)

Saksikan video menarik berikut ini: