Ego Sektoral Masih Jadi Kendala

Menyusun Masa Depan Dunia Pariwisata Kaltim

Ego sektoral menjadi kendala utama pariwisata di Kaltim. Beberapa destinasi wisata merasa merekalah yang terbaik.

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Ada beberapa hal yang menjadi usulan tiap daerah di Kalimantan Timur (Kaltim) soal pariwisata. Hal itu terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD I) Kajian Potensi Pengembangan Destinasi Pariwisata Kaltim di meeting room, Hotel Mercure, Selasa (17/11/2020) lalu.

“Kita harus fokus di beberapa potensi, pada saat ini kita akan menjaring dulu,” jelas Asep Saepullah, sub koordinator Strategi Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Asep melanjutkan, ketika penjaringan sudah dikerjakan, tahap selanjutnya adalah analisis. Kemudian, pengajuan potensi daerah tersebut akan dilakukan oleh pihaknya.

Dijelaskan Asep, ada 3 aspek yang sangat penting dalam wisata. Yakni nature, culture, dan handmade. Di Kaltim sendiri, kata dia, lebih didominasi nature dan culture. “Di sini (Kaltim) kedua hal itu sangat luar biasa kaya,” pujinya.

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

Dalam diskusi itu pula ada beberapa keluhan yang menjadi perhatian. Yakni infrastruktur. Berdasarkan 3 indikator wisata, yaitu aksesibilitas, atraksi, dan amenitas, keluhan tersebut akan dianalisis kembali. Mapping pun akan dilakukan kepada stakeholder terkait. “Kita lihat potensinya, kita pasti bantu,” ucapnya.

Diskusi ini pun dikatakan Asep lagi baru mencapai tahap kedua. Asep membeberkan akan ada 5 tahap. Untuk tahap ketiga dan keempat akan dilakukan di daerah masing-masing. Kemudian tahap akhir akan dilaksanakan di pusat.

Mengenai kendala lainnya, Asep menuturkan ego sektoral menjadi kendala utama di Kaltim. Beberapa destinasi wisata merasa merekalah yang terbaik.

Ini cukup disayangkan Asep. Karena sinergitas belum terjalin. Dirinya memberikan contoh, seperti di Bali, yang dinilai memiliki keterkaitan satu sama lain. usaha mikro kecil menengah (UMKM) pun diharapkan bisa terlibat dalam hubungan tersebut.

Diterangkan Asep lagi, pentahelix di sektor wisata itu ada 5. Pemerintah, swasta, akademisi, wartawan dan komunitas. Semua hal itu harus bisa menjadi unsur yang terhubung. “Karena sekeras apapun kita berusaha, susah. Kita juga ada keterbatasan,” pungkasnya.

Pengamat Ekonomi Kaltim Purwadi memberikan komentar. Menurut Purwadi ego sektoral memang kerap terjadi. Khususnya di industri pariwisata.

ucapan pemkab mahulu

Purwadi menyatakan, kejadian tersebut bahkan sudah terjadi sejak lama. Dan hal ini terus berulang. Tak jarang pula penemuan solusi akhirnya menjadi molor karena konsentrasi terpecah.

“Perlu diketahui, alam kita yang indah ini punya banyak potensi. Konsentrasi itu perlu,” ucapnya saat dihubungi melalui telepon seluler, Rabu (18/11).

Dijelaskan Purwadi, pengalaman seperti ini tak hanya dialami Kaltim. Beberapa daerah lain di luar tanah Borneo pun juga sama. Walaupun nampaknya lebih terstruktur dalam penyelesaiannya.

Kata Purwadi lagi, potensi-potensi kecil untuk menunjang industri pariwisata juga perlu diperhatikan. Seperti beberapa tempat persinggahan antardestinasi.

Karena mencontoh dari perjalanan pariwisata di Jawa. Lokasi istirahat pun dijadikan objek wisata oleh masyarakat. Ini dilihat Purwadi bisa menjadi potensi yang cukup untuk menunjang pendapat asli daerah (PAD).

“Duduk bersama, mana yang perlu diprioritaskan, kemudian cari siapa yang bisa memimpin pasukan tersebut. Itu yang penting,” pungkasnya mengakhiri. (nad/eny)

Saksikan video menarik berikut ini: