Dua Pemanah Cantik Kaltim Menuju Sea Games 2021

Indri dan Phia telah selangkah maju dalam karier panahannya. Tahun depan, keduanya bakal membela panji Kaltim di PON XX Papua. Juga berpeluang membela Indonesia di ajang Sea Games. Sebulan usai PON. Indri awalnya adalah atlet atletik yang berputus asa. Sementara Phia sejak kecil adalah penari. Jalan mereka menuju Pelatnas panahan sungguh menggemaskan.

Farid Sholahuddin, Ahmad Agus Arifin (Samarinda)

Pertengahan Oktober lalu, Indri Purwati dan Rohani Sephia Ananda Hatta mengikuti seleksi Pelatnas panahan. Seleksinya daring, tapi memanahnya betulan. Indri memanah di Bumi Sempaja Samarinda. Mulai jam 12 siang. Pas panas-panasnya. Sewaktu angina sedang kencang-kencangnya. Agak sulit baginya, tapi pada akhirnya berhasil juga dia lewati skor minimum.

Sementara Phia memanah di Tenggarong. Pada pagi hari. Aksi keduanya disiarkan langsung melalui aplikasi Zoom. Dipantau beberapa orang di lokasi, dan beberapa lainnya di pusat.

Yang menarik, semua atlet yang mengikuti seleksi harus lebih dulu menjaminkan uang sebesar Rp 1 juta. Uang pribadi. Jika melewati batas skor minimum, uang kembali. Tapi belum tentu lolos seleksi. Karena masih adu skor dengan peserta lainnya. Kalau tak melewati skor minimum. Ya, uang hangus.

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

“Pertama kali saya ikut target harus lolos, tapi tidak terlalu maksakan diri, minimal uang pendaftaran bisa kembali.  Karena kalau nda lolos uang hangus. Dan saya tembus poinnya,” ungkap Indri.

Phia juga sama. Motivasinya adalah mendapatkan uangnya kembali. Ya, namanya juga sedang pandemi. Uang Rp 1 juta adalah nominal yang besar bagi mereka. Karena alasan ini lah banyak atlet di Kaltim ataupun daerah lain tak ambil bagian pada seleksi Pelatnas ini. Selain karena tak yakin melalui skor minimum karena lama libur latihan akibat pandemi.

Tapi hasil kerja keras Indri dan Phia tak mengkhianati. Keduanya tak hanya mendapatkan uangnya kembali. Tapi berhak lolos ke Pelatnas. Indri meraih 692 poin, sedangkan Phia 691. Batas minimalnya adalah 680. Indri bahkan lolos dengan poin tertinggi alias peringkat 1. Dan Phia, menjadi peringkat kedua. Mengagumkan.

Di Pelatnas yang diagendakan sampai September 2021 nanti. Indri dan Phia masih akan bersaing dengan atlet panahan terbaik Indonesia lainnya. Keduanya pun kukuh, target mereka adalah lolos ke Sea Games. Tidak boleh tidak.

Tahun 2021 secara otomatis akan jadi  tahun yang sibuk bagi Indri dan Phia. Karena mereka harus membagi fokus antara PON dan Sea Games.

“Ya secara pribadi maju aja, meskipun saya tahu itu bakal sulit. Artinya ada 2 jadwal yang mepet banget. Ya fokusnya pada Pelatnas Sea Games dulu ya. Duluan Sea Games (pemusatan latihannya) kan. Lagian akan diuntungkan banget dengan pemusatan latihan itu. Fasilitasnya lebih bagus harusnya,” lanjut Indri.

ucapan pemkab mahulu

Bicara target, Indri dan Phia berbeda hal. Indri langsung menyebut jika tahun depan, dia ingin medali emas PON dan Sea Games sekaligus. Sementara Phia yang memang sangat pemalu, ingin fokus ke Pelatnas dulu. Lolos di seleksi Pelatnas dulu. Kemudian berpikir untuk mencari medali Sea Games perdananya.

“Tapi kalau PON, emas lah,” gadis penyuka menu lalapan ikan nila itu tegas.

*

KARIER PANAHAN

kaltim
Indri awalnya adalah atlet atletik.

Indri mulanya adalah atlet atletik. Tapi langkahnya berat. Bertahun-tahun menempa diri, tak kunjung ia dapat kesempatan berkompetisi di kejuaraan bergengsi. Putri pasangan Sudarna dan Yaya Hasnawati itu akhirnya menyerah saat usianya memasuki 18 tahun.

Usia yang seharusnya Indri sudah menapaki karier atletiknya lebih serius. Sampai akhirnya ada bisik-bisik soal olahraga panahan. Indri mulai pikir-pikir. Meneruskan atletik, pindah ke panahan, atau berhenti menjadi atlet. Untuk menjalani hidup konvensional. Selayaknya wanita kebanyakan.

Wanita penyuka Rizky Febian itu akhirnya mantap. Tahun 2012, saat ia baru memasuki masa perkuliahan.

Setahun pertama di panahan tentulah berat. Lebih dari 3 bulan setiap hari Indri hanya menariki karet busur panah. Itu saja. Tidak boleh menembak. Jenuh sejenuh-jenuhnya. Sementara jadwal kuliah semakin padat.

Tapi dia tidak patah arang. Jadwal kuliah dan jadwal latihan dijalaninya secara disiplin. Agenda nongkrong? Boro-boro, belajar kelompok saja dia abaikan kalau berbenturan dengan jadwal latihan.

“Karena saya tahu belajar kelompok itu belajarnya sebentar saja, Mas. Banyak waktu terbuang. Jadi saya pilih latihan saja,” ujarnya.

Pilihannya terbilang sangat tepat. Lepas setahun, Indri sudah mengikuti kejuaraan pertamanya. Tidak main-main, kejuarannya langsung level internasional. Bermain di Malaysia. Setahun kemudian ia kembali ikut kejuaraan tingkat Asia.

Selain ulet, melejitnya karier Indri dikarenakan secara fisik, sudah terbentuk sewaktu jadi atlet atletik.

“Menurut saya lebih pada kematangan mental ya, tidak bergantung pada berapa lama orang itu menggelutinya. Kalau memang dia berlatih keras. Bisa cepat jadi. Jadi intinya pada mental ya idealnya itu,” jelasnya.

Walau pada dasarnya di panahan, Indri tak terburu-buru. Karena tak seperti cabor lain, panahan tak mengenal batasan usia. Segala umur tetap bisa ikut berbagai kejuaraan. Dari level lokal, nasional, sampai internasional.

Lain cerita dengan Phia. Anak pasangan Moh. Hatta dan Haniah ini sejak kecil adalah penari. Enam tahun lamanya ia geluti kegiatan itu. Beberapa kali sudah mentas. Walau hanya lokalan saja. Tampil di Tenggarong dan Samarinda.

kaltim
Di awal karier panahannya, Phia sempat menyerah. Beruntung dukungan sang ibu membuatnya mau bertahan.

Rekan ibunya akhirnya mengajak Phia untuk menggeluti panahan. Ibunya setuju, Phia manut. Karena dari dalam dirinya yang sayu itu, ada keinginan untuk membuat hal besar.

Tapi yang dialami Phia jauh dari ekspektasinya. Enam bulan dia hanya menarik karet busur. Benar-benar enam bulan, enam hari seminggu. Phia yang saat itu masih berumur 13 tahun sempat ingin menyerah.

Ia sudah utarakan niat keluar dari panahan. Tapi sang ibu makin keras berusaha. Setiap hari ibunya mengantar jemput Phia latihan. Kakaknya yang saat itu sebagai atlet juga turut menyemangati. Phia sekali lagi manut. Dan 8 tahun berlalu, dara 21 tahun itu sudah memastikan tempat di PON dan miliki peluang bermain di Sea Games.

*

BERLATIH SANGAT KERAS

kaltim
Kerja keras bertahun-tahun kini menuntun mereka ke jenjang yang jauh lebih tinggi.

Pagebluk yang memaksa aktivitas olahraga runyam berantakan. Membuat panahan juga melakukan penyesuaian. Tak ada lagi latihan bersama. Atlet hanya ditekankan untuk menjaga fisik saja.

Tapi Indri tak merubah ritme sama sekali. 6 hari seminggu, ia lepaskan sedikitnya 100 tembakan. Begitu terus. Tak berhenti. Phia pun sama. Maka ketika ada seleksi Pelatnas, keduanya jadi yang paling siap. Karena tak menurunkan tempo latihan itu.

Jika berlatih keras belum cukup menunjukkan keteguhan hati mereka untuk cabor ini. Harus diketahui jika atlet yang menyerahkan dirinya 100 persen pada olahraga seperti mereka. Telah membuang jauh kehidupan normal ala orang kebanyakan.

Tak ada nongkrong, senang-senang lainnya. Pagi hari berangkat ke arena latihan, berlatih hingga petang. Pulang, lelah, istirahat. Besoknya, diulang lagi. Selalu seperti itu.

Berkumpul dengan rekan sejawat hanya sesekali saja. Ya, 3 bulan sekali lah.

“Hari libur latihan saja saya biasanya jogging, Mas,” kata Indri.

Soal hiburan, keduanya punya selera serupa. Yakni membunuh waktu dengan menonton YouTube. Tahu apa yang mereka tonton? Video panahan. Jleb. Tidak bosan-bosannya.

Meski kehilangan masa remajanya, Indri tak sama sekali menyesali. Dari panahan, ia bisa menyelesaikan kuliah dengan biaya sendiri. Hal itu jadi kebangaan tersendiri buatnya. Walau harus kerap pergi ke kampus dengan mengenakan baju olahraga, yang tidak trendi itu. Indri tak mengapa.

“Prinsip saya, sekali saya nyemplung, saya harus basah sekalian. Gak mau naik, lalu terjun lagi. Harus total,” lanjut Indri. Yang bercita-cita ingin menjadi atlet panahan sampai tangannya tak mampu menarik busur lagi.

*

IMPIAN

Indri sangat kesemsem dengan Korea. Bukan karena Oppa-Oppanya. Bukan pula karena drakornya. Sesuatu yang tabu buat wanita yang tontonan kegemarannya adalah video panahan itu.

Di Korea, atlet panahan dibina lebih wow ketimbang negara lainnya. Di sana, atlet diharuskan menembak minimal 300 kali. Tiga kali lebih banyak dari standar di Indonesia.

“Tapi di sana latihannya di indoor, Mas. Lalu papan skornya bisa ditarik dengan alat khusus. Jadi ketika mau ambil anak panah gak perlu jalan jauh-jauh,” tutur penyuka makanan pecel itu.

Lalu sejak dini, atlet panahan di Korea dituntun dan dituntut menjadi atlet kelas dunia. Bukan lagi harus berprestasi di level nasional dan Asia saja. Di Indonesia bagaimana? Ah sudahlah.

Tapi Indri enggan membawa standar Korea itu di Indonesia. Menurutnya pola latihan saat ini sudah bagus bagi atlet Indonesia. Karena memang berbeda karakter. Termasuk soal fasilitas itu.

“Kalau kita dapat alat yang memudahkan latihannya tambah malas. Jadi memang sudah tepat metode kita sekarang ini,” tuturnya.

Suatu saat, Indri punya mimpi. Untuk bisa berlatih di Korea, ala Korea. Sedikitnya selama 6 bulan. Ia sangat ingin merasakan atmosfer latihan di Negeri Gingseng itu.

Sementara Phia punya impian berbeda. Ia memilih Amerika Serikat sebagai negara yang masuk daftar mimpinya. Ia memandang Amerika Serikat juga sangat serius mengembangkan olahraga panahan.

“Saya pengen ke Amerika. Latihan di sana. Dan bertemu atlet panahan idola saya, Toja Ellison,” ucapnya malu-malu.

*

TARGET KARIER

Beda usia beda selera. Tapi Indri dan Phia punya target yang sama. Yakni ingin sama-sama bermain di Olimpiade. Meraih medali emas di ajang paling bergengsi itu. Dan pensiun saat lengan sudah tak mampu menarik busur.

Tidak ada target usia untuk pensiun. Tak ingin juga meninggalkan panahan untuk menjalani pekerjaan lainnya. Menjadi mbak-mbak kantoran bukan sesuatu yang mereka impikan. Setidaknya untuk saat ini.

“Olimpiade. Seperti Mpok Yana pernah sampa di olimpiade. Jadi target tertinggi. Selama masih mampu memanah kami akan memanah,” tegas Indri yang diamini Phia.

Untuk pembinaan atlet di Kaltim. Mereka sudah merasa cukup puas dengan apa yang diberikan Pengprov Perpani Kaltim dan KONI Kaltim saat ini. Terlepas status mereka yang lama digantung. Tidak dimasukkan dalam daftar atlet PON. Sehingga sempat tidak menerima hak sebagai atlet PON.

Harapan jelas ingin agar KONI Kaltim, Perpani Kaltim, dan cabor lainnya. Mempertimbangkan TC di luar daerah, terutama luar negeri sebagai prioritas di masa mendatang. Sebagaimana Jatim dan daerah lain yang punya kultur olahraga hebat. Kerap mengirim atletnya berbulan-bulan ke luar negeri. Itu saja.

Indri dan Phia kini meminta doa semua orang di Kaltim. Agar impian bermain di Sea Games bisa terpenuhi. Bisa terus meninggi, membawa panji Kaltim dan Indonesia di negara jauh sana. (ava)

Saksikan video menarik berikut ini: