Mufakat Kanjeng Sinuhun (12): Justice Collabolator

Masa penangguhan berakhir. Para tersangka dari aparat Pemangku Kota Ulin mulai ditahan dan diproses di persidangan. Dari kalangan sinuhun, baru seorang yang ditahan. Punggawa Militer Besar terus mengembangkan kasusnya. Ada dua nama sinuhun yang disebut-sebut akan menjadi tersangka lagi. Ini berdasarkan nyanyian Sinuhun Ucok. Siapa-siapa saja sinuhun yang terlibat itu?

———————-

MUFAKAT KANJENG SINUHUNMASALAH, konflik, memang sangat akrab dengan kehidupan Sinuhun Ucok. Atau sebaliknya. Sinuhun Ucok lah yang bermasalah. Hobi membuat keributan, mengedepankan emosi dan ini; urat malunya sudah putus. Latarbelakangnya dibesarkan dalam kehidupan keras di sebuah pasar tradisional, yang membentuk karakter Ucok.

Ia bisa dibilang sang jagoan. Orang mengenalnya sebagai preman. Ya memang pergaulannya sehari-hari bersama para preman pasar itu. Termasuk sohib sekaligus tangan kanannya; Sagat. Tapi, Ucok termasuk preman yang hebat dan beruntung. Buktinya ia bisa menjadi sinuhun. Menjadi tokoh terpandang. Bisa memengaruhi dan mewarnai dalam setiap kebijakan pemangku kota. Teman-temannya loyal terhadap Ucok. Wajar, karena Ucok pun royal berbagi rezeki.  Apalagi setelah jadi sinuhun.

Sebelum ada kasus proyek perluasan lahan itu, Sinuhun Ucok sudah terlibat berbagai masalah. Ia kerap sekali terlihat menggandeng perempuan muda. Di tempat publik pula. Perempuan yang harusnya cocok menjadi anaknya sendiri. Padahal saat itu, Ucok sudah menjadi sinuhun. Harusnya menjadi panutan rakyat. Tapi nyatanya, ia bangga menunjukkan itu di depan publik. Baginya, hal itu menjadi rengrengan dari kesuksesannya.

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

Kasus yang menjeratnya pun karena urusan perempuan. Ucok dilaporkan karena telah menganiaya perempuan muda. Setengah dari usianya. Orangtua perempuan tersebut yang melaporkan. Tapi kini urusan itu sudah selesai. Ucok menjalani hukuman kurang dari satu tahun.

Belum juga puas menikmati udara segar di luar sel. Ucok harus kembali ke dalam tahanan. Lantaran proyek perluasan lahan pertanian itu. Hmmm.. Ini yang dinamakan nikmat membawa sengsara. Kebalikan dari tokoh Midun dalam sinetron Sengsara Membawa Nikmat—di angkat dari novel karya Sutan Sati.

Tapi kali ini, Ucok tak mau sendirian. Beban yang ia alami, harus juga dirasakan oleh rekan sejawatnya lain. Yang ikut terlibat dalam mark up anggaran perluasan lahan pertanian itu. Dalam sidang keduanya, Ucok mengakui jika dirinya sebagai pelaksana dan kurir. Ia juga yang membawa sejumlah uang yang diserahkan kepada sejawatnya di balai sinuhun. Ia menyebutkan beberapa nama, termasuk Kanjeng Sinuhun dan Usrif.

Menurut Ucok, sebagian uang itu ia serahkan sendiri. Sebagian ada yang ia titip melalui jasa ojek. Uang itu dimasukan dalam plastik berwarna hitam. Hal itu dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan jejak. Ucok juga menyebut keterlibatan sejawatnya Sinuhun Usrif. Kanjeng Sinuhun dan Sinuhun Usrif sempat beberapa kali disebutkan dalam persidangan itu.

Pada majelis hakim, Ucok mengakui bahwa dirinya menerima uang dari hasil markup itu. Tapi tidak semua. Hanya 100 miliar saja. Itupun ia bagikan kepada beberapa orang. Lalu sisanya yang 900 miliar lagi kemana?. Ucok mengaku tidak tahu. Karena sebagian uangnya diurus oleh Anita Rossy. Ia juga tidak punya bukti untuk menyebutkan keterlibatan orang lain yang berada di balik Anita Rossy itu. Karena tidak mungkin Anita Rossy berjalan sendiri. Ia hanya warga sipil yang tidak memiliki jabatan di Kota Ulin.    

Setelah selesai persidangan. Ucok meminta waktu ngobrol bersama pengacaranya Hamdan. Ucok dan Hamdan berbicara di ruang khusus di Pengadilan Tinggi Kota Ulin. Punggawa Militer Besar menyetujui. Mereka diberi waktu 15 menit untuk berbicara. Diawasi oleh empat orang petugas punggawa militer.

ucapan pemkab mahulu

“Begini. Bagaiamana kalau saya menjadi justice league?,” tanya Ucok kepada Hamdan.

“Apa itu?,” Hamdan mengerutkan Dahi. Ini istilah baru dalam kamus hukum yang ia pelajari.

“Itu lho. Kita bekerja sama dengan aparat penegak hukum. Saya akan beberkan semua yang terlibat?,” sebut Ucok..

“Oh, itu justice collaborator. Maksudnya itu…,” Hamdan terbahak sektika.

Tapi ia buru-buru sadar, setelah melihat sorot mata Ucok yang mendelik.

“Iya, itulah..!!”.  

“Itu yang kemarin saya sampaikan. Supaya nanti bisa dipertimbangkan untuk dapat keringanan hukum,” jelas Hamdan.

“Tapi ini benaran, kenapa?,” tanya Hamdan—mencoba meyakinkan maksudnya Ucok.

“Saya tidak mau dihantui seumur hidup,” jelasnya.

Selain itu, Ucok juga marah karena hanya dia yang diproses secara hukum. Sementara banyak koleganya yang menurutnya terlibat juga masih melenggang bebas.  

Akhirnya keduanya sepakat. Hamdan akan mengajukan kepada pihak penyidik bahwa kliennya siap bekerja sama dengan harapan menjadi catatan untuk dipertimbangkan keringanan hukumnya.  

****       

Keesokan harinya, Hamdan menyerahkan surat permohonan kliennya menjadi justice collaborator. Sekitar pukul 11.00 siang, ia menghadap penyidik di kantor Punggawa Militer Besar. Kendati kasus ini sudah disidangkan di pengadilan, namun masih ditangani penyidik Punggawa Militer Besar. Belum sepenuhnya dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU). Alasannya, karena masih ada yang harus didalami dari kasus ini. Dan kemungkinan akan ada tersangka baru.

Penyidik merespons baik permohonan itu. Namun, untuk menjadi justice collaborator tidak hanya sekadar bersedia membuka permufakatan jahat itu. Tapi juga harus mengembalikan uang yang merugikan negara yang diambil Ucok. Dari kasus penggelembungan dana itu, Ucok menilep uang senilai 100 miliar. Menurut pengakuannya, angka itu jauh lebih sedikit dari yang diterima Kanjeng Sinuhun. Setidaknya itulah yang disampaikan Ucok melalui Hamdan kepada penyidik.

 *****

Sehari setelah persidangan itu, nyanyian Ucok terdengar nyaring. Kaum Hermes girang menuliskan perkembangan terbaru itu. Tersebar kemana-mana. Hampir seluruh media memuat berita tersebut. Ini sesuatu yang besar. Menyeret nama tokoh besar di Kota Ulin; Kanjeng Sinuhun. Pun begitu indikasi keterlibatan sinuhun lainnya. Mereka mulai ramai mendatangi Balai Sinuhun. Mencoba mengonfirmasi tudingan yang dilemparkan Ucok.

Sementara itu, Kanjeng Sinuhun bersama Sinuhun Usrif dan Ayess mulai gundah gulana. Tak seperti biasanya Kanjeng Sinuhun sudah sampai di balai pada pukul 09.00. Biasanya datang antara pukul 10 hingga pukul 11 siang. Kanjeng pun langsung menuju ruangannya di balai. Tak lama kemudian disusul Sinuhun Usrif. Sekitar 30 menit berselang, muncul juga Ayess dan beberapa sinuhun lainnya. Mereka memasuki ruangan Kanjeng.

Ocehan Ucok terasa sangat mengganggu. Ini tidak boleh dibiarkan. Karena menyangkut marwah sinuhun yang harusnya menjadi kalangan terhormat. Jika ini terus dibiarkan maka bukan tidak mungkin akan terjadi delegitimasi terhadap sinuhun. Masyarakat tidak percaya lagi terhadap lembaga agung ini. Itu yang Kanjeng Sinuhun jelaskan kepada para koleganya di balai. Menyelamatkan nama sinuhun. Ini juga atas saran Sinuhun Usrif, agar isunya dialihkan ke penyelamatan nama sinuhun.

“Jadi begitu, semua harus kompak. Jangan terbawa oleh ocehan Ucok. Semua kan ada proses hukumnya. Kalau kita bersalah, kan ada penegak hukum yang melakukan penyelidikan. Jadi kita harus satu suara,” jelasnya.

Semua sinuhun yang hadir tampak sepaham. Hanya Mr S yang tak terlihat batang hidungnya. Memang sedari awal Mr S selalu memisahkan diri jika terkait pembahasan proyek perluasan lahan pertanian itu.

Setelah konsolidasi sekitar satu jam lamanya. Semua sinuhun yang hadir meninggalkan ruangan Kanjeng. Mereka menuju ke ruangan masing-masing dan sebagian kembali beraktivitas. Tinggal Sinuhun Usrif yang masih bertahan.

“Ucok ini, jika dibiarkan bisa berbahaya Kanjeng,” kata Usrif.

“Benar. Saya sudah memikirkan itu. Nanti saya akan coba konsultasi dengan Pak Waluyo. Mudah-mudahan ada jalan keluarnya”.

“Iya, tapi kan dia sudah pensiun ini?!,” tanya Usrif. “Pekan lalu dia pensiun. Penggantinya mungkin dalam waktu dekat ini,” tambahnya.

“Iya, tapi walau begitu, kasus ini ditangani pada zaman Pak Waluyo, sejak awal. Dan saya yakin beliau masih ada pengaruhnya,” jelas Kanjeng.

Usrif mengangguk. Kemudian pamit meninggalkan ruangan. Langkahnya cepat menuruni tangga kemudian langsung menuju parkiran. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Kaum Hermes menahannya. Mereka mengerubungi Usrif. Ya..apa boleh buat. Seketika ia berpikir jawaban apa yang akan disampaikan ketika ditanya soal ocehan Ucok. Oh iya.. pokoknya jangan masuk ke materi yang sedang ramai itu.  

“Bapak kemarin disebut namanya di persidangan, apa tanggapannya?,” kata Usman, pewarta yang biasa mangkal di Balai Sinuhun. Ketika itu, Henry Natan dan Abe tak terlihat di lokasi. Keduanya tengah sibuk mendalami kasus di Pengadilan Tinggi.

Usman adalah wartawan muda yang energik. Semengat dalam menggali isu-isu menarik. Apalagi soal politik. Usman bahkan sempat mengabadikan Sinuhun Usrif dari jauh ketika dipanggil penyidik Punggawa Militer Besar. Foto tersebut sempat diunggah di media progresif yang menaungi Usman. Usrif sempat protes atas foto itu. Baginya interpretasi masyarakat akan berbeda jika melihat foto tersebut. Padahal pemanggilan dirinya hanya sebagai saksi. Bukan tersangka.

“Begini dek, sepertinya Sinuhun Ucok itu punya dendam pribadi sama saya. Makanya dia menyudutkan saya dipersidangan. Ini murni soal balas dendam,” jelasnya. Sambil perlahan melangkahkan kakinya menuju parkiran.

Usrif merasa tidak nyaman. Ia harus segera pergi meninggalkan Kaum Hermes. Tapi harus dengan cara yang luwes. Tahu sendiri, jika Kaum Hermes tersinggung. Bisa-bisa ia jadi bahan objek pemberitaan negatif. Aksinya berhasil. Ia bisa menghindari pertanyaan menohok dengan pengalihan isu.

Kini tinggal Kanjeng Sinuhun. Ia juga terlihat menuruni tangga balai. Kerumunan berpindah. Kaum Hermes pun langsung mengerubunginya. Kanjeng Sinuhun sudah tahu. Ia tetap bersikap tenang. Tanpa menampilkan mimik yang khawatir atau pun marah.

Tanpa ditanya, Kanjeng Sinuhun menjelaskan bahwa dirinya sudah dipanggil beberapa kali oleh penyidik Punggawa Militer sebagai saksi. Dirinya sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dibutuhkan. Kini, posisinya semua diserahkan kepada penyidik. Mereka yang menilai apakah dirinya bisa naik jadi tersangka atau tidak.

“Saya sudah bersikap terbuka dan bekerja sama. Kita hargai proses hukum. Biarkan penyidik bekerja. Jangan juga dianalisa dan distigmatisasi ini dan itu ya.. Begitu ya,” jelasnya, menutup pembicaraan. BERSAMBUNG- Baca selanjutanya; Gelombang Aksi. (ived18).

Saksikan video menarik berikut ini: