Mufakat Kanjeng Sinuhun (11): Penangguhan

Mengetahui empat bawahnnya ditetapkan sebagai tersangka, Sultan, kepala Pemangku Kota Ulin ikut gusar. Ia masih tidak percaya jika bawahannya terlibat aktif dalam kasus tersebut. Tidak mungkin… Tidak mungkin. Ini pasti rencana para sinuhun.

————-

MUFAKAT KANJENG SINUHUNMAKAN malam kali itu terasa hambar bagi Tari. Rasanya kurang lengkap. Padahal, anak dan cucu-cucunya tengah berkumpul. Tak biasanya Sultan absen pada jam makan malam. Itulah waktu yang ia sempatkan untuk berkomunikasi dengan keluarga. Utamanya dengan Tari, sebagai istri, yang sudah mendampinginya berpuluh tahun. Di tengah kesibukannya sebagai pejabat publik.

Pagi hingga sore, Sultan biasanya sudah sibuk dengan aktivitasnya memimpin Kota Ulin. Kadang, lanjut lagi malam. Bahkan hingga larut. Begitu seterusnya. Hampir tak ada libur bagi keluarga itu. Apalagi liburan. Hanya jam makan malam ini yang biasanya tak terlewatkan. Sultan memang berkomitmen untuk meluangkan waktu pada jam itu. Apalagi jika cucu-cucunya pada datang. Itulah momen berharga bagi keluarga Sultan.

Tak biasa juga Sultan absen bermain bersama cucu-cucunya. Yang lagi lucu-lucunya itu. Cucu pertama dari anak pertamanya itu sudah mulai pintar bicara. Semua ia tanyakan pada sang kakek. Laki-laki, usianya sudah empat tahun. Cucu keduanya perempuan. Itu baru belajar jalan. Badannya montok dan menggemaskan.

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

Namun, Tari tak mau ambil pusing. Ia mengajak anak dan cucu-cucunya untuk melanjutkan makan malam tanpa harus menunggu Sultan. Anak-anaknya pun tak mau bertanya lebih jauh. Mereka sudah mafhum, sang ayah sangat sibuk. Urusan rakyat dan Kota Ulin hampir tak ada habisnya. Begitulah pejabat publik.   

Tak jauh dari tempat itu. Sultan berada di ruang tamu. Persis di samping rumah dinasnya itu. Ia masih ngobrol dengan dua orang bawahannya. Yang satu tampak sudah tak asing. Hampir setiap hari bersama Sultan. Dialah Agus. Bukan aparat pemangku kota bawahan Sultan. Tapi teman yang setia. Kemana ada Sultan, disitu pun biasanya Agus hadir. Agus yang seorang pengusaha itu, juga sering dimintai pertimbangan terhadap berbagai kebijakan. Setidaknya second opinion dari pandangan orang luar.

Seorang lagi adalah Syamsuddin. Ia adalah Sesepuh Bidang Hukum Pemangku Kota Ulin. Syamsuddin lah yang biasanya memberikan pertimbangan hukum kepada Sultan. Pun begitu terkait dengan kerja sama dengan pihak luar. Sesepuh Bidang Hukum lah yang memberi pertimbangan itu.

Namun, di Kota Ulin kadang kala hukum bisa dikalahkan dengan politik. Rakyat boleh takut dengan penegak hukum, tapi urusan politik, eitt..nanti dulu.

Karena hukum juga hasil dari produk politik. Hasil kompromi para elit politik yang dikolompokan dalam faksi-faksi itu. Kepala Pemangku Kota seperti Sultan bahkan para sinuhun, juga produk politik.

Syamsuddin sebetulnya sudah memberikan pertimbangan hukum dalam kasus perluasan lahan pertanian itu. Namun, ia tidak punya kewenangan untuk memutuskan lebih jauh. Samsyuddin juga pernah dipanggil Punggawa Militer Besar. Hanya sekali. Ia dimintai keterangan sebagai Sesepuh Bidang Hukum terkait kasus dugaan penggelembungan dana pada pengadaan lahan 1.000 hektare tersebut. Namun, ia lolos dari status tersangka.

ucapan pemkab mahulu

Sementara Sultan juga tetap harus mempertimbangkan peta politik dalam kebijakannya. Karena apapun program yang akan dilakukan, tak bisa berjalan tanpa adanya dukungan dari para sinuhun. Sementara proyek perluasan lahan pertanian ini dianggap mendesak. Ini soal kebutuhan pangan masyarakat. Juga kaitannya dengan tingginya biaya hidup di Kota Ulin. Artinya harus segera dilakukan agar biaya hidup masyarakat tidak terlampau tinggi. Ujung-ujungnya adalah kesejahteraan.

Jika mengandalkan pasokan bahan pangan dari daerah sebelah. Ketergantungan. Sering kali berpengaruh terhadap harga. Apalagi dengan banyaknya pengepul nakal. Mereka dengan seenaknya memainkan harga-harga itu. Pemangku Kota tidak berdaya. Hukum pasar yang berlaku.

Kini tidak ada acara lain, selain memperluas lahan pertanian. Dengan begitu, bisa juga mengontrol harga-harga di pasaran.

Sultan pun tak luput dari panggilan penyidik. Sudah dua kali ia dipanggil. Dikonfrontir dengan saksi-saksi lainnya. Namun secara teknis, Sultan menyampaikan tidak mengetahui itu. Ia mempercayakan semuanya kepada bawahannya dan para sinuhun yang mengawasi kegiatan teknis.

Apakah Sultan tahu adanya kenaikan harga tersebut?. Jawabannya “Iya”. Tapi bagi Sultan, jika memang pertimbangan secara teknis mengharuskan adanya penambahan anggaran, tak masalah. Asalkan memang sesuai saja. Karena dianggap menyetujui itulah Sultan akhirnya dipanggil sebagai saksi.

Lalu bagaimana dengan bawahannya. Yang sudah ditetapkan tersangka?. Itulah yang dibicarakan Sultan dengan Syamsuddin dan Agus. Sultan mencoba mengusung pandangan praduga tak bersalah. Sebagai seorang pemimpin, rasanya ia perlu juga membantu bawahannya. Utamanya jika nanti ada yang terbukti tidak bersalah.

“Sulitnya kan begini, jika tidak kita setujui ada kenaikan itu, nanti diboikot. Makanya ya kita setujui,” kata Sultan.

Yang ia maksud adalah para sinuhun. Mereka yang tugasnya menyetujui anggaran. Kalau tidak disetujui, program pemangku kota tentu tidak bisa berjalan. Satu-satunya cara harus menjalin komunikasi yang baik antara dengan para sinuhun itu.

Perbincangan pun terhenti sejenak. Sultan mempersilakan Syamsuddin dan Agus untuk meminum teh yang sudah disediakan. Rasanya sudah lain. Teh yang disajikan sejam lalu sudah terasa dingin di lidah. Maklum, sejak maghrib kedatangan Agus dan Syamsuddin, obrolannya langsung level atas. Ibarat perseneling, langsung tancap gigi empat. Tidak melalui tahapan 1, 2 dan 3.  

 “Bisa tidak jika pegawai itu mendapat bantuan hukum?,” kata Agus, tiba-tiba menyela pembicaraan. Sambil mulai mengenakan jaket hitamnya yang sedari awal disandarkan di pegangan sofa.

Kian malam, kondisi ruangan ber-AC itu semakin dingin. Bagi Agus dengan lemak tubuhnya yang sedikit, sangat terasa dingin sekali. Padahal Syamsuddin dan Sultan belum mengeluhkan soal itu.  

“Harusnya bisa,” jawab Syamsuddin.

“Masa masyarakat saja yang dapat bantuan hukum. Aparat pemangku kota juga harus mendapat perlakuan yang sama,” lanjutnya.

“Nah ini”—Sultan mengubah posisi duduknya. “Bisa segera dilakukan. Kalau perlu undang konsultan hukum dan pengacara ternama. Bisa dibentuk timnya?”.

“Baik Pak, besok coba saya kontak konsultan hukum sekaligus pengacara untuk bantuan hukumnya,” jawab Syamsuddin.

“Segera! Kalau bisa dalam dua hari ini sudah terbentuk timnya,” pinta Sultan.

“Baik, saya upayakan, Pak”.

“Aku coba hubungi Pak Waluyo, minta penangguhan penahanan. Semalam dia hubungi saya, soalnya. Mengabarkan siapa saja yang jadi tersangka”.  

Sultan berdiri. Kemudian masuk ke ruang kerjanya. Tak berapa lama, kembali dengan memegang handphone. Lalu Sultan menghubungi Waluyo. Ia memohon agar Punggawa Militer Besar menunda dulu penahanan bawahannya itu. Masih ada waktu 60 hari penundaan sambil pemangku kota menyusun tim bantuan hukumnya. Sultan menjamin bahwa bawahannya tidak akan ada yang melarikan diri dan bersikap kooperatif.

*****

Keesokan harinya. Sultan diburu Kaum Hermes. Mereka ingin menanyakan perihal status tersangka empat aparat pemangku kota itu. Sebenarnya Sultan ingin menghindar. Menahan diri untuk tidak keluar ruangannya. Namun, Kaum Hermes sudah menunggunya di depan pintu ruangan. Mereka duduk lesehan persis disamping-samping pintu itu. Mereka tahu bahwa Sultan ada di dalam ruangan. Identifikasinya mudah. Mobil dinasnya masih terparkir. Sang ajudan juga masih terlihat lalu lalang di lobi kantor pemangku kota.

Sultan keluar ruangannya. Brakkk…Pintu ruangan itu tertutup sendiri dengan keras. Sultan tak sempat menahannya, ia keburu kaget, melihat Kaum Hermes yang sudah menantinya. Pintu tersebut memang didesain seperti itu, jika dibuka akan menutup sendiri. Sengaja, karena banyak tamu yang lupa menutup pintu ruangan. Sementara ruangan itu ber-AC. Sehingga mudah rusak. Beberapa kali pemangku kota harus memperbaiki alat pendingan di ruangan tersebut. 

“Aduh. Ada apa ini, tidak jual sembako disini,” seloroh Sultan. Masih bisa bercanda seperti biasanya. Para Hermes pun tertawa mendengar ucapan itu.

Abe dan Henry Natan ada bersama rombongan Kaum Hermes. Mereka langsung mencecar dengan pertanyaan soal nama-nama tersangka yang sudah diumumkan Punggawa Militer Besar. Sehari sebelumnya.

Dengan santai Sultan menyampaikan bahwa Pemangku Kota akan mengikuti semua proses hukum yang berlaku. Namun, sebagai pimpinan, ia tetap akan mengedepankan praduga tak bersalah. Karenanya ia sudah meminta penangguhan penahanan dan akan menyiapkan tim bantuan hukum kepada bawahannya yang terjerat kasus tersebut.

Mendengar jawaban itu, para jurnalis tersebut langsung “beringas” menghujani Sultan dengan pertanyaan susulan. Kenapa seorang kepala pemangku kota malah mengajukan penangguhan penahanan? Kenapa pula sibuk menyiapkan bantuan hukum? Kenapa tidak diserahkan saja kepada penegak hukum yang ada untuk memprosesnya. Ini kan kasus korupsi.

Nalar Kaum Hermes mulai bermain. Jangan-jangan pemangku kota juga terlibat. Sampai-sampai lembaga pemerintah itu turun tangan untuk membantu bawahannya yang sudah ditetapkan tersangka. Gawat…ini.

“Iya kan baru tersangka. Tapi, nanti dibuktikan di pengadilan kan? Mereka juga rakyat kita seperti kalian,” kata Sultan, sambil berjalan menuruni tangga.

Kaum Hermes belum puas. Tetap menghadang di depan. Sambil berjalan mundur. Sebagian lainnya mengiringi di samping dan belakang Sultan.

“Pak, kemarin kan dipanggil juga ya,” tanya Henry Natan.

“Iya, sudah dua kali”.

“Apa saja yang ditanyakan?” Henry coba untuk memancing dengan pertanyaan. Namun Sultan tak mau terperangkap. Sudah lama ia mengenal Kaum Hermes. Menjebak dengan pertanyaan-pertanyaan. Kali ini tidak akan terjadi. Ia coba ubah fokusnya.

“Aduh..lupa ya apa saja yang ditanyakan,” selorohnya.

“Masa lupa, Pak?”.

“Ya, namanya lupa, mau diapain?,” jawabnya sambil berlalu. BERSAMBUNG- Baca Mufakat Kanjeng Sinuhun berikutnya; Justice Collabolator. (ived18)

Saksikan video menarik berikut ini: