Masa Depan Industri Kendaraan Listrik

Jakarta, nomorsatukaltim.com – Dikutip dari Antara, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen untuk mendorong investasi sektor pengembangan baterai. Guna mewujudkan rencana menjadi pemain yang kompetitif. Dalam industri kendaraan listrik (electric vehicle).

Direktur Industri Logam Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Budi Susanto mengatakan, investasi di sektor baterai merupakan langkah strategis. Yang dapat membantu mewujudkan Indonesia sebagai salah satu pemain utama. Dalam sektor industri kendaraan listrik.

Kata dia, kemampuan penguasaan teknologi baterai merupakan keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Selain itu, RI memiliki sumber bahan baku penyusun baterai lithium. Seperti nikel, cobalt, mangan, alumunium dan ferrum yang cukup melimpah.

“(Ini) merupakan kunci utama bagi Indonesia untuk menciptakan keunggulan yang kompetitif dibandingkan dengan negara-negara produsen kendaraan listrik lainnya,” papar Budi dalam siaran pers di Jakarta, Senin (9/11).

Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin, Taufiek Bawazier menyatakan, usia baterai listrik bisa mencapai 10-15 tahun. Artinya, sepuluh tahun ke depan perlu dipersiapkan fasilitas daur ulang (recycling). Untuk memperoleh nilai tambah baru. Berupa material seperti lithium, nikel, cobalt, mangan dan copper.

Selain itu, menurut Taufiek, penguasaan teknologi recycling perlu dipikirkan dari sekarang. Seperti hydrometalurgi. Juga penggunaan teknologi AI dan robotik. Termasuk skill baru dalam pemrosesan baterai listrik.

Baterai listrik terdiri dari cell, modul dan pack yang masing-masing diikat kuat oleh perekat yang membutuhkan keahlian khusus. Pasalnya, prasarat safety dan treatment baterai listrik berbeda dengan treatment baterai non-lithium.

“Setiap cell atau modul, dan pack berbeda bentuk. Ada yang silinder atau prismatik. Semuanya berbeda tipe di setiap mobil listrik,” tuturnya.

Dengan demikian, mengingat kompleksitas proses daur ulang baterai listrik, diperlukan penggunaan teknologi modern dalam proses tersebut.

“AI dan robotik menjadi diperlukan untuk mengurangi kesalahan. Dalam proses daur ulang. Sehingga potensi kecelakaan menjadi berkurang,” ujarnya.

Selain itu, menurut Taufiek, proses daur ulang dapat meningkatkan pemanfaatan material. Baik lithium maupun mangan. Yang berupa carbonat dan nikel serta cobalt. Berupa sulfat yang dapat diperoleh dengan maksimal. Sehingga proses circular ekonominya mencapai titik optimal.

“Namun demikian, yang terpenting adalah mobil listrik dan baterai listrik dapat diproduksi di dalam negeri. Investasi ke arah sana tentunya dipersiapkan untuk membuka tenaga kerja. Dengan skill yang baru. Dan meningkatkan hilirisasi sumber daya alam nasional. Berupa nikel, cobalt, maupun mangan,” tegasnya.

MOTOR LISTRIK

Kemenperin kian serius mendorong pengembangan kendaraan berbasis listrik. Guna mendukung upaya pengurangan emisi karbon, memberikan peluang baru hilirisasi sumber daya alam, serta penguatan teknologi artificial intelligent (AI) dan robotik. Dalam menopang produktivitas industri nasional pada masa depan.

Taufiek menyampaikan, pemerintah terus memacu penerapan teknologi dan peningkatan investasi di sektor otomotif nasional. Termasuk mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik roda dua, tiga, serta roda empat atau lebih. Yang berbasis baterai listrik maupun mild hybrid dan strong hybrid.

“Saat ini, kami telah merampungkan regulasi terkait peta jalan kendaraan listrik berbasis baterai listrik yang merupakan turunan Perpres 55/2019,” ujarnya di Jakarta, Senin (9/11).

Taufiek menjelaskan, potensi pengembangan kendaraan listrik juga membuka prospek bisnis baru. Seperti pengembangan kendaraan jenis internal combustion engine (ICE). Yang saat ini masih memberikan kontribusi hingga 99 persen terhadap PDB industri otomotif nasional.

“Pada tahun 2025 nanti ditargetkan sebesar 20 persen. Produksi otomotif nasional adalah kendaraan listrik seperti hybridplug in hybrid, dan mobil EV berbasis baterai,” ujarnya.

Menurut dia, pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai sejalan dengan animo investasi baterai listrik dan kendaraan listrik yang semakin meningkat di Indonesia.

Pasalnya, bahan baku nikel, cobalt dan mangan cukup melimpah di Tanah Air. Yang bisa menjadi tulang punggung. Dalam upaya pengembangan kendaraan listrik.

Selain itu, pendalaman struktur industri kendaraan listrik telah dipersyaratkan nilai tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) hingga tahun 2030. Dengan program incompletely knock down (IKD) atau completely knock down (CKD). Dipacu untuk mendapatkan nilai tambah yang maksimal di dalam negeri. “Secara bertahap kita menguasai baterai listrik dan produksi kendaraan listrik di dalam negeri,” kata Taufiek.

Plt Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin, Restu Yuni Widayati menambahkan, industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai dapat dimulai dari industri sepeda motor listrik.

Hal ini didukung oleh nilai investasi awal yang relatif rendah dengan tenaga kerja yang minimal, serta pangsa pasar produk sepeda motor listrik di Indonesia relatif cukup besar. Karena produk sepeda motor listrik mampu bersaing dengan produk sepeda motor konvensional dari sisi total cost of ownership.

Saat ini, telah terdapat 15 industri perakitan sepeda motor listrik yang telah mendapatkan nomor identifikasi kendaraan (NIK) dari Kemenperin. Sebagai salah satu syarat suatu perusahaan dapat memproduksi kendaraan bermotor. Dengan kapasitas produksi sepeda motor listrik sebesar 877 ribu unit per tahun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 1.429 orang.

“Sedikit berbeda dengan industri roda empat atau lebih yang membutuhkan investasi awal yang cukup besar dan tenaga kerja yang cukup banyak. Sehingga sampai saat ini hanya PT Mobil Anak Bangsa (MAB) yang telah memiliki fasilitas produksi bus listrik di Indonesia. Dengan kapasitas produksi 100 unit per bulan atau 1.200 unit per tahun,” katanya.

Restu menjelaskan, pengembangan kendaraan listrik di Indonesia selain bertujuan untuk mendukung pencapaian target pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 persen pada 2030, juga akan mampu menarik investasi di sektor industri komponen dan lainnya. (antara/qn)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply