Waduh, Bus Samarinda-Melak Sudah Stop Operasi 9 Bulan Lamanya

Kubar, nomorsatukaltim.com – Selama pandemi COVID-19, angkutan umum regular (Bus) rute Melak, Kabupaten Kutai Barat (Kubar) ke Kota Samarinda dan sebaliknya, tutup total.

Banyak warga mengeluh, tidak ada lagi angkutan umum  murah meriah, lantaran bus lintas kabupaten/kota tersebut tidak narik.

“Sangat sulit tidak ada lagi bus umum ke Melak,” kata salah satu calon penumpang, warga Melak, Andreas (49) yang ditemui Disway-Nomorsatukaltim di Terminal Sungai Kunjang, Samarinda, Senin (2/11).

Di Sendawar pun begitu keadaannya. Puluhan warga yang akan ke Samarinda dan Tenggarong kena zonk.

“Kalau ikut taksi  mobil biasa, mahal. Ongkos dari Barong Tongkok ke Samarinda, merata Rp 250 ribu per orang,” ujar Yulia (32), warga Barong Tongkok yang hendak ke Samarinda, Rabu (4/11).

Salah satu penjaga loket karcis bus jurusan Melak di Terminal Sungai Kunjang, Samarinda, mengaku sudah sembilan bulan bus regular milik sejumlah P.O Bus jurusan Melak, tidak beroperasi.

Sebabnya adalah penumpang makin sepi. Nyaris tidak ada. Sejak pandemi mewabah di Kaltim Maret lalu. Sehingga kalau tetap beroperasi, pengelola bus akan tekor. Mengingat biaya operasional tetap sama besarnya.

“Awal pandemi di Kubar, bus regular jurusan Melak-Samarinda masih berjalan. Penumpang sedikit, tidak menutupi biaya operasional, sehingga tutup,” jelas Kadis Perhubungan Kubar, Rakhmat, melalui Kasi Sarana Prasarana dan Angkutan Jalan, Dede Damaiyanto, Rabu (4/11).

Masih sedikit beruntung. Karena masih ada bus perintis milik Damri yang beroperasi. Tapi rutenya tak sama. Tidak sampai Sendawar. Karena memang bus itu memiliki rute sampai Simpang Kalteng saja. Sehingga pengguna jasa bus harus menyambung dengan kendaraan lain lagi untuk mencapai pusat ibu kota Kubar.

“Tidak sampai ke Kota Sendawar. Yaitu rute Samarinda-Bongan-Simpang Kalteng saja,” ucap Dede.

Sembilan bulan tentu waktu yang sangat lama bus reguler itu tidak beroperasi. Dishub Kubar mengaku akan segera mengambil langkah penyelesaian. Karena dampaknya bukan pada warga saja. Tapi juga kelangsungan bisnis para pemilik bus. Jika tidak segera ada solusi, bisa-bisa, mereka cabut permanen. Yang tentu semakin merugikan warga Kubar.

Dishub secepatnya aan mengumpulkan para pemilik bus. Untuk hearing sekaligus mencari jalan keluarnya. Agar tetap ada moda transportasi dengan biaya miring untuk warga.

“Mencari solusi. Apakah akan dilanjutkan atau tidak angkutan umum bus regular trayek Samarinda-Sendawar, dan sebaliknya,” pungkasnya. (imy/ava)

1 Komentar

Leave A Reply