Peluang Menjanjikan Bisnis Tanaman Hias

Pembelinya Mulai Ibu Rumah Tangga, Hotel dan Perkantoran

Bisnis tanaman hias saat ini tengah digandrungi. Pembeli semakin banyak, yang mulai berbisnis juga semakin banyak.

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Di masa pandemi saat ini, banyak aktivitas dilakukan dari rumah. Hobi lain pun dilakoni untuk mengisi kekosongan. Misalnya bercocok tanam. Di samping itu, kesukaan baru ini juga menulari ibu rumah tangga. Seperti diungkapkan Oong, salah satu pemilik usaha tanaman hias di Jalan Voorfo, Samarinda. Ia mengatakan, pembeli tanaman hias di tokonya seringkali ibu rumah tangga. Dalam sehari, bisa 10 konsumen yang ia layani.

Oong punya dua toko tanaman hias lainnya di wilayah Tanah Merah dan di Jalan Jenderal Sudirman. Yang dibantu beberapa karyawan.

Konsumennya tak hanya rumah tangga. Oong juga sering melayani pembeli dari hotel dan instansi pemerintah. Walaupun pembeliannya tidak rutin, tetapi biasanya membeli langsung dalam jumlah banyak.

“Tapi lebih rutin pembeli dari kalangan ibu-ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswi. Kalau dari kalangan perhotelan dan instansi, bisa 10 persen saja dibanding itu (pembeli perorangan),” ucap Oong pada nomorsatukaltim.com

Saat pandemi seperti sekarang, diakui Oong pembelian tanaman hias meningkat drastis. Tentu tak lain karena masyarakat yang merasa bosan. Dan memilih untuk mencari aktivitas lainnya.

Dibandingkan tahun kemarin, kenaikan penjualan menyentuh 70 persen. Jenis tanaman hias yang ia jual pun bisa dikatakan langka. Harganya mulai dari Rp 150.000 sampai Rp 2.000.000. Keuntungan bersih yang Oong bisa peroleh dalam sehari ialah Rp 200.000.

“Sebulan bisa Rp. 6.000.000 keuntungan bersih yang saya peroleh, tapi untuk dimasa pandemi ini bisa lebih. Saya tidak perlu sebutkan yah, tapi usaha ini sangat menjanjikan,” celetuk Oong.

Banyak rekan-rekan Oong yang tertarik. Ikut berkecimpung berbisnis tanaman hias seperti dirinya. Rata-rata mereka pun berhasil. Bahkan sampai ada yang sudah membeli rumah dari usaha ini.

Namun sayangnya, pemerintah sendiri masih belum melirik peluang bisnis ini. Anggaran dan bantuan dari pemerintah disebutnya masih minim.

Pebisnis tanaman hias di Kota Tepian juga punya asosiasi. Tetapi sayangnya, kata Oong, belum terorganisasi dengan baik. Bahkan terkesan seperti tidak dibina atau diayomi. “Karena banyak dari kita ini kan tidak begitu paham dengan organisasi, jadi cenderung diasingkan,” sambungnya.

Soal bahan seperti pupuk, mayoritas 70 persen berasal dari Samarinda. Sedangkan 30 persen lainnya dibeli dari Pulau Jawa. Tetapi tak jarang, jika pupuk bisa diolah di Samarinda, maka tidak perlu mendatangkan dari luar.

Untuk harga pupuk, kata Oong, tergantung dari tingkat kesulitan mengolah. Biasanya pupuk organik dari hewan-hewan relatif mahal. Sedangkan yang dari tumbuhan terbilang murah.

“Pupuk hewan yang paling bisa bertahan lama itu dari kambing. Kemudian pupuk dari sapi. Lalu pupuk dari unggas. Sedangkan untuk tanaman, biasanya dari kulit-kulit buah. Contohnya nanas,” bebernya.

tanaman hias

Oong mengharapkan ada bantuan pupuk dari pemerintah. Selain pemberian lahan untuk berjualan bagi para pengusaha tanaman hias yang sudah berjalan. “Pot saja kita pesan dari Jawa, karena di sini (Samarinda) belum ada,” lugasnya.

Sementara untuk lahan, dijelaskan Oong, tidak dipungut biaya sewa. Murni diberikan kepada mereka yang berusaha di sektor tersebut. “Tetapi itu hanya untuk di wilayah Jalan Voorfo saja yang saya tahu,” sebutnya.

Pemerintah juga sudah memberikan bimbingan teknis. Mulai dari budi daya tanaman hias. Yang dikawal langsung Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim.”Budi daya tanaman biasanya yang diajarkan. Khususnya tanaman-tanaman langka seperti yang saya jual,” ujarnya.

Untuk tanaman yang saat ini sedang banyak peminatnya ialah jenis Aglonema. Di tempat Oong, ada tanaman Aglonema Bidadari, Moonlight, Adelia, Legacy, Red Kochin, Tiara, dan Red Ruby. Untuk satu pot dijual dengan harga Rp 175.000.

Untuk tanaman lain yang juga menjadi primadona adalah kaktus dan bonsai. Kaktus dari ukuran kecil hingga yang paling besar dengan tinggi 1 meter pun tersedia.

“Saat ini yang sering digandrungi tanaman ini (aglonema),” tandas Oong sembari menunjukkan jenis tanaman Aglonema Red Kochin.

Windy (23) mahasiswi Unmul Jurusan Hubungan Internasional yang kebetulan sedang membeli tanaman hias juga memberikan tanggapan. Dia mengaku baru pertama menggeluti hobi bercocok tanam.

Karena merasa belum memiliki pengalaman yang mumpuni, dirinya pun mencari tanaman yang tidak ribet dirawat. Seperti tanaman kaktus.

Menurut Windy, kaktus sendiri memiliki keunikan. Yang bisa berumur hingga puluhan bahkan ratusan tahun. “Perawatannya pun tidak rumit, karena tidak perlu rutin disiram. Terus kalau diletakkan di dekat jendela juga jangan sampai terkena matahari langsung. Cocok banget buat jadi tanaman rumahan,” pungkas Windy. (nad/eny)

Saksikan video menarik berikut ini: