Hotel Bintang 3 Raih TPK Tertinggi di Kaltim

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Sektor perhotelan di Kaltim mulai menunjukkan gairah. Ini dibuktikan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada Agustus mengalami kenaikan 0,51 poin. Naik dibanding TPK Juli, yaitu dari 38,59 persen menjadi 39,10 persen.

Jika dibandingkan dengan Agustus 2019, angka ini masih lebih rendah 17,47 poin. Yaitu dari 56,57 persen di Agustus 2019 menjadi 39,10 persen di Agustus 2020.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim. Menurut klasifikasinya, Agustus tahun ini hotel bintang 3 mengalami raihan TPK tertinggi. Yaitu mencapai 49,58 persen.

Sedangkan TPK terendah terjadi pada hotel berbintang 1. Hanya 9,08 persen. Untuk hotel bintang 2, 4 dan 5 mencatat TPK masing-masing sebesar 38,49 persen, 33,85 persen, dan 26,19 persen

“TPK hotel bintang 5 di Agustus ini alami kenaikan 0,85 poin bila dibandingkan Juli. Dari 25,34 persen jadi 26,19 persen,” ungkap Kepala BPS Kaltim Anggoro Dwitjayono, dalam press release, Kamis (15/10) sore.

Anggoro menuturkan, jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2019, hotel bintang 5 mengalami penurunan sebesar 37,59 poin. Dari 63,78 persen menjadi 26,19 persen.

Secara umum, lanjut Anggoro lagi, rata-rata lama menginap tamu pada hotel berbintang di Kaltim selama Agustus mengalami penurunan sebesar 0,2 hari dari rata-rata lama tamu yang menginap di Juli. “Rata-rata lama menginap tamu hotel berbintang pada Agustus tercatat di 1,54 hari,” sambungnya.

Dari keseluruhan tamu hotel yang ada, rata-rata lama menginap di hotel berbintang di triwulan ketiga mengalami penurunan sebesar 0,20 hari. Untuk lama menginap tamu mancanegara, mengalami kenaikan 0,22 hari. Perbandingan tersebut pada Juli dan Agustus. “Sedangkan pada rata-rata lama menginap tamu nusantara mengalami penurunan sebesar 0,20 hari,” ucapnya.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltim Tutuk SH Cahyono menuturkan, sektor perdagangan, hotel dan resort (PHR) menyumbang pangsa tenaga kerja terbanyak di 2019. Selanjutnya, diteruskan sektor jasa kemasyarakatan sebanyak 16,80 persen.

Tutuk menegaskan, sektor PHR dan jasa kemasyarakatan tahun ini memang menyumbang andil yang sedikit untuk ekonomi Kaltim. Di mana PHR hanya 6,93 persen. Lalu jasa kemasyarakatan yang bahkan tidak sampai 2 persen.

“Tepatnya di angka 1,25 persen. Ini sangat kecil kontribusinya menyumbang ekonomi Bumi Etam. Jika digabungkan kedua sektor ini bahkan tidak sampai 10 persen. Tetapi untuk penyerapan tenaga kerja, sektor ini tidak bisa dipandang sebelah mata,” jelasnya, Jumat (16/10) kemarin.

Terpisah, Sekretaris Persatuan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Kaltim Muhammad Zulkifli juga ikut berkomentar. Ia memaparkan penyumbang pendapatan PHR saat ini adalah hotel bintang 4 dan 5. Walaupun sempat mengalami penurunan Mei lalu. Tetapi menurutnya, geliat tersebut mulai meningkat kembali. Walaupun angkanya terbilang kecil.

“Mei hingga Agustus, TPK berbintang 5 naik. Masing-masing sebesar 10,40 persen, lalu 13,86 persen, kemudian 25,34 persen dan juga 26,19 persen,” terang Zulkifli.

Zulkifli membeberkan, ada dua faktor yang memengaruhi peningkatan TPK. Pertama, adanya konsumen yang menggelar pernikahan di hotel. Kemudian kedua, adanya perusahaan swasta yang melakukan isolasi mandiri COVID-19 di hotel berbintang 5.

Walaupun TPK meningkat, Zulkifli menjelaskan bahwa bisnis perhotelan tidak hanya soal okupansi hotel saja. Melainkan ada beberapa unsur lainnya yang juga harus diperhatikan.

“Seperti kolam renangnya. Terus bagaimana pelanggan yang datang, apakah mereka membeli makanan atau tidak. Tapi kita tetap bersyukur menyambut ini. Dan tentunya kedua faktor tadi tetap mematuhi protokol kesehatan COVID-19,” pungkasnya mengakhiri. (nad/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar