Pasca Kebakaran Bontang Kuala, Wacana Hidran Hidup Lagi

Bontang, nomorsatukaltim.com – Kebakaran Bontang Kuala kembali terjadi lagi. Penyebabnya masih diselidiki. Ada yang bilang dari konsleting listrik. Ada pula yang menyebut dari kompor kafe.

Lokasi kebakaran di Bontang Kuala persis di depan panggung. Yang setiap tahun selalu menjadi lokasi sakral ‘Erau Pelas Benua’. Di panggung itulah titik sentral Kampung Wisata Bontang Kuala.

Karena posisi sentral, banyak pedagang kios, kafe berjubel berebut lapak di sana. Mereka berjualan di sepanjang emperan di depan panggung.

Yang paling lama berjualan di situ Kafe Mutiara. Lokasinya statrategis. Aneka minuman olahan ada di situ. Pun makanannya sedap-sedap. Apalagi gammi bawisnya -hidangan ikan bawis dengan sambal tomat-.

Dari kafe itulah titik api pertama terlihat. Yang terbakar mula-mula lantai 2. Yang isinya hanya kamar saja. Sebelum api muncul, listrik tetiba padam.

bontang

“Saya baru saja selesai salat maghrib,” ujar Pemilik Kafe Mutiara, Mak Sia kepada wartawan.

Api mulai terlihat dari lantai 2 kamar anaknya. Panik dan takut jadi satu. Dia teriak-terik minta tolong. Tapi warga sekitar juga panik dan histeris.

Pemadam tiba di lokasi tanpa menumpangi mobil tangki pemadam. Mereka juga bingung, mobil tak bisa masuk. Jalan jembatan Bontang Kuala tak kuat menahan beban mobil berat.

Mereka inisiatif. Bawa pompa apung. Air disedot dari laut. Lalu menyembur keras ke titik-titik api. Ada 3 alat pompa yang dipakai. Petugas hanya bermodal selang. Dan byur. Api dipadamkan.

Proses angkut-angkut pompa itu yang lama. 30 menit sejak api mulai merembet. Waktu singkat untuk api melalap belasan rumah berbahan kayu di sana.

“Apalagi saat pemadaman, banyak warga yang tarik selang berebut. Itu juga yang ganggu kerja kami,” ujar Kepa Bidang Pengendalian Operasi, Disdamkartan, Ahmad Rivani.

Pompa yang dioperasikan butuh waktu 3 jam hingga api betul-betul padam. Alhasil, imbas kebakaran ini 73 orang kehilangan rumah mereka.

Sebenarnya, cara pencegahan kebakaran di pemukiman pesisir sudah disiapkan. Bahkan sejak 3 tahun lalu sudah ada wacana penyediaan hidran di kawasan pesisir. Tapi gagal terwujud. Entah apa sebabnya.

Sekarang isu 3 tahun lalu itu dihembuskan lagi. Yang getol suarakan, Wakil Ketua DPRD Bontang, Agus Haris.

Pun pada 2017 lalu dia juga yang inisiatif. Tapi tak terealisasi saat itu. Tapi sekarang dia percaya diri, bisa terwujud. Dengan jabatan barunya, mudah untuk meloloskan.

“Apalagi di sini (Dapil Bontang Kuala) ada 2 orang anggota dewannya,” timpal Agus Haris.

Rencana itu baru bisa dilaksanakan tahun depan. Menunggu lagi, karena tahun ini sudah tidak ada kuota. Sudah habis terbagi ke belanja lain. Walaupun pencegahan kebakaran juga lebih prioritas ketimbang pembangunan jalan.

Lurah Bontang Kuala, Rony Apriansyah pun senangnya bukan main. Sudah lama dinanti hidran kering di wilayahnya. Karena memang rawan terbakar lagi.

“Tapi RT-RT sekarang pasti gak menolak kalau usulan pencegahan kebakaran, sudah kapok,” katanya.

Pemerintah dan DPRD harusnya sudah sadar sejak dulu. Ancaman kebakaran di pesisir selalu berimbas fatal. Pemukiman padat penduduk, apalagi mayoritas berbahan kayu. Kesadaran rawan akan hanya jadi angan-angan jika tak segera diwujudkan. (wal/ava)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar