Unmul Layani Tes Swab Mandiri, Segini Biayanya

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Laboratorium Mikrobiologi milik Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman (Unmul) kini membuka layanan tes swab mandiri bagi masyarakat.

Lab ini, memang sudah melakukan aktivitas tes swab COVID-19 sejak akhir Juli lalu. Namun, hanya menerima sampel kiriman dari Dinas Kesehatan Provinsi (Diskesprov) Kaltim.

Baru kemudian, karena banyaknya permintaan dari masyarakat, pihak pengelola memutuskan untuk melayani tes swab mandiri sejak Agustus. Kepala Laboratorium, dr. Yadi mengatakan, pihaknya mampu menguji hingga 120 spesimen per hari.

“Sekarang kami layani tes swab mandiri saja. Karena dari Diskes sudah tidak kirim sampel lagi, sejak ada Mobile PCR,” jelasnya kepada Disway-Nomor Satu Kaltim, Kamis (15/10/2020).

Yadi menyebut, operasional lab buka setiap Senin hingga Sabtu. Pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore. Per hari, pihaknya biasa melayani 40 hingga 50 orang yang datang melakukan tes swab mandiri.

Soal harga, lab Unmul sudah mengikuti ketentuan tarif yang ditetapkan Kemenkes. Sebesar Rp 900 ribu. Namun, pihak lab menambah beban biaya konsultasi Rp 100 ribu.

“Sebenarnya menyulitkan juga sih. Karena APD (Alat Pelindung Diri)-nya mahal. Sekali pakai-buang harganya Rp 300 ribu. Tapi ya kita ikuti lah peraturannya. Karena kami dapat bantuan juga dari pemerintah,” ungkap Yadi.

Melihat rendahnya jangkauan testing di Indonesia, Yadi menilai kapasitas testing perlu ditingkatkan. Meski Kaltim, diklaim mampu melampaui batas tes yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sebesar seribu spesimen per satu juta penduduk setiap pekan. Yadi menyebut, perihal waktu pengujian masih perlu ditingkatkan.

“Paling lambat, 2 atau 3 hari sudah ada hasilnya. Kalau 1 minggu, lambat. Sebelum dapat hasil, orangnya sudah ke mana-mana dan menularkan virus,” tuturnya.

Oleh karena itu, di Lab Unmul, tempatnya menguji sampel swab, sebisa mungkin selalu diusahakan hasil bisa keluar dalam kurun 24 jam. Memang ada beberapa kendala. Misalnya, pembacaan hasil tidak bisa disimpulkan. Sehingga pengujian sampel harus diulang.

“Terpaksa harus kita periksa lagi. Butuh 3 hari lah paling lama. Tapi normalnya 24 jam kita sudah bisa keluarkan hasil.”

Dari hasil pengujian itu, Yadi menyebut perbandingan positivity rate sekitar 10 persen dari jumlah sampel diuji.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Diskes Kaltim, Setyo Budi Basuki mengatakan. Kemampuan pemeriksaan COVID-19 di Kaltim mampu menguji maksimal 2.244 sampel per hari. Baik melalui uji swab Polymerase Chain Reaction (PCR) maupun Tes Cepat Molekuler (TCM).

Hal itu karena jumlah alat PCR dan TCM di Kaltim sudah memadai. Yaitu sebanyak 13 mesin PCR dan 11 TCM yang tersebar di rumah sakit rujukan dan fasilitas layanan kesehatan. Di seluruh kabupaten/kota di daerah.

“Tapi untuk TCM ada beberapa yang belum tersedia catridge-nya,” jelas Basuki.

Basuki pun menyebut, secara nasional, tingkat pemeriksaan Kaltim sudah tinggi. Namun hal itu, tak ada artinya jika penyebaran juga terus meningkat. Sehingga ia mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga kepatuhan bersama. Dalam mengantisipasi penyebaran COVID-19.

“Meski pemeriksaan tinggi, RS ditambah, tapi kalau tidak patuh. Dan penyebaran tinggi. Tetap saja, ujung-ujungnya tidak mampu. Berat,” pungkasnya. (Krv/zul)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar