Kaltim Punya 4 Sektor Potensial Investasi yang Patut Dilirik Investor

Balikpapan, nomorsatukaltim.com- Dalam kurun waktu 2015 – Juni 2020. Realisasi investasi di Kalimantan Timur (Kaltim) sebesar 12,1% dari total realisasi investasi nasional.

Dari realisasi tersebut, dengan total perolehan investasi sebesar Rp 171,3 triliun. Terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 50,3% dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) 49,7%.

Hal itu disampaikan Deputi Perencanaan Penanaman Modal (BKPM) RI Nurul Ichwan. Dalam acara Webinar Industri Pengolahan Masa Depan Ekonomi Kaltim yang digelar Bisnis Indonesia, Pupuk Kaltim bersama Bank Indonesia, pada Selasa (13/10/2020).

Nurul Ichwan memaparkan pada tersebut kabupaten dan kota dengan realisasi tertinggi adalah Kota Balikpapan sebesar Rp 33,39 triliun. Disusul Kabupaten Kutai Timur sebesar Rp 33,07 triliun.

“Setelah Balikpapan dan Kutim, ada Kutai Kartanegara dan Berau. Kemudian disusul Kutai Barat, Paser, Bontang, Penajam Paser Utara, Samarinda dan Kabupaten Mahakam Ulu,” terang Nurul Ichwan.

Untuk tahun ini, realisasi investasi nasional ditarget menyentuh angka Rp 817,2 triliun. Pencapaian pada triwulan I sebesar Rp 210,7 triliun atau 25,8% dari target. Pada triwulan II-2020 sebesar Rp 23,% atau Rp 19,9 triliun. Sehingga total pada semester I-2020 berhasil terealisasi sebesar 49,3% atau senilai Rp 402, 6 triliun.

Jumlah itu terdiri dari PMDN sebesar 51,4% atau Rp 207,0 triliun, dan PMA sebesar Rp 195,6 triliun atau 48,6%. Sepanjang semester I investasi berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 566.194 orang.

“Ada lima besar negara asal investor. Singapura mendominasi dalam investasi. Kemudian disusul Tiongkok, Hongkong, Jepang, Malaysia dan lainnya,” sebutnya, yang dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Tutuk SH Cahyono, Kepala Bappeda Kaltim Aswin dan Direktur Utama PT Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi.

Baca Juga: Aliansi Tiga Gergasi: Proyek Gasifikasi di Kutai Timur Senilai Rp 104 Triliun

Nurul Ichwan menjelaskan, investasi menjadi motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi. Di mana 79 persen pendapatan negara berasal dari penerimaan pajak. Bahwa peningkatan investasi akan berdampak positif terhadap peningkatan penerimaan pajak.

“Sebagai contoh investasi pada sektor manufaktur. Di mana hal tersebut membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan ekspor dan memberikan nilai tambah terhadap barang,” paparnya.

Apabila dilihat dari sektor pengembangan wilayah. Di Kaltim, kata Nurul, ada beberapa kawasan strategis provinsi (KSP). Yaitu kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Ada empat sektor yang bisa dikembangkan di Kalimantan Timur. Dari perkebunan hingga pariwisata. Apalagi telah ditetapkan sebagai ibu kota negara. Dan ini harus dipersiapkan dari sekarang,” katanya.

Dia menyebutkan sektor potensial investasi Kaltim yaitu agroindustri, migas dan batu bara, pariwisata, serta infrastruktur dan energi. Pengembangan klaster pangan dan industri pangan memberikan nilai tambah komoditas unggulan pertanian dan perkebunan Kaltim.  “Contohnya pengolahan kakao untuk industri obat dan kosmetik,” ujarnya.

Selain itu, Nurul mengatakan, penyediaan kebijakan dan insentif yang memadai untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dalam industri 4.0. “Mendorong pengembangan teknologi dalam proses produksi. Pengembangan dapat dilakukan sendiri atau membentuk klaster teknologi dengan perusahaan lainnya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim Aswin mengungkapkan situasi investasi pada kurun waktu lima tahun terakhir. Yang mana sektor industri pengolahan menjadi sektor kedua terbesar terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim. Setelah sektor pertambangan dan penggalian.

Berdasarkan datanya, bahwa pada 2019, industri pengolahan migas menjadi jenis industri paling dominan. Yakni menyumbang 64% kontribusi pada sektor industri pengolahan.

Urutan kedua diduduki oleh industri kimia, farmasi dan obat tradisional sebesar 16%. Dan urutan ketiga adalah industri makanan dan minuman sebesar 11%.

Menurut Aswin, dalam pembangunan sektor industri pengolahan di Kaltim ada peluang dan tantangan. Peluangnya, adalah posisi Kaltim yang terletak pada Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI II), potensi sektor perkebunan dan ditetapkannya sebagai lokasi ibu kota negara baru.

Adapun tantangannya. Yaitu kontribusi sektor industri pengolahan non migas belum optimal, tingkat keberhasilan kawasan strategis provinsi masih rendah, industri hilir pertanian dalam arti luas belum banyak bertumbuh.

“Akan tetapi Pemprov Kaltim tetap komitmen dengan strategi dan arah kebijakan pembangunan sektor industri Kaltim. Dengan melakukan peningkatan nilai tambah dan daya saing komoditi unggulan,” sebut Aswin.

Dia menambahkan, pemerintah terus mendorong peningkatan kontribusi sektor industri pengolahan dan sektor perkebunan. “Kaltim juga telah memiliki Rencana Induk Pembangunan Industri Provinsi (RIPIP) yang menetapkan industri pangan, karet dan kayu, hulu agro, kimia dasar berbasis migas dan batu bara sebagai industri andalan,” pungkasnya. (fey/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar