Harga Batu Bara Kembali Melorot

Jakarta, nomorsatukaltim.com – Sepekan lalu harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak yang aktif diperdagangkan drop signifikan. Sampai 4,03 persen. Harga batu bara ditutup di US$ 58,4/ton.

Harga batu bara mulai reli pada awal September lalu setelah menyentuh level terendahnya di US$ 49,9/ton. Setelah itu harga batu bara merangkak naik dan tembus level psikologis US$ 60/ton.

Bahkan pada pekan lalu harga batu bara masih sempat mencicipi level US$ 60/ton. Sebelum akhirnya melorot pada 2 hari perdagangan terakhir. Secara month to date (mtd), harga batu bara terkoreksi 5,58 persen.

Melihat reli yang tak terhenti mulai pada pekan kedua September, koreksi harga yang terjadi kemarin seharusnya bersifat sehat. Ke depan ada beberapa risiko yang dapat mendongkrak harga batu legam ini.

Salah satu faktor yang sempat mengerek harga batu bara adalah ketatnya pasokan domestik China. Selagi pasokan batu bara domestik China masih ketat dan membuat harganya tidak kompetitif, maka harga batu bara impor lintas laut (seaborne) kemungkinan masih akan tertahan dari koreksi lanjutan. 

Saat ini harga batu bara termal Qinhuangdao untuk kalori 5.500 Kcal/kg masih berada di atas rentang target harga informal. Yang ditetapkan pemerintah China.

Hal ini membuat para pelaku industri, termasuk perusahaan setrum Negeri Panda, berpotensi akan memilih batu bara impor. Apalagi jelang akhir tahun kebijakan kuota akan diperbarui.

Adanya pemangkasan produksi yang juga dibarengi dengan potensi La Nina yang menyebabkan disrupsi pasokan juga turut mendongkrak harga batu bara. Ke depan harga komoditas unggulan Australia dan RI ini diproyeksikan bakal merangkak naik. Seiring dengan pemulihan permintaan.

Kendati terjadi secara gradual, fenomena pemulihan permintaan batu bara juga terjadi di India. Total impor batu bara India pada September diperkirakan mencapai 14,62 juta ton. Berdasarkan data pelacakan kapal dan pelabuhan Refinitiv, naik dari 12,97 juta pada Agustus.

Ini merupakan kinerja terkuat importir batu bara terbesar kedua dunia itu sejak April. Meski impor masih turun 6,3 persen. Dari 15,61 juta ton yang tercatat pada September 2019. Selama 9 bulan pertama tahun ini, impor diperkirakan mencapai 128,24 juta ton. Turun 17 persen dari 154,8 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Sektor batu bara India telah terpukul keras oleh pembatasan aktivitas ekonomi. Yang diberlakukan mulai Maret dan seterusnya. Ketika negara terpadat kedua di dunia berjuang. Untuk mengatasi pandemi virus corona baru. Yang sedang merebak.

Perekonomian diperkirakan akan berkontraksi hingga 10 persen. Pada tahun fiskal. Yang dimulai pada April. Itu akan menjadi kinerja terlemah India sejak 1979. Analis memperkirakan permintaan listrik tahunan turun. Untuk pertama kalinya dalam hampir 4 dekade.

Namun, ada beberapa tanda pemulihan tentatif. Seorang kolumnis Reuters, Clyde Russel menyebut, pembangkit listrik tumbuh. Untuk pertama kalinya dalam 7 bulan pada September. Aktivitas di pabrik meningkat paling tinggi. Dalam 8 tahun. Karena adanya relaksasi lockdown. Pembangkit listrik naik 4,9 persen pada September dan menjadi peningkatan bulanan pertama sejak Februari. (cnbc/qn)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar