Mufakat Kanjeng Sinuhun (1): Geledah

Para Sinuhun di Kota Ulin mulai jengah. Warganya menganggap mereka seperti ATM berjalan.

Saban hari, saban waktu, permintaan bantuan tak ada habis-habisnya. Biaya hidup mereka semakin tinggi. Gaji sebagai sinuhun tentu tak bisa menutupi. Belum lagi urusan politik. Investasinya kelewat tinggi. Sebagian Sinuhun menyusun rencana. Namun simalakama datang, rencana tersebut justru menjerumuskan mereka ke dalam jerat hukum.

—————

HAMPIR 10 menit sudah Kanjeng Sinuhun menatap jalan depan rumahnya. Dari balik tirai warna putih di pojok kamar pribadinya. Lantai dua rumah gedong. Persis di perempatan tengah Kota Ulin—sebuah  kota urban di Negeri Antahberantah. Lalu lalang kendaraan solah membimbing pikirannya menjelajah.

Bagaimana bisa? Ia tak habis pikir. Bagaimana cara keluar dari tuduhan yang menyeret namanya itu? Dari amuk warga yang beberapa kali berunjuk rasa. Dari dugaan Kaum Hermes—sang pembawa kabar, yang kerap kali menyebut-nyebut namanya.  

Kanjeng Sinuhun orang terpandang di kota itu. Setidaknya para pendukungnya banyak. Tak salah jika ia menjadi sinuhun. Dipilih rakyatnya. Kendati untuk meraih simpati rakyatnya itu harus menempuh jalan berat. Ia harus rela mengorbankan sebagian kekayaannya.

Tapi, persoalan ini benar-benar membelenggunya. Karena bukan tidak mungkin, rakyat yang selama ini mengelu-elukannya berbalik arah. Antipati dan mencabut dukungan sebagai sinuhun. Tak hanya itu, yang paling penting adalah rasa ‘malu’. Bagaimana menutupinya?  

Terlebih lagi ketika sudah dianggap bersalah. Kemudian dipenjara. Didenda dan disita sisa harta bendanya. Bagaimana nasib Sri Sulastri—Istri yang ikut terpukul akibat infomasi miring itu. Lalu, bagaimana dengan nasib kedua anak perempuannya. Yang juga akan terseret nama sang ayah.

Ya, tidak ada acara lain. Pikirnya. Ia harus segera menghilangkan jejak. Menutup mata orang yang melihat. Menutup telinga orang yang mendengar. Dan menutupi aroma-aroma miring soal dirinya. Pasti bisa. Ia masih memiliki kekuasaan sebagai sinuhun. Pasti ada caranya. Memanfaatkan kedigdayaanya.

“Kanjeng”. Sapaan itu membuyarkan lamunannya.  “Ini sudah hampir jam 11 siang lho!, mandi dulu,” kata Sri, yang sedari pagi memerhatikan kegundahan sang suami.

“Oh iya,” jawab Kanjeng Sinuhun, kemudian menutup tirai kamarnya. Lalu beranjak untuk mengambil kain handuk yang sudah disodorkan Sri.

Memang rutinitas Kanjeng Sinuhun setiap jam 11 siang sudah harus berada di Balai. Melayani keluhan rakyat dan memastikan progam-program berjalan. Mendampingi para pemangku kota.  

*****   

Pajero hitam yang ditumpangi Kanjeng Sinuhun memasuki parkiran balai. Kanjeng Sinuhun terkejut. Ternyata sudah ada jejeran kendaraan punggawa militer memenuhi parkiran. Setidaknya ada 5 kendaraan jenis Multi Purpose Vehicle (MPV). Semuanya berwarna putih.

Sebagian pungawa militer terlihat hilir mudik dengan membawa beberapa kardus berbagai ukuran. Isinya beberapa kertas berkas. Sebagian lagi membawa peralatan elektronik. Laptop dan beberapa perangkat komputer lainnya. Ada juga yang tampak berjaga di beberapa sudut ruangan.

Rupanya infomasi miring yang menyebut nama Kanjeng Sinuhun sudah beredar luas. Hingga punggawa militer turun tangan. Kanjeng dan beberapa sinuhun lainnya disebut-sebut terlibat dalam permufakatan gelap.

Rupanya program perluasan lahan pertanian yang digagas para pemangku kota terindikasi merugikan Negara Antahberantah. Para sinuhun juga terseret. Mereka yang menyetujui semua anggaran. Entah bagaimana ceritanya. Pagu anggaran tiba-tiba melambung dari yang direncanakan semula. Dari 250 miliar untuk pembelian tanah pertanian seluas 1.000 hektare, bengkak. Menjadi 1,3 triliun.

Angka kenaikan yang begitu fantastis. Lebih dari 5 kali lipatnya. Tak salah jika ada dugaan seperti itu. Tapi bisa jadi ini karena kesalahan di awal. Tim perencana pemangku Kota Ulin yang asal menuliskan angka dalam perencanaan. Tanpa survei lokasi. Tanpa melihat harga keumuman tanah di lokasi yang dipilih tersebut.

Kanjeng Sinuhun tak mau terlihat panik. Ia memasuki balai dengan tenang. Seperti biasa, ia menyapa satpam dan beberapa pegawai balai. Namun ia sadar. Semua mata tertuju padanya. Seolah menyiratkan tanda tanya. Menunggu reaksi Kanjeng soal peristiwa yang sedang terjadi.

Perlahan menaiki tangga. Menuju ke lantai dua. Tempat ruangan biasa ia bekerja. Dari arah berlawanan, Sobir turun. Ia adalah sinuhun dari paksi lain. Salah satu petinggi balai di bawah Kanjeng Sinuhun. Pendukung utamanya para petani dan nelayan. Sobir memang dikenal di dua sektor itu.

Selain riwayat hidupnya yang dibesarkan di kawasan Timur Jauh Kota Ulin, Sobir juga memiliki usaha di dua sektor itu. Utamanya di sektor perikanan. Ia memiliki 20 unit kapal penangkap ikan berkapasitas besar. Bisa menampung ratusan ton ikan sekali melaut. Ia orang terpandang. Sobir pun mewakili dua sektor itu untuk menyampaikan aspirasi di balai.

“Kanjeng, baru datang?,” tanya Sobir. “Itu ruangan Kanjeng diobok-obok pungawa militer. Tidak ada yang ngabari? Dari pagi saya telepon enggak diangkat,” lanjutnya.

Kanjeng Sinuhun menarik napas. Kemudian menunduk mengecek telepon genggamnya. Ternyata sudah ada 13 kali panggilan tanpa nama. Ia lupa sejak semalam handphone-nya di-setting mode hening. Bukan tanpa alasan. Belakangan ini banyak orang menghubunginya. Selalu menyampaikan masalah. Membuat kepalanya senut..senut. Pusing. Setiap malam hampir tak bisa tidur pulas.

Tak hanya Sobir rupanya. Semua sinuhun di balai itu kaget. Karena dalam sejarahnya, baru kali ini terjadi penggeledahaan di balai. Dan tidak hanya ruangan Kanjeng Sinuhun, tapi juga beberapa ruangan sinuhun lainnya ikut digeledah.        

Kanjeng Sinuhun menaiki tangga hingga ke lantai dua. Diikuti Sobir dan dua sinuhun lainnya. Kemudian duduk di sofa panjang. Persis di depan ruangannya. Ia merasa enggan memasuki ruangan yang sudah digeledah para punggawa militer yang dipimpin Wandi, kepala Bidang Kriminal Khusus Punggawa Militer Besar.  

Saat Kanjeng Sinuhun sampai di balai, Wandi dan punggawa bawahannya sudah selesai menggeledah. Membawa berkas-berkas yang bisa dipakai sebagai alat bukti. Yang bisa membuktikan kongkalikong dalam pembelian tanah untuk perluasan pertanian itu. Wandi bahkan sudah pergi meninggalkan tempat itu terlebih dahulu. Penggeledahan sudah berlangsung mulai pukul 08.00 paginya.

Sobir masih terus saja bicara. Menumpahkan kekesalannya. Bagi Sobir, balai adalah lembaga terhormat. Harusnya ada cara-cara yang lebih santun. Punggawa militer jangan langsung melakukan penggeledahan seperti itu. Karena akan menjatuhkan kehormatan para sinuhun.

“Rapat besar kita tunda lain waktu, Kanjeng. Harusnya ini tadi sudah dimulai. Tapi karena ada penggeledahaan ini, para sinuhun sudah tidak semangat lagi”.

Kanjeng Sinuhun masih tetap diam. Kemudian ia merogoh sakunya. Sebungkus rokok ia keluarkan. Ditelatkkannya di atas pegangan sofa. Lalu, satu batang rokok dibakar dan dihisapnya dalam-dalam. Kepulan asap menyebur dari bibirnya dan di sela-sela kumisnya yang tebal. Kemudian ia menatap Sobir yang masih berdiri. Dua sinuhun lainnya tengah anteng ngobrol dengan suara pelan. Setengah berbisik.

Para pegawai di balai pun terlihat sibuk bercakap-cakap. Mereka berkelompok. Ada yang berkumpul di dekat toilet balai. Persis di lorong menuju kamar kecil itu. Sebagian berkumpul di depan ruang administrator—ruangan yang selama ini mengelola kebutuhan administrasi balai dan melayani kebutuhan para sinuhun. Tak satu pun yang bekerja di ruangannya seperti biasa. Kepala administrator pun tak tampak batang hidungnya.

“Rapat besar ditunda sampai kapan?,” tanya Kanjeng. Mencoba bersikap tenang.

“Kemungkinan Senin depan. Ini Pemangku Kota juga enggak datang. Mereka tahu ada peristiwa ini,” jawab Sobir.

“Jadi mereka sudah tahu?,” tanya Kanjeng, belum yakin.

“Iya, karena sepertinya bukan hanya kita. Kantor pemangku kepentingan juga ikut digeledah”. Kanjeng Sinuhun pun terdiam. Seketika pikirannya melayang jauh. Siapa yang ada di balik semua ini? Siapa yang mulai membeber kabar miring itu. Oh iya, Kaum Hermes. Ini semua gara-gara kaum Hermes. Sepertinya mereka mulai mencium kejanggalan dalam pembelian lahan itu. (Bersambung—baca lanjutannya; Mr S dan Temuan Kaum Hermes/ived18).

“Mufakat Kanjeng Sinuhun” adalah sebuah cerita yang mengangkat kisah-kisah sosial. Mengulas intrik politik, kegaduhan dan kritik sosial. Namun, ini hanya sebuah novel. Cerita fiksi. Nama dan peristiwa bukan yang sebenarnya.

Harian Disway Nomorsatu Kaltim menerima karya tulisan berupa cerita pendek, novel dan karya sastra lainnya. Akan dimuat di halaman depan setiap harinya di media kesayangan Anda. Panjang tulisan maksimal 1.200 kata untuk setiap judul. Bisa mengirim tulisan bersambung. Tulisan dikirim via email diskaltim@gmail.com dengan menyertakan identitas diri dan foto penulis.

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar