Pintu Masuk ke Tenggarong Diperketat Akhir Pekan, Objek Wisata Mulai Kelimpungan

Kukar, nomorsatukaltim.com – Sejak tiga pekan lalu. Mobilitas di Kota Tenggarong tak seluwes biasanya. Lantaran dua pintu masuk Tenggarong dijaga petugas. Sebagai bagian dari Operasi Yustisi.

Tim Satgas COVID-19 merasa perlu membatasi masyarakat luar Tenggarong untuk masuk ke wilayah ibu kota Kukar itu. Karena penyebaran wabah corona di Tenggarong masih mendominasi. Ketimbang wilayah lain di Kukar. Jadi hanya yang punya keperluan mendesak saja yang diizinkan masuk.

Awal Oktober, penjagaan pintu masuk tidak seketat sebelumnya. Yang dijaga setiap hari dari pagi hingga jam 10 malam itu. Kini hanya di akhir pekan saja pintu masuk Tenggarong dijaga.

Karena berdasarkan hitung-hitungan Satgas. Puncak kunjungan ke Tenggarong terjadi pada akhir pekan saja. Selain itu, kesadaran masyarakat juga sudah meningkat. Minimal warga ketika bepergian keluar rumah sudah mengenakan masker. Makanya penjagaan sedikit dilonggarkan.

Walau hanya dijaga pada akhir pekan saja. Ternyata berdampak minor pada usaha pariwisata di Kota Raja. Utamanya yang dikelola swasta. Karena destinasi milik pemerintah ditutup sementara waktu.

Sangat berdampak karena ternyata. Banyaknya kunjungan ke Tenggarong di akhir pekan karena ingin berlibur.

Kini destinasi wisata lokal hanya bisa berharap mendapat kunjungan dari warga Tenggarong saja. Yang sebenarnya selama pandemi, sudah banyak warga yang enggan berlibur. Belum lagi sedang hits-nya hobi merawat tanaman hias saat ini. Janda Bolong salah satunya. Makin membuat orang lebih betah menghabiskan akhir pekannya di rumah saja.

“Pandemi aja udah bikin kunjungan berkurang, ditambah lagi penutupan pintu masuk Tenggarong,” keluh Nesa, pengelola tempat wisata Ladang Budaya (Ladaya) Tenggarong.

Tingkat kunjungan Ladaya pun turun drastic. Bukan 50 persen lagi. Tapi turun sampai 70 persen. Jika selama masa pandemi Ladaya masih bisa mendapat kunjungan 100 orang. Sekarang dapat 30 orang di akhir pekan saja.

“Itu aja sudah Alhamdulillah,” lanjut Nesa lagi.

Masih beruntung karena minat kalangan muda yang hendak menikah. Masih tinggi untuk membuat foto atau video sesi pra wedding di destinasi wisata. Sedikit banyak, itu masih membuat pengelola wisata sedikit bernapas.

Acara-acara kecil juga masih bisa diakomodir. Tapi untuk acara berskala besar. Seperti pernah suatu kali Ladaya terpaksa menolak tempatnya dijadikan tempat acara anniversary karena melibatkan lebih dari 100 orang.

Walau tahu mereka sudah menyia-nyiakan rezeki nomplok. Tapi mau bagaimana lagi. Anjuran pemerintah untuk tidak menggelar acara ramai-ramai tetap mereka ingin ikuti.

“Salah satu cara kami ikut berpartisipasi membantu pemerintah untuk memutus mata rantai pandemi,” jelasnya.

Agar bisa bertahan. Strategi ikat pinggang pun dilakukan. Perumahan beberapa pegawai terpaksa dilakukan. Di Ladaya, pengurangan pegawai ini sudah dilakukan saat puncak masa pandemi kala itu. Sampai saat ini. Menyesuaikan kemampuan manajemen untuk melakukan perawatan dan menggaji pegawai.

Nesa berharap pandemi segera berlalu. Pintu masuk Tenggarong segera bisa dibuka lagi. Dan masyarakat bisa beraktivitas normal seperti sedia kala. (mrf/ava)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar