Berlumur Masalah di Komplek Megah

BALIKPAPAN, nomorsatukaltim.com – Belum tuntas persoalan dokumen milik pembeli, pengembang Borneo Paradiso kembali diadang persoalan. Kali ini masalah yang cukup pelik: air bersih. Warga mengeluhkan banyu yang keluar dari keran rumah mereka berwarna kecokelatan, keruh. Pada waktu tertentu bahkan kehitaman. Juga berbau cukup menyengat.

Warga bilang, Air itu berasal dari sebuah waduk di dalam komplek. Yang juga berfungsi sebagai bendungan pengendali (Bendali), untuk menampung air buangan dari rumah-rumah warga. Pengelola perumahan mengalirkannya untuk kebutuhan air baku sehari-sehari penghuni komplek. Tanpa proses filtrasi atau treatment yang memadai.

Penyalurannya pun, tidak lancar. Tidak ada air mengalir 24 jam non-setop. Menurut penuturan seorang warga, terkadang air di rumahnya tidak mengalir selama berhari-hari.  Pun kalau mengalir, boleh dibilang hanya berupa tetesan.

“Ya begitu, kadang-kadang bersih, kadang-kadang kotor. Kadang-kadang mengalir-kadang tidak,” ucap pemilik rumah di klaster pinewood.

Masalahnya pula, tersering air tidak mengalir, tapi meteran pengukur debit kubikasi air tetap ‘berputar’. Alhasil, pemilik rumah harus tetap membayar. Walaupun air sering tidak diperoleh. Dan kualitasnya tidak memadai.

Mayoritas warga membayar iuran untuk air sebesar Rp 300.000. Biasa juga tiba-tiba naik di atas angka itu, kata mereka.

“Air mengalir sehari cuma empat jam. Pagi dua jam, siang dua jam. Kadang cuma malam atau pagi saja,” tuturnya.

Sudah sering warga menyampaikan komplain kepada manajemen Borneo Paradiso. Yang mengelola komplek itu. Tapi jawabannya tidak pernah memuaskan, menurut warga.

“Jadi, kita di sini kalau mau mandi, harus berjuang menunggu air dulu. Mau tidak mau begitu,” imbuhnya.

Kecuali, warga yang memang cukup kaya. Untuk terus-terusan membeli air dari luar. Yang diecer pakai tandon air itu. Atau warga menggunakan alat filtrasi (filter air) di rumah masing-masing. Masalahnya pun harga alat itu cukup mahal. Sampai Rp 4 juta-an. Dan mesti dibersihkan setiap hari. Itu kalau air mengalir lancar. Kalau tidak, alat filter itu juga tidak bisa membantu.

“Harga air beli di luar, Rp 70.000 per satu tandon untuk air kualitas standar. Kalu yang lebih baik lagi harga Rp 100.000. Hanya itu solusinya kalau mau mandi,” sebutnya.

Permasalahan ini sudah terjadi sejak 2016. Warga yang menghuni rumahnya di komplek itu sejak 2014 mengatakan, dulu pengelola perumahan mengambil air dari sumur bor. Saat itu, air yang diberikan ke warga kualitasnya baik. Alirannya lancar. Namun, kata dia, karena instalasi sumur itu tidak terawat dengan baik, akhirnya berhenti menghasilkan air bersih.

Sehingga perumahan menyedot air dari bendali yang semula untuk menampung air buangan. Itu berdasarkan pengamatan Disway-Nomor Satu Kaltim. Waduk itu memang menampung air dari dari parit-parit perumahan yang bermuara di sana. Dan mesin pompa mengalirkan air tanpa proses filtrasi yang memadai.

Warga mengaku tidak pernah diberitahukan mengenai mengenai standar kualitas air waduk tersebut. Terkait dengan derajat keasaman (Ph), kandungan mineral dan sebagainya.

“Kalau kami (warga) menanyakan dan mengeluhkan kondisi air ini, pihak manajemen hanya selalu melempar ke pusat. Tidak pernah ada solusi,” kata warga Borneo Paradiso itu.

Warga yang rumahnya tidak menggunakan filter air, mengaku kulitnya gatal-gatal jika mandi menggunakan air tersebut. “Kalau pakai filter sekalipun tetap masih berbau.”

Pada 2018, pimpinan manajemen Borneo Paradiso menjanjikan, bahwa air akan mengalir selama 14 jam non-setop. Warga katanya sangat senang mendengar janji komitmen itu.

Tetapi kemudian, janji air mengalir 24 jam itu, diundur sampai 2019 awal. Dan kemudian tidak pernah terealisasi hingga saat ini.

PEMBANGUNAN WTP YANG TAK KUNJUNG SELESAI

Manajemen Borneo paradiso mencoba merealisasikan janjinya itu dengan membangun WTP. Rencananya akan mengambil air dari waduk lain, di bagian ujung belakang dari komplek megah itu. Yang secara kasat mata airnya memang lebih jernih.

Namun, dari pengamatan Disway-Nomor Satu Kaltim, bangunan yang direncanakan untuk WTP itu baru setengah jadi. Belum ada pompa maupun bak penampung di sana.

Menurut pernyataan warga, kontraktor yang mengerjakan WTP itu belum dibayar hingga sekarang. Makanya pengerjaan dihentikan di tengah jalan.

Bahkan kontraktor sudah sempat mengancam akan membongkar bangunan dan instalasi yang sudah dibangunnya itu.

Kontraktor itu juga, katanya, sudah mencoba menawarkan investasi untuk meneruskan pembangunan WTP. Tapi tidak ada kejelasan dari manajemen Borneo Paradiso.

“Bagaimana mau investasi, kalau yang kemarin (pengerjaan awal) saja belum dibayar,” kata seorang sumber.

Menurut sumber itu, tidak semua warga komplek mengetahui kondisi ini. Sebagian yang tahu pun hanya terpaksa menggunakan. “Karena tidak semua mampu beli air terus menerus.”

Pun kalau mau beli filter, tidak bisa hanya sekali. Mesti sering diganti.

“Jadi beginilah keadaannya. Kita (warga) sudah sering teriak-teriak, datang ke kantor manajemen. Tapi tidak digubris. Cuma diberi janji-janji,” kata seorang warga ketika ditemui di rumahnya, Rabu (7/10/2020) lalu. Ia meminta identitasnya dirahasiakan dalam pemberitaan ini.

“Kami harap manajemen tahu dan mendengar keluhan ini. Jangan cuma tiap bulan diminta iuran tapi tidak ada perbaikan pelayanan,” tambahnya.

Ia mengatakan, komplek perumahan Borneo Paradiso, di Batakan, Balikpapan Timur itu, diperkirakan dihuni oleh 900-an warga.

PAILIT

Sumber lain yang ditemui menjelaskan, ratusan properti di Borneo Paradiso merupakan karya gabungan dari PT Cowell Development dan PT Karya Agung Perdana Indonesia (KAPI). Kedua pengembang itu bekerja sama dalam membangun komplek megah pertama di Balikpapan timur itu.

Namun, kata sumber itu, kantor gabungan kedua perusahaan itu berada di Jakarta. Sementara kantor manajemen pengelolanya berada di komplek tersebut.

PT Cowell Development resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta pada Juli lalu. Dan segala aset dan kekayaannya diambil alih oleh kurator untuk penyelesaian urusan utang piutangnya.

Namun, dalam perjalanannya, menurut sumber tersebut, gabungan manajemen usaha antara Cowell dan KAPI masih memegang kendali atas pengelolaan Borneo Paradiso.

Manajemen hingga saat ini masih menarik iuran kebersihan lingkungan, keamanan dan air dari warga komplek Borneo Paradiso.

“Selama ini kami membayar iuran kebersihan, keamanan dan air masih ke rekening yang sama,” ujarnya.

Manajemen pengelola pun masih menempati kantornya di komplek itu.

Media ini coba mendatangi kantor manajemen Borneo Paradiso di dalam komplek perumahan tersebut. Untuk menulusuri informasi yang diperoleh. Namun tak seorang pun yang dapat ditemui. Kantor terlihat tutup.

Sebelumnya, Disway-Nomor Satu Kaltim juga telah berulang kali datang ke kantor yang sama. Untuk mengonfirmasi terkait kasus pailitnya Cowell selaku pengembang perumahan tersebut. Namun orang-orang yang ditemui menolak memberi keterangan. Mereka mengaku tak berwenang. Meminta media ini menunggu atasannya dari Jakarta. Yang hingga kemarin (10/10/2020) tak ada kabar konfirmasi kesediaan untuk diwawancarai. (das/yos)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar