Membincang Pendidikan di Masa Pandemi

OLEH: ARIS SETIAWAN*

Pesatnya perkembangan teknologi informasi ibarat 2 mata pisau. Satu sisi memberikan jaminan kecepatan informasi. Sehingga memungkinkan guru untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan. Dalam pengembangan sumber dayanya. Namun, pada sisi yang lain, perkembangan ini mempunyai dampak negatif: informasi-informasi yang bersifat destruktif mulai dari pornografi, narkoba, pergaulan bebas hingga radikalisme juga masuk dengan mudahnya. Terlebih jika guru tak dapat membendung dengan filter ilmu pengetahuan dan karakter positif. Dalam berbangsa dan bernegara.

Guru merupakan salah komponen penting dalam dunia pendidikan kita. Untuk Indonesia maju, yang diperlukan adalah guru yang memiliki karakter, kapasitas, kemampuan inovasi, kreativitas yang tinggi, mandiri, inspiratif serta mampu bertahan dan unggul. Dalam menghadapi persaingan dunia. Guru dan siswa merupakan bagian  dari tatanan dan tahapan pendidikan yang penuh vitalitas. Aktif, reaktif, kreatif, sekaligus idealis. Saat kejumudan dan stagnasi terjadi dalam suatu masyarakat dan bangsa, para guru tampil melakukan kontruksi pembangunan. Saat kebekuan sedang melanda kehidupan masyarakat, para guru muncul melakukan pendobrakan. Ketika terjadi perusakan terhadap tatanan nilai serta sendi kehidupan, para guru tampil memberantasnya. Ketika kezaliman dan penindasan terjadi pada suatu kaum, maka para guru tampil menjadi pembela yang gigih. Sekaligus menjadi pengikut setia nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Itulah beberapa karakter kehidupan guru yang terukir indah dalam khazanah sejarah umat manusia.

Harus diakui bahwa mutu pendidikan di negara kita masih rendah. Kualitas pendidikan kita masih berada di bawah rata-rata negara berkembang lainnya.  Hasil survei World Competitiveness Year Book tahun 1997-2007 menunjukkan, dari 47 negara yang disurvei, pada tahun 1997 Indonesia berada pada urutan 39. Pada tahun 1999, berada pada urutan 46. Tahun 2002, dari 49 negara yang disurvei, Indonesia berada pada urutan 47, dan pada 2007 dari 55 negara yang disurvei, Indonesia menempati posisi ke-53.

Menurut laporan monitoring global yang dikeluarkan lembaga PBB, UNESCO, tahun 2005 posisi Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara berkembang di Asia Pasifik. Selain itu, menurut laporan United Nations Development Programme (UNDP), kualitas SDM Indonesia menempati urutan 109 dari 177 negara di dunia. Sedangkan menurut The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang merupakan lembaga konsultan dari Hongkong, menyatakan kualitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Di antara 12 negara Asia yang diteliti, Indonesia satu tingkat di bawah Vietnam.

EDUKASI SAAT PANDEMI

Saat ini kita hidup di era digital revolusi industri 4.0. Masa di mana kita bisa melihat terjadinya lompatan-lompatan besar dalam pelbagai bidang kehidupan. Mulai dari pendidikan dan sains yang berimbas pada teknologi, hingga bidang ekonomi dan industri yang berefek pada cara berinteraksi dan melayani.  Masyarakat kota dan desa nyaris tak ada bedanya. Saat bersentuhan dengan piranti teknologi komunikasi. Penggunaan gawai telah merajalela di semua lini kehidupan bermasyarakat. Tak ada lagi sekat masalah usia. Semua orang dapat bergaya dengan smartphone. Seluruh lapisan masyarakat mempunyai hak yang sama. Untuk bisa mengakses dan menggunakan beragam piranti komunikasi. Ruang-ruang media sosial menjadi ruang publik bagi siapa saja yang memanfatkannya.

Guru sebagai praktisi edukasi terbaik diciptakan melalui keseriusan pemerintah lewat Kemendikbud. Untuk melatih dan mengembangkan kemampuan mereka. Tanpa pembinaan, bimbingan, dan arahan dari pemerintah serta generasi pendahulunya, mustahil generasi muda terbaik itu dicipta. Pengembangan dan pembinaan generasi muda pada level sekolah, seperti OSIS, PMR, KIR, dan organisasi mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi semisal BEM, LDK, HIMA, maupun organisasi fungsional kepemudaan seperti pramuka, karang taruna, organisasi keolahragaan, dan lain sebagainya. Menciptakan guru yang berkarya positif melalui berbagai dimensi perlu ditingkatkan secara teratur dan berkelanjutan.

Perlu usaha peningkatan kesadaran para guru untuk mengurangi terjadinya dekadensi moral, pengangguran, kemiskinan, kekerasan serta narkoba. Pada pribadi setiap guru perlu dibangun mentalitas dan karakter. Agar terwujud generasi muda yang berkualitas, cerdas, kreatif, inspiratif, dan inovatif. Sebab, guru dituntut agar tidak apatis pada masalah yang terjadi di sekelilingnya. Jika kita terbiasa bersaing secara lokal, maka kemampuan kita pun kualitas lokal. Para guru harus dibiasakan bersaing secara global. Sehingga mereka dapat mencetak pemimpin bangsa yang mendunia.

KREATIVITAS GURU

Kita menyaksikan bahwa pandemi COVID-19 telah mengubah pola pembelajaran secara masif. Proses pembelajaran yang mestinya dilaksanakan secara tatap muka sekarang berubah menjadi sistem pembelajaran jarak jauh atau daring. Organisasi PBB yang mengurusi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan, UNESCO menyebutkan, lebih dari 850 juta siswa di dunia tidak bisa belajar di sekolah akibat COVID-19. Imbasnya terasa bagi masyarakat Indonesia. Mayoritas daerah menerapkan pembelajaran daring atau jarak jauh. Hal ini dilakukan dalam rangka meminimalisasi cepatnya penyebaran COVID-19. Kebijakan penutupan tersebut sebagai respons terhadap kebijakan dan imbauan pemerintah untuk melakukan social distancing.

Zaman milenial yang nyaris tanpa batas menuntut setiap orang yang hidup dalam era tersebut untuk bisa berkembang sesuai arah zaman. Sehingga tidak salah kiranya jika kita perlu memaknai kembali arti sumpah guru di era milenial ini. Zaman di mana banyak orang menyebutnya sebagai era revolusi industri 4.0. Era yang dipenuhi dengan teknologi ini, kaum muda tidak bisa lagi menjadi kelompok yang selalu menunggu dan berharap bantuan dari orang yang lebih muda. Guru adalah kekuatan yang bisa mengguncang stagnasi. Para guru merupakan penopang bangsa. Tulang punggung harapan negara.

Masa depan suatu bangsa tergantung pada generasi mudanya. Dalam konteks pendidikan, maka para pelajar merupakan manifestasi dari generasi muda. Generasi yang sedang tumbuh berkembang menyerap berbagai macam ilmu. Pelbagai ragam ilmu tersebut dapat diperoleh dari beragam sumber. Karena pengaruh globalisasi, internet, teknologi, dan sebagainya. Generasi muda harus memiliki filter. Yang mampu menyaring berbagai macam informasi yang masuk. Agar tidak salah arah. Yang dapat mempengaruhi karakter suatu bangsa.

Konteks peran guru dalam memanifestasikan perubahan tatanan dunia pendidikan, guru hendaknya tidak lagi hanya terpaku pada persoalan-persoalan lokal dan nasional. Tetapi tanpa menyadari konteks internasional. Ajakan John Nesbit perlu dilakukan, “Think Globally, Act Locally”. Walaupun kita bertindak lokal, tetapi cara berpikirnya adalah global. Secara langsung maupun tidak, guru kita hidup di dalam komunitas internasional. Yang sedikit banyak akan memengaruh dinamika kehidupan lokal dan nasional.

Saya percaya bahwa sektor apapun, faktor paling dominan dalam pembangunan daerah adalah SDM. Dalam hal ini, SDM pada angkatan kerja produktif. Usia muda. Jadi, marilah kita bersinergi untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik. Kepada pemerintah daerah, tumbuhkan semangat dan kreativitas para generasi muda. Berikan mereka lahan untuk tumbuh. Berikan mereka pupuk untuk tumbuh lebih cepat. Semoga! (*Kandidat Doktor MP Unmul Samarinda)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar