Mahasiswa Sangatta Mosi Tidak Percaya ke DPRD Kutim

Kutim, nomorsatukaltim.com – Aksi penolakan UU Cipta Kerja di Sangatta, Kutai Timur (Kutim) berjalan alot dan panjang. Hingga 6 jam demonstran berorasi di DPRD Kutim. Namun berujung pada mosi tidak percaya terhadap DPRD.

Sempat terjadi kericuhan. Saling dorong mahasiswa dan aparat keamanan membuat pintu kaca kantor DPRD Kutim pecah. Setelah itu ada negosiasi. Akhirnya mahasiswa bisa masuk gedung wakil rakyat itu.

Perjanjian pun dibuat. Sebagai jaminan tak ada kerusakan pada ruangan. Rupanya terjadi perbedaan pandangan. Mahasiswa mengira bakal menempati ruang paripurna. Ternyata anggota legislatif hanya mau memakai ruang hearing saja.

Alhasil, perdebatan pun terjadi. Para mahasiswa bersikukuh meminta ruang paripurna. Sementara, anggota DPRD Kutim hanya bisa menyiapkan ruang hearing.

“Apa susahnya membuka ruang paripurna. Ini juga rumah rakyat kan? Tadi Bapak bilang ada ruangan yang cukup menampung kita semua,” Ucap Irwan Abbas, jenderal lapangan aksi.

Menanggapi itu, salah satu anggota DPRD Kutim, Arfan menyampaikan alasan. Kenapa tidak bisa pakai ruang paripurna. Karena dari negosiasi sudah disepakati pakai ruang hearing. Kemudian ruang paripurna hanya dipakai untuk paripurna saja.

“Untuk penyampaian aspirasi bisa di ruang ini saja. Kalau bisa pakai ruang paripurna, dari tadi pagi bisa dilakukan,” ujar politisi partai Nasdem ini.

Mahasiswa pun memilih kembali keluar dan menyatakan mosi tidak percaya kepada DPRD Kutim. Menurut mereka, ini salah satu bentuk kebohongan kecil. Bukan tidak mungkin kebohongan lain banyak dilakukan para wakil rakyat ini.

“Jika seperti kami akan keluar dan menyatakan mosi tidak percaya terhadap DPRD Kutim. Kawan-kawan semua mari kita keluar!” ujar Irwan sembari meminta kawan-kawannya keluar.

Setelah keluar, masa aksi tidak langsung bubar. Mereka masih berorasi di depan gedung. Menjelang maghrib, massa aksi belum juga cair. Masih bergerombol di sekitar gedung DPRD Kutim. (bct/ava)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar