Bawa ‘Bekal’ Miliaran Rupiah, Diciduk KPK di Restoran Mewah

Operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kepada Bupati Kutim nonaktif, Ismunandar sudah terjadi Juli lalu. Dalam persidangan yang digelar Selasa (6/10/2020) lalu, terungkap jelas kronologi operasi senyap tersebut. Berikut kami sarikan dari berita acara pemeriksaan (BAP) yang diungkap dalam persidangan.

nomorsatukaltim.com – DUA rombongan bertolak dari Kutim menuju Jakarta, Kamis (2/7/2020) silam. Rombongan pertama berisi sembilan orang, yakni Ketua DPRD Kutim yang juga istri Ismunandar, Encek UR Firgasih. Ia ditemani oleh Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kutim Musyaffa, bakal calon Wakil Bupati Kutim Iman Hidayat dan istri, Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kutim Tarno, serta anggota DPRD Kutim Joni.

Ada pula Muhammad Ali dan Fitriani selaku anggota DPRD Kutim dari Fraksi PPP, serta Dedi Febriansara selaku staf Musyaffa di Bapenda Kutim. Sedangkan untuk rombongan kedua, hanya Ismunandar yang terbang ke Jakarta, ditemani ajudannya, Arief Wibisono.

Perjalanan dua rombongan ini menghabiskan biaya sekira Rp 33 juta. Seluruhnya dibayar oleh Musyaffa melalui kartu debitnya, jauh hari.

Baca juga: Ismunandar Terima Suap untuk Mahar Politik | Sebagian untuk Bayar Utang Pilkada 2015

Pada Kamis pagi itu, Musyaffa mengawali perjalanan bersama Dedi Febriansara, dari Kutim menuju Bandara APT Pranoto Samarinda. Setibanya di bandara, ia bertemu dengan rombongan Encek bersama enam orang lainnya yang telah disebutkan di atas. Mereka kemudian terbang menuju Jakarta menggunakan maskapai Batik Air sekitar pukul 10.30 WITA. Rombongan pertama ini tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang pukul 11.30 WIB.

Dari sana, rombongan ini kemudian berpisah menggunakan tiga mobil rental. Untuk rombongan Encek, Fitriani, dan Tarno, langsung menuju ke pusat perbelanjaan FX Sudirman di Senayan. Sementara Iman Hidayat dan istri, menuju ke daerah Pejaten guna menemui anaknya. Sedangkan Musyaffa dan Dedi, langsung menuju lokasi rombongan mereka akan menginap, di Hotel Pullman.

Di hotel, Musyaffa melakukan reservasi enam kamar yang telah dipesan selama dua hari. Terhitung sejak 2-4 Juli. Pembayaran hotel ini lagi-lagi menggunakan kartu debit milik Musyaffa, sebesar Rp 15,2 juta.

Di tempat terpisah, sekitar pukul 09.00 WITA, Ismunandar berada di Samarinda. Menghadiri pertemuan bersama Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi, di Kegubernuran Kaltim. Terkait rapat pembahasan batas wilayah antara Kutim dan Berau.

Sekitar pukul 11.30 WITA, usai menghadiri rapat tersebut, Ismunandar bersama ajudannya langsung bertolak menuju Balikpapan. Tiba di Kota Minyak sekitar pukul 13.00 WITA, Ismunandar menghadiri acara pertemuan dengan Kerukunan Warga Banjar Balikpapan. Pertemuan ini berlangsung hingga pukul 14.00 WITA.

Setelahnya, Ismunandar bersama ajudannya langsung menuju ke Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, dan melakukan penerbangan menuju Jakarta sekitar pukul 15.00 WITA. Setibanya di Bandara Soekarno Hatta pada pukul 17.00 WIB, Ismunandar kembali melakukan perjalanan menuju pusat perbelanjaan FX Sudirman di Senayan. Di sana ia akan bertemu dengan seorang anggota DPR RI, Syarif Abdullah Alkadrie. Ia berperan sebagai koordinator dari Partai Nasdem khusus Wilayah Kalimantan.

Pertemuan ini perihal menanyakan surat keputusan (SK) penetapan dukungan bagi calon Bupati dan Wakil Bupati yang akan maju di Pilkada Kutim. Di mana nantinya, SK tersebut akan diberikan kepada Ismunandar dan Iman.

Ismunandar yang tiba di FX Sudirman, kemudian bertemu sang istri, Encek bersama rombongannya yang sedari tadi menunggu kehadirannya di sana. Selanjutnya sekitar pukul 18.30 WIB, pertemuan antara Ismunandar dan Syarif pun berlangsung.

Bawa ‘Bekal’ Miliaran Rupiah, Diciduk KPK di Restoran Mewah

Grafis: Putri/Nomor Satu Kaltim

Di awali dengan makan sate khas Senayan, pertemuan itu dihadiri pula dengan sejumlah orang dari partai Nasdem. Tak lama kemudian, Musyaffa yang sebelumnya berada di hotel, dihubungi Ismunandar untuk menyusul di perjamuan makan.

Setibanya di restoran, Musyaffa yang telah membawa uang dengan jumlah besar di rekeningnya itu, ikut berbaur di dalam perbincangan. Belakangan diketahui, tujuan rombongan ini bertandang ke Jakarta, hanya untuk membahas mahar politik, apabila nantinya diminta oleh partai politik tersebut. Kata Ismunandar, biasanya mahar yang diminta oleh partai politik berada di kisaran Rp 2-3 miliar, guna mendapatkan SK dukungan.

Baca juga: Sidang Lanjutan Dugaan Suap Ismunandar, Duit Suap untuk Modal Pilkada

Pertemuan yang berlangsung khidmat ini pun, tiba-tiba berubah mencekam tatkala sejumlah petugas KPK menciduk Ismunandar, Encek, dan Musyaffa, serta beberapa orang lainnya untuk di bawa Ke kantor KPK.

Tak hanya melakukan OTT di Jakarta. Di waktu bersamaan, rupanya KPK melangsungkan operasi senyap di tiga tempat sekaligus. Yakni di Jakarta, Samarinda dan Kutim. Petugas meringkus sejumlah orang yang diduga ikut terlibat dalam dugaan kasus suap tersebut.

Di awal pengungkapan ini, KPK menangkap sebanyak 16 orang. Tujuh di antaranya ditetapkan tersangka, sedangkan lainnya berstatus sebagai saksi. Seperti diberitakan sebelumnya, KPK kala itu bergerak dengan membagi menjadi dua tim. Diterjunkan di wilayah Jakarta dan Kalimantan Timur.

KPK bergerak setelah mendapatkan adanya laporan dari masyarakat, bahwa Ismunandar, Encek dan Musyaffa datang ke Jakarta. Untuk memuluskan langkah Ismunandar maju sebagai calon Bupati Kutim periode 2021-2024. Di hari yang sama, sekitar pukul 18.45 WIB, KPK mendapatkan informasi adanya penggunaan uang yang diduga dikumpulkan dari para rekanan swasta. Yang mengerjakan proyek di Pemkab Kutim untuk Ismunandar.

Penangkapan Ismunandar, Encek, dan Musyaffa terjadi di restoran FX Sudirman, Senayan, Jakarta. Hasil tangkap tangan tersebut, ditemukan sejumlah uang tunai sebesar Rp 170 juta, beberapa buku tabungan dengan total saldo Rp 4,8 miliar, dan sertifikat deposito sebesar Rp 1,2 miliar.

Setelah dilakukan pemeriksaan, KPK menetapkan Ismunandar, Encek dan Musyaffa sebagai tersangka suap terkait proyek pekerjaan infrastruktur tahun anggaran 2019-2020. Selain mereka, ada empat tersangka lainnya yang telah ditangkap di Kutim dan Samarinda.

Keempat tersangka itu ialah, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kutim Suriansyah, dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kutim Aswandhinie Eka Tirta. Sementara dua lainnya adalah Aditya Maharani Yuono dan Deki Aryanto. Mereka adalah pihak kontraktor sekaligus rekanan swasta dari Pemkab Kutim.

Dari BAP, disebutkan barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 170 juta, rekening dengan total saldo Rp 4,8 miliar, dan sertifikat deposito sebesar Rp 1,2 miliar itu berasal dari tangan Musyafa. Uang itu merupakan pemberian Aditya Maharani dan Deki Aryanto, yang akan digunakan Ismunandar sebagai modal biaya Pilkada. Uang sebanyak itu juga rencananya untuk biaya mahar politik untuk parpol.

“Uang itu saya terima setiap kali adanya pencairan termin. Saya tidak pernah mematok. Tapi biasanya dengan persentase potongan senilai 10 persen per proyek dari para rekanan swasta,” ucap Musyaffa di dalam persidangan saat memberikan kesaksiannya.

Sedangkan uang tunai sebesar Rp 170 juta, disebut Ismunandar digunakan bekal biaya perjalanan selama di Jakarta. “Rencananya mau digunakan untuk berjaga-jaga untuk mahar politik. Biasanya yang diminta, kurang lebih Rp 2-3 milliar,” demikian Ismunandar. (aaa/zul)

Saksikan video menarik berikut ini: