Terganggu COVID-19

LOBSTER, salah satu contoh budidaya laut yang berpotensi dan menguntungkan di Kabupaten Berau. (IST )

Produksi Budidaya Perikanan di 2020

TANJUNG REDEB, DISWAY – Produksi budidaya perikanan dalam dua tahun terakhir cukup tinggi (2018-2019). Sementara di 2020, produksi diprediksi mengalami penurunan karena pandemik COVID-19.

Data Dinas Perikanan Berau, produksi budidaya ikan terbagi menjadi 3 lokasi. Yakni tambak, budidaya laut dan air tawar. Pada tahun 2018, produksi tambak dapat terealisasi sebesar 1.843 ton sehingga melampaui target dari 1.748 ton. Begitu juga dengan budidaya air laut, realisasi produksi sebesar 136 ton dari target sebesar 121 ton. Dan, realisasi produksi air tawar yaitu sebanyak 355 ton dari target 358 ton. Total produksi budidaya di tahun 2018 yaitu 2.344 ton dari target 2.227 ton. 

Lalu di tahun 2019 produksi mengalami peningkatan pada produksi budidaya laut dengan total 154 ton dari target 142 ton, begitu juga dengan air tawar terealisasi sebesar 379 ton dari target yaitu 371 ton. Sedangkan yang mengalami penurunan terjadi di produksi tambak yaitu realisasi sebesar 1.822 ton dari target yaitu 1.842 ton. Untuk total produksi budidaya di tahun 2019 yaitu 2.356 ton dari target yaitu 2.356 ton. 

Sedangkan data sementara di tahun 2020 belum dapat dipaparkan, karena harus dilakukan validasi, sebab terganggu pandemik COVID-19. Kendati begitu, Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Berau, Ramli mengakui, adanya penurunan jumlah produksi karena permintaan yang juga turun. 

“Bagi kami, produksi adalah komoditas yang diangkat dari tambak, nah tetap ada produksi, tapi karena permintaan yang menurun, jadi terpaksa ditahan terlebih dahulu, sebab harga juga ikut jatuh,” jelasnya kepada Disway Berau, Senin (5/10).

Meskipun tidak menyebutkan berapa besaran penurunan harga, tidak semua jenis budidaya mengalami penurunan. Seperti produksi air tawar masih stabil, berbeda dengan budidaya air laut yang mengalami penurunan produksi dan harga hingga 50 persen. Khususnya pada udang windu, lobster dan kerapu. Penurunan terjadi sebab adanya lockdown negara lainnya. Sehingga penjualan dialihkan antar kota dan domestik, namun tidak menutup seperti tahun-tahun lalu. 

Jika dalam kondisi normal, produksi budidaya bandeng cukup populer dan sudah banyak diolah menjadi olahan produk ikan bagi beberapa industri kecil menengah maupun UMKM. Contohnya realisasi khusus ikan bandeng di tahun 2019 sebesar 943 ton dari target 931 ton. 

“Penurunan itu terasa sejak Maret hingga 3 bulan kemudian, namun setelahnya kembali stabil kembali. Terutama yang menjadi sangat populer budidaya nya yaitu ikan lele,” ungkapnya. 

Ramli mengatakan, budidaya lele menjadi populer lantaran pandemik berlangsung. Menurut pengamatan mereka, produksi budidaya ikan lele terbilang mudah sehingga dapat menjadi healing bagi kebosanan masyarakat di kala pandemik. Padahal di tahun sebelumnya, produksi ikan lele tidak begitu banyak, masih tersaingi dengan produksi budidaya ikan nila dengan total produksi mencapai 151 ton per tahun. 

Dia menambahkan, pengembangan budidaya lele di tengah pandemik juga merupakan penguatan pangan keluarga pada masa rawan. 

Setiap tahunnya, budidaya memang selalu diupayakan dapat terus menghasilkan produksi yang berlimpah, sebab adanya teknologi yang sudah tidak lagi konvensional dan perluasan lahan berpotensi. 

Seperti halnya lahan budidaya air payau seluas 20.850 hektare, laut sebesar 2.500 hektare dan air tawar seluas 107 hektare. Pihaknya berharap, dapat merealisasikan sebesar luasan potensi sesuai dengan angka tersebut. 

“Sekarang kita kembangkan teknologi bioflok agar budidaya tidak terkesan konvensional lagi, dan bisa mengalihkan nelayan yang biasanya mengandalkan dengan cara menangkap namun melalui budidaya langsung. Karena cenderung ramah lingkungan,” tandasnya. *RAP/APP

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar