Menguak Pentingnya Manajemen Pemberdayaan Guru

OLEH: ARIS SETIAWAN*

Pendidikan merupakan suatu proses yang tidak lepas dari peran sumber daya manusia (SDM). Karena salah satu aspek terpentingnya adalah manusia sebagai subjek maupun objek. Manusia sebagai pelaku dalam organisasi berperan aktif dalam kegiatan di dalamnya. Sebab ia menjadi perencana, pengorganisasi, pelaksana, dan pengevaluasi atas terwujudnya tujuan organisasi.

Pemberdayaan dan pembinaan semua potensi SDM organisasi mutlak diperlukan. Hal ini berkaitan dengan salah satu tujuan organisasi: menciptakan SDM yang berdaya guna dan mempunyai budaya mutu yang baik. Pemberdayaan SDM juga berlaku dalam dunia pendidikan. Karena secara khusus proses pembelajaran yang diperankan guru tidak dapat digantikan oleh teknologi. Agar SDM berfungsi optimal, efektif, dan efisien, maka perlu dilakukan manajemen yang baik pula. Mulai dari tahap perencanaan (planning) sampai pada tahap akhir dalam fungsi manajemen: pengawasan (controlling).

Mutu pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih cukup memprihatinkan. Terutama jika dibandingkan dengan negara-negara di dunia. Dari 47 negara di Asia, mutu pendidikan di Indonesia menempati urutan ke-41 (Engkoswara, 2004:1). Mutu pendidikan yang rendah tersebut berdampak pada rendahnya mutu SDM. Hal ini dapat dilihat dari kesenjangan yang tajam pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan indeks kompetitif Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Misalnya di kawasan ASEAN.

Seiring dengan gerakan reformasi, maka perubahan mendasar dalam penyelenggaraan sistem pendidikan harus dilakukan. Termasuk di dalamnya usaha memberdayakan guru. Sebagai kunci utama keberhasilan pendidikan. Guru harus didorong berbuat lebih kreatif serta inovatif. Agar menemukan berbagai metode baru yang sesuai dan tepat untuk proses pembelajaran. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi persoalan tersebut adalah dengan kegiatan pemberdayaan guru.

Dalam lingkup sekolah, kepala sekolah mempunyai peran penting dalam memberdayakan guru di sekolah. Sebab ia merupakan tokoh sentral. Dalam pelaksanakan fungsi manajemen sekolah. Kepala sekolah harus mampu memberdayakan unsur manusia secara optimal. Untuk mengembangkan budaya mutu sekolah. Dalam hal ini, ia tidak harus melaksanakan sendiri segala tindakan yang bersifat operasional sekolah. Tetapi lebih pada porsi mengambil keputusan, menentukan kebijakan, dan menggerakkan orang lain. Untuk melaksanakan keputusan sesuai dengan program kerja.

Terkait pelaksanaan tugas yang diemban guru sesuai amanat UU, maka guru menghadapi berbagai hambatan, persoalan, dan tantangan di lapangan. Seyogianya guru diberikan otonomi yang luas. Dalam melaksanakan tupoksinya. Sehingga tidak terpaku pada pola yang ada. Seperti berbagai petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis. Yang menyebabkan kreativitas guru terpasung.

Profesi guru mempunyai implikasi terhadap peran dan fungsi yang menjadi tanggung jawabnya. Guru memiliki satu kesatuan peran dan fungsi yang tidak terpisahkan: mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih. Keempat kemampuan tersebut merupakan kemampuan terintegrasi yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Seorang guru yang belum memiliki kemampuan salah satu dari keempat kompetensi pokok tersebut, maka belum dapat dikatakan sebagai guru profesional yang paripurna.

Manajemen pemberdayaan guru mutlak diperlukan dalam sebuah organisasi sekolah. Agar program dapat berjalan secara optimal. Manajemen pemberdayaan guru menjadi rangkaian penting. Dalam usaha pencapaian visi dan misi sekolah. Serta peningkatan mutu pendidikan secara umum. Hal tersebut memerlukan sinergi dan komitmen. Semua komponen sekolah.

Sekolah sebagai sebuah organisasi memiliki budaya tersendiri. Dibentuk dan dipengaruhi oleh nilai-nilai persepsi, budaya, kebijakan pendidikan, dan perilaku orang di dalamnya. Budaya setiap sekolah ditunjukkan dengan perbedaan aturan, kebiasaan, upacara-upacara, dan lambang-lambang. Yang memberikan ciri khas pada sekolah. Apa yang ditampilkan sekolah sesungguhnya menggambarkan budaya sekolah yang mempunyai pengaruh mendalam terhadap proses dan cara belajar.

Salah satu teori manajemen yang banyak diterapkan dalam organisasi adalah teori manajemen mutu. Saat ini disebut dengan Total Quality Management (TQM). Untuk mengimplementasikan teori manajemen ini dengan baik, ternyata diperlukan nilai-nilai yang menjadi budaya organisasi tersebut. Budaya yang menyokong sistem manajemen tersebut disebut dengan budaya mutu. Dalam kaitan dengan TQM ini, budaya mutu adalah suatu budaya yang memiliki tema sentral. Untuk peningkatan terus-menerus (contiuous improvement) (Burnham, 1997, EUA, 2005).

Sekolah sebagai suatu organisasi memerlukan program pengembangan. Sehingga kapasitas yang dimiliki dapat ditingkatkan. Untuk memberikan kontribusi positif bagi kemajuan masyarakat dan negara. Berkaitan dengan hal tersebut, kita perlu menyoroti program dan kebijakan pengembangan sekolah sebagai konsep dan strategi kunci. Untuk mengatasi masalah kesenjangan. Antara tuntutan masyarakat dan dinamika persaingan. Yang semakin meningkat.

Di negara maju, riset tentang budaya dan iklim di sekolah telah berkembang baik dan memberikan sumbangan yang cukup signifikan. Bagi pembentukan sekolah-sekolah yang efektif. Menurut Olim, dkk., penelitian budaya dalam mengkaji masalah pendidikan masih kurang. Karena problem pendidikan dipandang menjadi area psikologi pendidikan. Dengan fokus pada lingkungan kelas. Seperti didaktik dan metodik.

Budaya yang selalu berkembang secara berkelanjutan harus dimiliki seluruh komponen dalam organisasi. Termasuk sekolah. SDM di sekolah mesti menjadi manusia pembelajar. Budaya menjadi manusia pembelajar ini akan memudahkan organisasi. Untuk melakukan perubahan dan perkembangan. Rendahnya budaya mutu pendidikan di Indonesia mendorong pemerintah. Untuk melakukan berbagai upaya. Untuk meningkatkannya pada semua jenjang.

Sekolah yang memiliki keunggulan budaya mutu dapat dilihat dari beberapa variabel. Yang memengaruhinya: prestasi, kondisi fisik, lingkungan sekolah, dan budaya sekolah. Menurut Kemendikbud, budaya mutu sekolah tercermin pada komponen: (1) pembelajaran intrakurikuler yang efektif, (2) kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pembentukkan karakter peserta didik, (3) kepemimpinan kepala sekolah disertai dengan manajemen berbasis sekolah, (4) pengelolaan perpustakaan yang mendukung pembelajaran yang efektif dan menumbuhkembangkan budaya baca warga sekolah, dan (5) lingkungan sekolah yang merefleksikan kondisi bersih, rapih, dan sehat.

Pengembangan budaya mutu sekolah merupakan upaya perluasan perhatian dan tindakan untuk mengembangkan budaya mutu sekolah yang berfokus pada: (1) perencanaan yang terukur, (2) pengorganisasian yang jelas, 3) pelaksanaan yang efektif dan efisien, 4) monitoring dan evaluasi kemajuan secara berkelanjutan.

Idris Apandi membagi mutu sekolah meliputi 3 hal: (1) mutu input (segala hal yang diperlukan untuk berlangsungnya pembelajaran. Seperti guru, siswa, bahan ajar, dan sarpras), (2) mutu proses (kegiatan pembelajaran dan perubahan tingkah laku siswa), dan (3) mutu output (prestasi, baik akademik maupun nonakademik).

Pengembangan budaya mutu diperlukan untuk merekonstruksi atmosfer mutu pendidikan. Sebagai tolok ukur yang paling vital. Dalam menjawab persoalan global. Yang bersifat gradual. Pengembangan budaya mutu sekolah dimaksudkan untuk mewujudkan sekolah yang memiliki budaya mutu. Dalam memberikan layanan prima dan menjadi patok duga (benchmark) bagi sekolah lain. Menjadi acuan bagi pembinaan para pemangku kepentingan. Yang akan memberi imbas keberhasilannya kepada sekolah lain. (*Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul Samarinda)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar