Industri Retail Antisipasi Penurunan Daya Beli, Stok Produksi Dikurangi

retail non bahan pokok masih stabil meski daya beli masyarakat menurun.

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Deflasi yang dialami Kalimantan Timur (Kaltim) September lalu bersumber dari kelompok pakaian dan alas kaki. Yakni sebesar 1,46 persen (mtm).

Kepala Perwakilan BI Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan deflasi kelompok pakaian dan alas kaki terjadi karena dampak masyarakat yang masih membatasi kegiatan konsumsi non bahan pokok.

Hal ini nampak dalam Survei Konsumen BI September kemarin. Di mana ada penurunan baru. Dari 90,25 menjadi 82,17. Ini juga dikonfirmasi dengan Indeks Penjualan Riil dalam Survei Penjualan Eceran BI yang mencatat adanya konstraksi 0,4 persen.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Kaltim Gatot Teguh Januar menuturkan penurunan daya beli masyarakat memang terjadi. Namun untuk industri retail sendiri, dikatakan masih terbilang stabil.

Memang saat ini, situasinya kecenderungan masyarakat lebih kepada hal-hal yang bersifat ke kepentingan bahan pokok. Mengenai perihal pakaian dan lainnya, masyarakat sedikit mengabaikan. “Hal-hal yang lebih safety dibeli. Yang punya anak, akan membeli kebutuhan pokok seperti susu, beras, telur, minyak, gula,” sebutnya.

Penurunan omzet memang dirasakan oleh kelompok pakaian dan alas kaki. Situasi di lapangan, dikatakan Gatot, fokus utama customer hanya berada di bahan pokok. Persentase stok produksi pun juga diantisipasi oleh para pelaku usaha retail. “Yang dimana sebelumnya bisa menyediakan hingga berkilo-kilo (bahan produksi) sekarang tidak. Karena kewaspadaan juga mereka lakukan,” ucapnya.

Gatot juga menyarankan kepada para pelaku usaha untuk tetap melakukan inovasi-inovasi baru. Agar eksistensi usaha mereka tetap terjaga. Walaupun berat karena situasi pandemi yang terjadi.

Menurut Gatot lagi, peluang usaha retail sendiri masih terbilang aman di keadaan saat ini. Lantaran, beberapa pelaku usaha yang sebelumnya tidak berkecimpung di sektor retail, justru terjun di industri tersebut.

Baca Juga: Rencana Nagabhuana Bangun Pabrik Ketujuh di Kaltim

“Saat ini orang-orang yang mendadak untuk menjadi peritel banyak. Contohnya seperti pelaku usaha di sektor pertambangan. Karena situasinya lagi bermasalah, harga turun, demand juga turun. Melihat tren pasar saat ini, industri ritel masih menjanjikan. Dari retail-retail yang ada, pertumbuhan juga meningkat,” tandasnya. (nad/eny)

Saksikan video menarik berikut ini: