Ekonomi Amerika Anjlok 31,4 persen

Washington, nomorsatukaltim.com – Pandemi COVID-19 menjadi pukulan telak bagi ekonomi Amerika Serikat (AS). Pasalnya hampir 4 juta orang di negara ini kehilangan pekerjaan.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengklaim jumlah pengangguran yang kehilangan pekerjaan permanen naik hingga 345.000 orang pada September ke level tertinggi 7 tahun: 3,8 juta pengangguran.

Artinya, beberapa orang yang semula hanya dirumahkan, kini harus kehilangan pekerjaan secara permanen. Karena banyak bisnis yang tutup dan perusahaan yang memangkas biaya di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Itu berarti, apa yang awalnya diharapkan banyak orang sebagai cuti atau kehilangan pekerjaan sementara menjadi permanen. Karena bisnis tutup dan pemotongan biaya. Pasar tenaga kerja AS telah tenggelam ke level terendah dalam 19 tahun pada Februari lalu. Tepat sebelum pandemi meletus di negara ini.

Lonjakan pengangguran permanen Amerika memberikan bukti nyata tentang efek ekonomi yang disebabkan oleh krisis kesehatan.

“Ini adalah pertanda yang tidak menyenangkan,” kata Austan Goolsbee, mantan penasihat ekonomi Presiden Obama, kepada CNN Business melalui email, Minggu (4/10).

Ketika banyak orang AS kehilangan pekerjaan, Departemen Tenaga Kerja mengklasifikasikan beberapa orang sebagai pemberhentian sementara. PHK yang diklasifikasikan sebagai permanen adalah orang-orang yang baru saja menyelesaikan pekerjaan sementara atau kehilangan posisinya untuk selamanya. Berarti pekerjaan tersebut belum kembali.

Persentase penganggur Amerika yang diklasifikasikan sebagai penganggur permanen naik menjadi 35,6 persen pada September atau naik dari 11,1 persen pada April.

“Ini sangat mengkhawatirkan. Tidak hanya untuk orang-orang ini. Tetapi juga untuk apa yang dikatakannya tentang pemulihan,” kata Kepala Ekonom di PNC Gus Faucher, dikutip dari NBC Palm Springs.

JURANG RESESI

Pemerintah AS akhirnya mengumumkan angka perekonomian AS di kuartal II-2020. Negeri Paman Sam itu mengalami kontraksi di kuartal II-2020: minus 31,4 persen dibandingkan 2019 atau year on year (yoy). Artinya, ini kondisi ekonomi AS terburuk dalam 73 tahun terakhir atau sejak tahun 1947.

Dikutip dari Reuters, angka itu baru diumumkan pemerintah melalui Departemen Perdagangan AS akhir bulan lalu. Sebelumnya, perekonomian AS di kuartal II-2020 mengalami kontraksi hingga 31,7 persen. Lalu pada 31 Juli 2020, Biro Analisis Ekonomi mencatat kontraksinya hingga 32,9 persen.

Dilansir dari CNBC, pemerintah AS akan merilis laporan PDB di kuartal III-2020 ini pada 29 Oktober 2020 atau 5 hari sebelum pemilihan presiden yang akan menentukan apakah petahana Presiden AS Donald Trump akan bertahan atau didepak oleh saingannya: Joe Biden.

Meski di kuartal I dan II-2020 ekonomi AS anjlok, sejumlah ekonom percaya perekonomian AS akan berkembang lagi di kuartal III-2020 pada tingkat tahunan 30 persen. Pasalnya, di kuartal III-2020 ini bisnis telah dibuka kembali. Lalu para pegawai juga mulai bekerja.

Namun, kepercayaan itu juga bergantung pada keputusan Kongres. Apakah akan menyetujui stimulus baru untuk bangkit dari keterpurukan dampak COVID-19 atau tidak. Jika Kongres gagal, maka perekonomian AS diprediksi akan jatuh ke resesi yang cukup panjang.

Di kuartal I-2020, perekonomian AS sudah mengalami kontraksi hingga 5 persen. Kemudian di kuartal II-2020 31,4 persen. Sehingga AS jatuh ke jurang resesi.

BUTUH WAKTU

Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengisyaratkan, pemulihan ekonomi AS berjalan lama dan penuh ketidakpastian. Sebab, pemulihan hanya akan terjadi apabila masyarakat merasa aman dari infeksi virus corona (COVID-19).

Artinya, perekonomian negara adidaya tersebut bergantung pada pengendalian virus corona. “Termasuk kebijakan yang ditempuh Pemerintahan Presiden Donald Trump,” ujar Powell, seperti dilansir AFP.

Kepala bank sentral AS itu memberikan pernyataan di depan legislator dan senat terkait dampak pandemi COVID-19, yang mengakibatkan puluhan juta pekerjaan hilang, sekaligus mencetak rekor pertumbuhan ekonomi (PDB) terendah karena penguncian wilayah (lockdown).

Memang, beberapa sektor ekonomi, seperti penjualan ritel dan perumahan, telah bangkit dan mencatat pertumbuhan positif, namun Powell menyebut, pemulihan terjadi hanya apabila masyarakat mulai aktif berkegiatan. Hal itu mungkin bila mereka merasa aman dari ancaman COVID-19.

The Fed telah menggelontorkan bantuan triliunan dolar AS dan memangkas suku bunga acuannya mendekati nol persen. The Fed mengaku akan berbuat lebih jika diperlukan.

Sebelumnya, penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menegaskan, AS tidak memerlukan lebih banyak stimulus. Ia melihat ekonomi AS cukup mandiri dan kuat. Pemulihan semakin tampak jelas di depan.

PENURUNAN TERDALAM

Perekonomian AS akan turun ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya pada musim semi. Bahkan dengan rebound yang diharapkan pada kuartal III, ekonomi Negeri Paman Sam kemungkinan akan menyusut pada tahun ini.

Menurut data Departemen Perdagangan, Produk Domestik Bruto (PDB), total output barang dan jasa ekonomi, turun pada tingkat 31,4 persen pada kuartal April-Juni. Realisasi itu sedikit berubah dari penurunan 31,7 persen yang disebutkan pemerintah pada bulan lalu.

Revisi sedikit ke atas dalam laporan ini mencerminkan, adanya penurunan belanja konsumen yang lebih sedikit dibandingkan prediksi semula. Bulan lalu, pemerintah memperkirakan konsumsi rumah tangga kontraksi 31,4 persen yang direvisi menjadi 33,2 persen. Meski membaik, penurunan ini tetap menjadi rekor terdalam.

Outlook terakhir dari pemerintah pada kuartal II menunjukkan penurunan 3 kali lipat lebih dalam dibandingkan kontraksi 10 persen pada kuartal I-1958. Saat itu, ketika Dwight Eisenhower menjabat sebagai presiden, ekonomi AS mengalami kontraksi terbesar sepanjang sejarah mereka.

Seperti dilansir di AP, Rabu (30/9), para ekonom percaya, ekonomi akan rebound pada kuartal III di level 30 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Keyakinan ini seiring dengan pembukaan kembali aktivitas bisnis dan jutaan orang sudah kembali bekerja. Ini akan memecahkan pertumbuhan kuartalan terbesar, melampaui rekor 16,7 persen pada kuartal I-1950, ketika Harry Truman menjadi presiden.

Dengan realisasi yang ada sejauh ini, para ekonom memperkirakan, PDB AS sepanjang 2020 akan turun sekitar 4 persen. Ini menjadi penurunan tahunan pertama dalam PDB AS sejak kontraksi 2,5 persen pada 2009 yang dipicu krisis keuangan 2008.  

Kuartal III menjadi tumpuan AS. Tapi, pemerintah AS tidak akan merilis laporan PDB kuartal III hingga 29 Oktober. Hanya 5 hari sebelum pemilihan presiden.

Sementara itu, Presiden Donald Trump mengandalkan rebound ekonomi untuk meyakinkan para pemilih agar memberinya masa jabatan kedua. Pemerintahan Trump memperkirakan, pertumbuhan yang solid di kuartal mendatang akan memulihkan semua output yang hilang akibat pandemi COVID-19.

Para ekonom mengatakan, harapan itu sulit direalisasikan. Mengharapkan ekonomi kembali tumbuh positif pada tahun ini membutuhkan proses yang panjang. Bahkan, tidak menutup kemungkinan juga, PDB kembali menyusut apabila tidak ada dukungan pemerintah lebih lanjut.

Para ekonom memperkirakan, pertumbuhan akan melambat secara signifikan hingga kuartal keempat dengan angka 4 persen. Tapi, AS dapat jatuh kembali ke resesi apabila Kongres gagal meloloskan kebijakan stimulus tambahan atau jika ada gelombang penyebaran COVID-19 berikutnya.

Kepala Ekonom di PNC Financial Services Gus Faucher mengatakan, banyak risiko yang masih menghantui AS. “Kita masih menghadapi sejumlah risiko penurunan yang signifikan karena pandemi,” ucapnya.

Kepala Ekonom AS di Oxford Economics Gregory Daco mengatakan, pertanyaan utama saat ini adalah seberapa kuat pasar tenaga kerja bisa menghadapi kuartal IV. Pasalnya, momentum ekonomi mulai ‘dingin’, stimulus fiskal berakhir, musim flu semakin dekat dan ketidakpastian pemilu meningkat.

“Dengan prospek bantuan fiskal tambahan yang sangat rendah, para konsumen, bisnis dan pemerintah daerah harus berjuang sendiri dalam beberapa bulan mendatang,” kata Daco.

Sepanjang tahun ini, ekonomi AS turun pada tingkat 5 persen pada kuartal I, menandakan berakhirnya ekspansi ekonomi hampir 11 tahun yang menjadi terpanjang dalam sejarah AS.

Kontraksi pada kuartal I diikuti dengan penyusutan kembali pada kuartal kedua sebesar 31,4 persen yang semula diperkirakan turun 32,9 persen pada 2 bulan lalu dan direvisi kembali menjadi 31,7 persen pada bulan lalu.

SISI TERANG

Namun, masih ada sisi terang bagi perekonomian AS. Aktivitas ekonomi di beberapa negara bagian Amerika mulai pulih setelah terpukul pandemi virus corona selama 6 bulan terakhir.

Beberapa pemulihan tersebut yakni sektor real estate mulai berkembang pesat di Maine, angka pengangguran turun ke bawah 5 persen di Nebraska dan jam kerja karyawan UMKM yang mulai bertambah di Rhode Island.

Indeks Back to Normal yang dibuat oleh CNNBusiness dan Moody’s Analytics menunjukkan ekonomi negara bagian sudah kembali beroperasi hampir 88 persen dari kondisi Maret sebelum pandemi.

Persentase tersebut menjadi yang tertinggi selama 6 bulan terakhir. Meskipun belum pulih sepenuhnya, rebound negara-negara bagian ini juga termasuk yang terkuat di AS.

Lantas mengapa mereka pulih jauh lebih cepat daripada yang lain? Ekonom Moody Analytics Mark Zandi, Dante DeAntonio, dan Matt Colyar menggali data dan menemukan 4 faktor penting yang membuat mereka pulih lebih cepat.

Pertama, negara bagian dengan sedikit kasus COVID-19 mengalami pemulihan lebih cepat. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), ekonomi dunia masih bergantung dengan perkembangan kasus penularan virus corona.

“Pemulihan sedang berlangsung. Menyusul pelonggaran dari kebijakan lockdown dengan pembukaan sebagian operasional bisnis. Namun, ketidakpastian masih tinggi dan kepercayaan masih rapuh,” ungkap OECD.

Di Maine, aktivitas ekonomi telah kembali hampir 93 persen dari posisi Maret sebelum pandemi. Pemulihan ini sejalan dengan angka kasus virus corona di negara bagian ini: 366 kasus per 100 ribu penduduk.

Hal serupa terjadi di 2 negara bagian lainnya dekat Maine: Vermont dan New Hampshire. Sebaliknya, perekonomian negara bagian Lousiana dengan angka infeksi tertinggi di AS, 3.406 kasus per 100 penduduk, masih kolaps. Dalam Indeks Back to Normal, Lousiana menduduki peringkat ke-48 dengan persentase aktivitas ekonomi mencapai 73 persen.

Ekonomi Amerika Anjlok 31,4 persen
Pesepeda melintas di depan gedung bursa saham New York Wall Street. Saham-saham AS rontok setelah jutaan korban PHK mengajukan tunjangan. (AFP)

Kedua, jumlah penduduk yang sedikit di pedesaan. Sehingga, aturan jaga jarak dan ruang terbuka lebih besar untuk bergerak lebih mudah dijalankan bagi beberapa negara bagian.

Hal tersebut terlihat dari negara bagian seperti South Dakota dan Nebraska dengan rebound cukup tinggi dibandingkan negara bagian padat penduduk seperti New York, Texas, dan California.

Kota-kota besar menghadapi tantangan yang lebih berat dalam mengurangi virus. Jutaan komuter tidak lagi naik angkutan umum dan seluruh kantor menjadi gelap. Itu merugikan bisnis yang melayani pekerja kantoran di pusat kota

Ketiga, tidak buru-buru membuka aktivitas perekonomian. Negara bagian seperti Alabama, Arizona, Texas, dan Florida yang pertama membuka kembali perekonomian selama pandemi hanya mendapatkan keuntungan ekonomi jangka pendek.

“Itu karena kasus virus corona dengan cepat melonjak di negara bagian itu. Akhirnya, gubernur memberlakukan kembali pembatasan pada bisnis dan pertemuan sosial,” tulis DeAntonio dan Colyar dalam catatan penelitian.

Keempat, perekonomian mengandalkan sektor pariwisata. Negara bagian paling terpukul oleh anjloknya perjalanan adalah Hawaii. Saat ini Hawaii memiliki tingkat pengangguran yang diasuransikan tertinggi di AS.

Angka tersebut mencapai 20 persen pekerja per 22 Agustus. Jam kerja karyawan UMKM turun 50 persen dibandingkan Maret. Bahkan, reservasi restoran di negara bagian itu masih turun 98 persen dibandingkan sebelum pandemi per awal September lalu. (cnn/bi/qn)

Saksikan video menarik berikut ini: