Desa Bangun Mulya Mampu Hasilkan Batik Prada

PPU, nomorsatukaltim.com – Desa Bangun Mulya Penajam Paser Utara (PPU) sudah mampu memproduksi batik elegan. Yaitu batik prada. Hal itu terungkap saat Pameran Hari Batik Nasional 2 Oktober 2020 lalu. Sebagai desa yang telah ditetapkan sebagai desa sentra batik. Ya sudah seyogyanya mereka memamerkan hasil karyanya.

“Harapannya semoga batik kita semakin dikenal,” kata Astuti. Dia adalah kader batik Desa Bangun Mulya, Kecamatan Waru.

Sudah ada belasan motif. Pasca launching 10 September lalu. Motif itu hasil 30 peserta pelatihan. Produknya ada beragam. Yang terbanyak ialah lembaran kain berbagai motif. Selain itu ada yang sudah berbentuk pakaian.

Sisanya produk masker. Karena melihat kondisi pandemi COVID-19. Menangkap peluang pasar. Sekaligus mendukung program pemerintah.

Untuk motif batiknya tadi, coraknya ada banyak. Tapi kesemuanya menggambarkan kekayaan alam bumi Benuo Taka.

Di antaranya flora dan faunanya. Rusa, enggang dan bekantan. Lalu ada motif flora ada manggar, karamunting, kantong semar dan banyak lagi.

Semua karya itu terpampang di stand. Pameran itu juga sekaligus melayani pembeli yang berminat. Hasil karyanya juga sudah memiliki merek. Sekar Buen namanya. Tapi yang paling luar biasa mewah dari deretan yang dipamer ialah kain batik pradanya.

“Karena ini promosi, harganya hanya Rp 400 ribu saja,” lanjut dia.

Padahal umumnya batik Prada bisa dibanderol mencapai harga Rp 1 juta lebih. Batik Prada merupakan batik tulis, batik cap maupun batik kombinasi. Yang sebagian motifnya diberi sentuhan keeemasan.

Penambahan lapisan emas itu diaplikasikan menggunakan canting tulis. Bisa juga dengan kuas.

Sekretaris Desa Bangun Mulya, Yuni Nurhayati Aka menyebutkan itu adalah produk unggulan sementara ini. Ke depan bakal terus diproduksi dengan berbagai corak khas.

“Saat ini karena pradanya belum banyak. Kita beli harus di Jawa. Itu mahal sekali. Belum ongkir dan lain-lain,” ujar dia.

Bahkan pihaknya diminta untuk menyiapkan produk khas untuk oleh-oleh. “Nanti di akhir tahun, jika Presiden Jokowi datang Desember nanti, akan diberikan oleh-oleh baru dari Bangun Mulya,” ucap Yuni.

Pasca launching, Yuni juga berkomitmen akan terus konsisten menghasilkan batik khas PPU lainnya. Baik dalam masa pelatihan hingga akhir tahun. Maupun usaha masyarakat kelanjutannya.

“Meski belum seterkenal seperti di Jawa, saya yakin seiring berjalannya waktu kami mampu bersaing,” tegas dia.

Menjadi desa sentra, Desa Banhun Mulya mendapatkan alokasi anggaran total sekira Rp 450 juta. Terbagi dalam 3 sumber. Yang pertama ialah dari perusahaan sekitar. PT Waru Kaltim Plantation. Berupa mesin canting. Nilainya mencapai Rp 250 juta. Lalu dari APBD PPU dan APBDes Bangun Mulya sekira Rp 150 juta.

“Itu untuk membiayai awal pelatihan, hingga pelatihan secara mandiri hingga akhir tahun. Selain itu untuk pengembangan usaha masyarakatnya,” tutup Yuni. (rsy/ava)

Saksikan video menarik berikut ini: