Arus Peti Kemas Pelabuhan KKT Tumbuh 1,24%, Ekspor Masih Minim

Balikpapan, nomorsatukaltim.com –  Arus ekspor-impor barang di pelabuhan peti kemas PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT) terus tumbuh. Tak terpengaruh signifikan meski diadang pandemi COVID-19.

Hingga September 2020, pertumbuhan tercatat sebesar 1,24 persen. Angka tersebut naik dibandingkan periode sama pada 2019.

Melansir data PT Kaltim Kariangau Terminal selaku pengelola pelabuhan peti kemas Kariangau. Tercatat total barang dari Januari sampai September 2019 mencapai 151,849 TEUs dengan 140,840 box. Sedangkan periode Januari hingga September 2020 mencapai 153,736 TEUs dengan jumlah 138,952 box.

“Dari catatan perbulannya, tetap mengalami pertumbuhan. Walau tak signifikan. Ada pertumbuhan ya mungkin karena sektor logistik berkaitan dengan kebutuhan pokok,” kata Direktur Utama PT Kaltim Kariangau Terminal Abdul Azis saat dijumpai, Selasa (6/10).

Arus Peti Kemas Pelabuhan KKT Tumbuh 1,24%, Ekspor Masih Minim

Walau ada pertumbuhan namun angka tersebut diakui masih di bawah target. “Yang kami targetkan, (capaian) masih di bawah. Jadi kita tidak capai kurang 4 persen. Tetapi target kami susun saat sebelum corona,” sebut pria yang belum lama bertugas di KKT ini.

Baca Juga: Ekspor Karet di Kaltim Meningkat

Namun demikian, katanya, pertumbuhannya cukup menggembirakan di tengah kondisi pandemi COVID-19. Meski saat ini arus peti kemas di pelabuhan KKT masih didominasi oleh impor. “Untuk ekspor mungkin masih kecil. Kisaran 5 persen,” katanya. Mega proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) salah satu yang menyumbang banyaknya impor.

Adapun komoditi ekspor dan impor bervariasi. Untuk ekspor didominasi oleh plywood, hasil perikanan seperti udang dan rumput laut. Kemudian sparepart dan minyak. Sementara produk impor diisi komoditi sparepart, general cargo, oli dan lainnya. (lihat grafis)

Terkait pelayaran, saat ini KKT dilayani empat perusahaan ekspedisi. Yang didominasi oleh PT Salam Pasific Indonesia Lines (SPIL) sekitar 40 persen. Selebihnya, terbagi di tiga perusahaan. Yaitu PT Meratus Line, PT TemasLine dan PT Tanto Intim Line.

Arus Peti Kemas Pelabuhan KKT Tumbuh 1,24%, Ekspor Masih Minim

KKT juga melayani pelayaran langsung ke luar negeri (Direct Call). Yang berlangsung sebanyak empat kali dalam satu bulan. Hal itu tentu menunjang kegiatan ekspor untuk komoditas unggulan.

Ada tiga perusahaan yang melayani direct call, yaitu SeaLand, Alfa Trans Raya, dan SITC. Dengan frekuensi pengiriman beragam dan mengangkut berbagai komoditi.

Soal minimnya ekspor ini, kata dia, ada beberapa hal penting yang perlu menjadi fokus bersama, “Masih perlu pengenalan atau pemasaran kepada para eksportir terutama bagaimana menghubungkan antara buyer dengan eksportir,” terangnya.

Selain itu, pada masa pandemi KKT memberikan keringanan dalam penumpukan peti kemas kosong maupun isi. Yang semula 5 hari dihitung 1 hari menjadi 7 hari dihitung 1 hari.

Ia melanjutkan, upaya yang dilakukan untuk merangsang pertumbuhan pelayaran di KKT pun beragam. Dari memberikan informasi mengenai fasilitas yang dimiliki, mendorong pelaku usaha khususnya eksportir untuk menjadikan pelabuhan KKT sebagai pusat konsolidasi barang ekspor. Hingga meningkatkan fasilitas pelabuhan sehingga memacu pelaku usaha untuk menambah volume mereka.

Semakin bertambahnya industri di daerah industri Kariangau tentu akan berdampak positif pada pelabuhan KKT. “Hal tersebut tentu semakin bagus. Karena efektivitas sebuah industri memang harus menyatu atau dekat dengan pelabuhannya. Supaya muatan balik juga ikut naik. Muatan balik untuk sekarang masih kurang, sehingga komoditi yang keluar dari KKT nantinya banyak jenisnya, itu harapannya,” imbuhnya.

Abdul Azis menambahkan, sejak 2019 lalu ada beberapa pelayanan yang dilakukan dengan online. Hal ini sebagai upaya dan komitmen dalam menjaga kelancaran logistik nasional. “Kami terus menjaga agar operasional dan pelayanan jasa kepelabuhanan dapat tersedia dengan baik dan efektif di seluruh terminal,” ujarnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur. Pada Juli 2020 net surplus ekspor impor sebesar USD 808,1 juta. Angka tersebut bertumbuh apabila dibandingkan pada bulan sebelumnya sebesar 783,75 ton USD.

Perbaikan net surplus disebabkan oleh peningkatan ekspor pada dua komponen. Yaitu CPO dan pupuk. “Juli agak membaik dari bulan sebelumnya,” tandasnya. (fey/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar