Wisuda di Uniba Masih Berhitung, Katanya Dibawah Rp 3 Juta

Balikpapan, nomorsatukaltim.com– Wisuda tahun ini disoal. Sebab ada dua opsi penyelenggaraan prosesi wisuda offline dan online. Barang tentu hal ini berpengaruh pada anggaran yang dibebankan ke mahasiswa.

Rektor Universitas Balikpapan Rendi Ismail angkat bicara. Ia sudah mengetahui perihal itu. “Pihak yang bersangkutan mestinya memberi penjelasan,” ujar Rendi, saat ditemui, di ruangannya, Senin (5/10/2020).

Menurutnya jika wisuda dilakukan online, maka akan ada pemangkasan. Namun bisa jadi ada pertimbangan lain. Misalnya anggaran untuk tempat atau gedung pelaksanaan wisuda dikonversi untuk biaya zoom dan webinar.

“Memang kalau online kan bisa memangkas sewa gedung, misalnya kalau di Dome (Balikpapan Sport and Convention Center) sekitar Rp 24 juta,” beber Rendi.

Soal biaya itu relatif. Kata Rendi. Memang ada beberapa model pelaksanaan wisuda di perguruan tinggi di Jawa yang bisa dijadikan rule atau contoh. Baik secara online maupun offline.  

Baca juga: Wisuda Online Bayar Rp 1,5 Juta, Mahasiswa: Kemahalan…

Uniba sendiri sampai saat ini belum memutuskan kapan akan lakukan wisuda. Meski tersiar kabar kampus bakal melakukan wisuda secara offline. Atau secara konvensional. Lantaran telah sukses beberapa kali menggelar prosesi yudisium secara offline.

“Terbukti (offline) juga bisa. Sampai saat ini tidak ada masalah seperti yang kita takutkan (klaster baru),” katanya.

Wisuda di Uniba Masih Berhitung, Katanya Dibawah Rp 3 Juta
Rektor Uniba Rendi Susiswo Ismail mengomentari biaya wisuda di kampusnya. (Ryan/nomorsatukaltim)

Menurutnya beberapa hal harus dilakukan pihak penyelenggara wisuda ketika sepakat melakukannya secara konvensional. Harus intens berkoordinasi dengan tim gugus tugas setempat. Soal pembiayaan pihak penyelenggara juga mesti memikirkan adanya tambahan anggaran untuk memenuhi standar protokol kesehatan (prokes).

Baca ini juga: Bantah Raup Untung dari Wisuda Online

Seperti face shield, masker, sarung tangan medis dan sarana cuci tangan atau hand sanitizer. Itu juga jadi penentuan tarif atau biaya wisuda. “Komponen (anggaran) yang paling besar kan tempat pelaksanaan,” ujarnya.

Mahasiswa juga punya ekspektasi pelaksanaan wisuda. Karena katanya, mahasiswa juga tidak mau wisuda di tempat yang terbilang biasa-biasa saja. Meriah dan prosesi yang sakral, hidup dan khidmat menjadi satu keharusan.  Dan kelaziman di suatu perguruan tinggi memang berharap agar wisuda dilakukan dengan serangkaian kegiatan. Yang bisa jadi tidak dirasakan dalam prosesi wisuda secara online.

“Kalau itu kan prosesi yang tidak akan diulangi lagi, berkesan. Kecuali yang bersangkutan mengambil perkuliahan lanjutan,” katanya.

Saat ditanya berapakah nilai anggaran yang dibebankan kepada mahasiswa, Rendi irit bicara. Ia tidak menyebut secara gamblang. Apakah nilainya mencapai Rp 3 juta atau lebih.

“Di bawah angka itu (Rp 3 juta),” sebutnya. Soal biaya ia juga menerima aduan. Kalau dianggap keberatan bisa disampaikan.

Kalau dikatakan terdampak, tidak juga. Toh ekonomi di Balikpapan tetap jalan katanya. Daripada meributkan kegiatan wisuda online, ia meminta tim gugus tugas fokus. Terutama kafe, resto dan angkringan yang resiko klasternya lebih besar.

“Saya melihat pertumbuhan ekonomi di Balikpapan lebih stabil. RDMP (Refenery Development Master Plan) saja tetap berjalan,” imbuhnya.

Sebelumnya beberapa mahasiswa di salah satu kampus di Balikpapan menyoal biaya wisuda online yang dianggap terlalu tinggi. Pihak kampus pun mengklarifikasi. Biaya itu untuk mentupi sejumlah kebutuhan. Meski diadakan secara online. (ryn/boy)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar