Pro Kontra Jam Malam Bontang

Bontang, nomorsatukaltim – Ada yang senewen dengan kebijakan jam malam. Yang was-was itu, pedagang kaki lima sampai pemilik kedai kopi di Bontang. Mereka khawatir soal penerapan jam malam akan menggerus lagi pendapatannya.

Pemerintah memastikan akan menerapakan jam malam di Bontang. Penerapannya dalam waktu dekat ini. Sekarang masih ancang-ancang. Tapi pelaku usaha kecil sudah pusing bukan main.

Bagi pedagang, kebijakan itu salah kaprah. Bukankah penyebaran virus paling banyak terjadi di lingkungan perkantoran.

“Kok malah kita yang disoroti sih,” ketus Muhammad Tri Kurniawan pemilik kedai kopi di Jalan Pattimura, Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Utara, Senin (5/10).

Kata pemuda yang biasa disapa Iwan itu, pemerintah jangan main sapu rata. Mentang-mentang kasus lagi tinggi-tingginya pemilik usaha kedai yang dipelototin.

Memang kasus di Bontang per tanggal 4 Oktober lalu sudah mencapai 604 kasus konfirmasi positif. Jumlah yang jomplang sekali saat kasus pertama terjadi di Bontang, Maret silam.

Kedai milik Iwan ini memang paling ramai saat malam. Kian malam kian ramai. Tapi tak seramai sebelum COVID-19. Setiap hari kedainya dibuka, tapi pelanggan baru bubar rata-rata di atas pukul 23.00 Wita.

“Yah kalau malam Minggu, bahkan bisa sampai pukul 01.00 dinihari baru bubaran semua, Bang,” ungkapnya.

Pedagang sate, di Jalan DI Padjaitan, Kelurahan Bontang Baru, bersuara sedikit berbeda. Ahmad Bisri, pedagang yang buka lapaknya seusai Magrib mengaku tak keberatan dengan kebijakan itu.

Asalkan, kebijakan ini merata. Tak tebang pilih. Seperti kebijakan sebelum-sebelumnya. Sangat penting baginya pemerintah bisa menggaransi kebijakan tak tebang pilih. Agar sikap nurutnya tidak sia-sia.

Secara pribadi, lanjut dia, tak masalah kebijakan itu. Walaupu merugikan dirinya. Jam operasional harus dipangkas 3 jam dari waktu biasa. “Yang penting itu, Mas, semuanya,” tandasnya.

Lain halnya, Sugianto, pedagang nasi goreng di Jalan KS Tubun, Kelurahan Tanjung Laut. Dia menolak keras. Warungnya baru mulai ramai sehabis Isya. Puncak-puncaknya saat tengah malam. Pelanggannya memang paling banyak dari para pekerja yang pulang larut.

“Kalau ditutup memang pemerintah mau kasih subsidi?” tanyanya tak yakin.

Sekretaris Daerah, Aji Erlynawati mengatakan, kebijakan itu masih diatur sanksinya. Warga diminta mengerti dengan kondisi saat ini. Kasus penularan COVID-19 tak henti-henti. Pun kian bengkak.

“Kami akan surati dulu, soal penerapan jam malam ini. Semoga warga mengerti,” pungkasnya.

Pemkot tentu tidak ingin membuat kebijakan yang merugikan masyarakatnya. Namun kondisi pandemi seperti sekarang memang mengharuskan mengambil kebijaka tak populer. Karena yang terpenting saat ini adalah bagaimana COVID-19 bisa segera diredam.

Tapi keluhan dari pedagang. Terutama pedagang yang mengharuskan berjualan pada malam hari. Mesti jadi acuan pengambilan kebijakan juga. (wal/ava)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar