Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah di Balikpapan Tumbuh Negatif

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Pertumbuhan penyaluran kredit di Balikpapan pada triwulan II-2020 melambat. Pelambatan utamanya disebabkan dari penurunan kredit konsumsi dan kredit modal kerja.

Melansir data Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan pada triwulan II-2020. Bahwa kredit konsumsi mengalami kontraksi sebesar -1,71%. Sedangkan kredit modal kerja tumbuh melambat dari 25,36% (year on year) pada triwulan I-2020 menjadi 13,58% (yoy) pada triwulan II-2020.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Bimo Epyanto menjelaskan, perlambatan kredit konsumsi didorong penurunan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR)) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). Di mana masing-masing tumbuh negatif sebesar -4,62% (yoy) dan -11,22% (yoy).

“Penurunan tersebut sejalan dengan pertumbuhan tahunan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR). Pada triwulan II-2020 menurun menjadi -0,41% (yoy),” kata Bimo Epyanto saat dihubungi Senin (5/10).

Daya Beli Lemah

Lemahnya daya serap kredit konsumsi juga dikonfirmasi dari hasil survei konsumen. Yang menunjukkan adanya penurunan Indeks Keyakinan Konsumen dari 140,3 pada triwulan I 2020 menjadi 108,2 pada triwulan II 2020. “Kondisi tersebut karena kondisi ekonomi yang belum pulih,” ujarnya.

Baca Juga: Sinergi Properti Gempur Pandemi

Selain kondisi ekonomi yang belum pulih. Menurut dia, daya beli masyarakat masih rendah sehingga mengurangi pengeluaran yang bukan prioritas. “Hal itu berakibat pada kondisi sektor properti yang menurun,” ucap Bimo.

Ia mengatakan, 2020 menjadi tahun yang berat bagi properti. Apabila kondisi ekonomi belum pulih. Sektor properti adalah sektor tersier atau pendukung. Agar sektor ini bisa pulih, menurutnya, daya beli masyarakat harus pulih terlebih dulu melalui perbaikan kinerja sektor primer dan sekunder. “Kalau kegiatan ekonomi masyarakat pulih kemudian daya beli pulih. Maka otomatis sektor properti bisa pulih,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya menekankan pada pentingnya penerapan protokol kesehatan. “Di sinilah pentingnya penerapan protokol kesehatan di setiap aktivitas masyarakat supaya ekonomi bisa pulih dengan selamat,” ulasnya.

Menurun sejak Tahun Lalu

Wakil Ketua Komisariat Real Estate Indonesia (REI) Balikpapan Andi Arif Mulya Dwi Hartono menjelaskan, penurunan permintaan pembelian properti khususnya perumahan sudah dirasakan sejak tahun lalu.

Kondisi itu semakin diperparah dengan masuknya wabah COVID-19 ke Indonesia. “Sesuai dengan proyeksi permintaan akan turun. Sejalan dengan tingkat daya beli masyarakat yang juga turun. Otomatis properti ikut terdampak,” kata Andi Arif Mulya.

REI Balikpapan juga memperkirakan kondisi pada triwulan III dan IV. Bahwa permintaan tidak jauh berbeda dengan triwulan I dan II-2020. “Sampai akhir tahun masih akan sama kondisinya,” sebutnya.

Dia menilai tahun ini bagi properti cukup berat. Sehingga pelaku usaha yang bergerak di sektor tersebut juga harus bertahan. Dengan menjual stok yang ada. “Bertahan dipukul dari sisi ekonomi, demand yang turun, fasilitas kredit mungkin yang suku bunganya naik turun, sisi perpajakan belum berpihak,” ujarnya.

Andi Arif mengatakan, tipe rumah kecil atau FLPP masih banyak diminati. Meskipun tak setinggi tahun lalu. “Karena tipe rumah subsidi ini ada banyak kemudahan dari pemerintah. Masih ada kuota, keringanan pajak, kredit. Itu pasarnya masih ada walaupun tak sebanyak dulu,” imbuhnya. (fey/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar