Cara Kandidat Bersolek di Tengah Pembatasan

Memasuki masa kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), para kandidat mulai menebar umpan menjaring suara pemilih. Pembatasan kampanye akibat pandemi, membuat visi-misi kandidat nyaris tak terdengar. Tim Pemenangan berakrobat memoles citra. 

nomorsatukaltim.com – Tim pemenangan pasangan Rahmad Mas’ud-Thohari Aziz, sempat kalang kabut. Mereka memutar strategi, bagaimana program Usaha Milik Rukun Tetangga (UMRT) yang digerakkan jauh sebelum masa kampanye, bisa terus berjalan.

Pengembangan ekonomi berbasis usaha rumahan itu digerakkan Yayasan Rahmad Mas’ud Center (RMC). Warga yang bertindak sebagai agen, menerima bantuan modal berupa 200 sak berisi 5 kilogram beras untuk dipasarkan dengan sistem konsinyasi.

Karena adanya Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) yang membatasi pertemuan, peresmian UMRT tak lagi dilakukan dengan seremonial.

“Selain itu, kami tidak lagi menggelar rapat akbar, olah raga, kegiatan kesenian dan sebagainya, dalam kampanye,” kata Sekretaris Tim Pemenangan RM-TH, Adi Supriadi. Ia kini praktis mengandalkan penggunaan teknologi jaringan informasi.

“Meski masih diperbolehkan melakukan pertemuan dengan pembatasan, kami utamakan pertemuan daring (online),” katanya. Baru -baru ini.

PKPU 13/2020 hanya mengizinkan tatap muka diikuti paling banyak 50 orang. Kandidat atau tim kampanye dan peserta wajib menggunakan APD, menjaga jarak, dan ketentuan lain dalam protokol kesehatan.

Karena aturan itu, Tim Pemenangan merancang serangkaian program telewicara virtual. Dari situ, akan disampaikan program dan visi-misi pasangan RM-TH. Visi-misi itu, kata Adi Supriadi, disesuaikan dengan rencana pembangunan jangka panjang.

“Sekitar 70 persen sosialisasi akan dilakukan secara daring atau kampanye digital. Dan sisanya pertemuan tatap muka,” ucapnya.

Sosialisasi tatap muka akan dilakukan seluruh tim pemenangan, di tingkat kota dan tingkat kecamatan, lalu dibantu para relawan untuk bergerak ke rumah-rumah, mendekati warga.

Menurut Adi, dalam aturan KPU, sosialisasi secara personal masih diperbolehkan. Sehingga, tim pemenangan, relawan dan simpatisan juga akan digerakkan, untuk melakukan sosialisasi program strategis RM-TH secara personal.

Ia mengklaim, sejauh ini tim pemenangan  masih mengedepankan protokol COVID-19. Dalam setiap melaksanakan kerja-kerja pemenangan. “Mulai dari masker, hand sanitizer dan jaga jarak, tetap kita patuhi itu,” imbuhnya

Dengan hanya menjalankan kegitan-kegiatan yang diperbolehkan KPU, tim pemenangan optimistis meraih kemenangan. Pasalnya, kata Adi lagi, popularitas RM-TH sudah cukup tinggi. Di atas 90 persen. Dan elektabilitas di atas 75 persen.

Sementara calon Wakil Bupati Kutai Kartanegara, Rendi Solihin menyerahkan tim khusus untuk melakukan evaluasi sebelum bergerak ke lapangan. Namun pasangan Edi Damansyah itu mengakui akan lebih banyak sosialisasi dari pintu ke pintu. Upaya ini dilakukan meminimalisasi pengumpulan massa dalam jumlah yang banyak.

Ia juga memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Seperti memanfaatkan jejaring pertemuan secara daring. “Untuk daerah yang blank spot, ya seperti tadi, sosialisasi door to door,” kata pengusaha muda itu.

Peserta Pilkada Bupati dan Wakil Bupati Mahakam Ulu (Mahulu) Juan Jenau-Indra Jaya tetap menggelar kampanye tatap muka dengan protokol kesehatan.

“Juara akan taat aturan, mengikuti PKPU,” kata Juan Jenau. Juara adalah akronim yang dipakai pasangan  itu dalam pilkada tahun ini.

Wakil Bupati Mahulu nonaktif itu akan memanfaatkan aturan yang membolehkan tatap muka dalam kampanye.

Pasangan ini mengaku fokus mengatasi defisit anggaran.“Untuk perubahan Mahulu, Paslon Juara berkoalisi dengan rakyat. Visi kami adalah Mahulu Juara, maju berbudaya dan sejahtera. Untuk membawa perubahan sektor ekonomi, pendidikan, pertanian,  dan seluruh sektor lainnya,” bebernya.

Untuk menuju perubahan Mahulu, kuncinya adalah reformasi birokrasi. Yaitu kerja jujur, benar, adil dan cerdas.

Di tempat terpisah, Calon Wakil Bupati Kutai Timur, Kasmidi Bulang bakal menggarap konstituen dengan pertemuan virtual.

“ASKB sangat siap akan hal itu di 18 kecamatan kan sudah bisa mengaksesnya. Kalaupun ada pertemuan ya harus terbatas dan dengan aturan kesehatan yang ketat,” ujarnya.

Menurut Kasmidi Bulang, kampanye salah satu tahapan yang penting untuk memberikan masukan dan kepercayaan masyarakat.

“Namun karena kondisi saat ini daripada mengumpulkan massa banyak yang berisiko, ya kami harus gunakan metode daring,” tegasnya.

Salah satu program yang disiapkan Kasmidi ialah mengatasi defisit anggaran. Ia berjanji memangkas segala hal yang bukan prioritas dan berkoordinasi dengan DPRD Kutim sebagai pemilik anggaran.

Bahkan, ia mengklaim sudah melakukan efisisensi anggaran saat menjabat. Kegiatan dan program yang tidak prioritas dipangkas. Hal-hal yang tidak urgent dikesampingkan.

“Nanti akan kami sampaikan juga ke DPRD yang punya anggaran mana yang hak wajib serta melihat kondisi keuangan daerah mana yang skala prioritas itulah yang didahulukan,” paparnya.

Meskipun defisit namun Kasmidi memastikan pembangunan tetap ada dan berjalan dengan memaksimalkan anggaran yang sudah ada.

Baik para peserta pilkada maupun tim pemenangan mengatakan pola kampanye daring, membuat penggunaan anggaran kampanye jauh lebih efisien. Pembatasan berbagai kegiatan seperti rapat akbar, kegiatan olahraga, kesenian dan sebagainya, Yang biasanya paling banyak menyedot anggaran. Jelas berimplikasi pada penghematan.

“Jadi, memang dari sisi anggaran kita sangat efisien dalam pembiayaan kerja-kerja pemenangan,” kata Adi Supriadi.

Perdasarkan peraturan KPU sumbangan perseorangan yang boleh diterima pasangan peserta pilkada ialah Rp 75 juta, dan bantuan dari pihak berbadan hukum maksimal Rp 750 juta.  (das/fs/imy/mrf/yos)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar