Yuk, Beli Produk Tetangga Demi Bantu Penjualan UMKM

Balikpapan, nomorsatukaltim.com– Penjualan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mengalami penurunan 53,2%. Hasil itu dari catatan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan. Yang didapat dari survei tahap III pada Juli 2020.

Dari data itu, sebesar 71,15% UMKM mengalami penurunan penjualan, 53,26% mengalami penurunan harga jual, 46,79% mengalami penurunan pasokan bahan baku, 37,82% UMKM melakukan PHK dan 63,37% kesulitan melakukan pembayaran cicilan.

Sektor yang semakin resah karena omzetnya semakin hari semakin tergerus utamanya mereka yang menjual produk oleh-oleh. Produk yang harus penjualannya dengan tatap muka dan lainnya. Hal itu disebabkan aktivitas masyarakat di luar rumah cenderung berkurang. Ditambah daya beli masyarakat yang turun.

Melihat kondisi tersebut. Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) mengajak pelaku UMKM yang memiliki produk untuk memasarkan produknya melalui digital atau online.

“Saya melihat ada persoalan dalam pemasaran produk. Kita harus merubah penjualan. Dari offline menjadi online,” kata Ketua IPEMI Balikpapan, Emi Alaydrus, pada webinar yang digelar PHKT bertema Peran Serta Wirausahawan Perempuan Untuk Meningkatkan Ekonomi Masyarakat, pada Rabu (30/9).

Baca Juga: Komunikasi Pemasaran UMKM di Masa Pandemi

Metode digital atau online harus dilakukan. Karena produk oleh-oleh selama ini mengandalkan pada offline. Menurut Emy, langkah penjualan online upaya tepat untuk mengembalikan omzet.

Tidak hanya merubah model pemasaran dan penjualan. UMKM juga harus bergabung dalam banyak komunitas. Kata dia, itu dilakukan untuk meningkatkan penjualan dan menambah ilmu dalam pemasaran.

“Dengan memiliki banyak wadah. Maka banyak tempat untuk memasarkan produknya. Bahkan bisa sharing informasi dari kualitas produk hingga metode penjualan,” terang Emy Alaydrus pemilik Rumah Ampiek, sebuah produk kerajinan tangan.

Emy mengaku sejak pandemi Rumah Ampiek yang dimiliki juga tutup. Namun penjualan tetap jalan dengan cara online. “Dengan media sosial, WhatsApp dan wadah yang dimilikinya,” ujarnya.

Selain itu, untuk membantu meningkatkan penjualan produk lokal dan sekitar. Pihaknya juga mengajak untuk membeli produk tetangga atau kawasan terdekat. “Sosialisasi belanja produk tetangga atau teman harus mulai disosialisasikan.”

Diapun mengusulkan kepada pemerintah maupun pihak swasta. Untuk menjaring masyarakat dengan melakukan pelatihan. “Dari itu SDM yang sudah dilatih memiliki bekal dan bisa menularkan dengan SDM lainnya di daerahnya,” imbuh Emy Alaydrus.

Dia menyebut sebagian pelaku UMKM adalah perempuan. Untuk itu pihaknya berharap perempuan-perempuan Indonesia di daerah tetap semangat untuk menjadi wirausahawan. Meski tantangan di pandemi ini cukup berat.

“UMKM sebagian besar dipegang perempuan. UMKM juga terbukti mampu bertahan. Walau kita agak seram juga ya yang katanya akan memasuki krisis. Insya Allah lah kita akan bangkit,” tandasnya.

Dalam webinar, Ketua Koperasi LPP Penajam Paser Utara, Salbiyah mengatakan, sejak masa pandemi omzetnya anjlok. “Omzet kami terjun bebas. Karena produk yang kami olah adalah produk oleh-oleh,” kata Salbiyah.

Ia mengatakan selama ini produk olahan yang dijualnya mengandalkan penjualan dengan offline. Namun sejak pandemi berkurangnya aktivitas masyarakat di luar rumah. Maka pihaknya tak mendapatkan pendapatan. “Tetapi kini masih ada harapan. Karena pemerintah daerah dan Kodim masih membeli produknya. Untuk buah tangan,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut koperasi yang memiliki lebih dari 20 anggota tersebut. Mencoba untuk melakukan pemasaran dengan online. “Tetapi kami terkendala dengan jaringan. Penjualan produk yang masih stabil seperti gula dan minyak goreng. Camilan juga mulai bergerak perlahan,” pungkasnya. (fey/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar