Komunikasi Pemasaran Bagi UMKM di Masa Pandemi

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Kontribusi usaha mikro kecil menengah (UMKM) dalam perekonomian sudah tak perlu diragukan.

Tercatat ada 64,2 juta unit UMKM tersebar di seluruh Indonesia. Kontribusi produk domestik bruto (PDB) yang dihasilkan pun sebanyak 60,3 persen. Penyerapan tenaga kerja 97 persen dari total tenaga kerja dan 99 persen dari total lapangan kerja.

Penggunaan perangkat online atau digitalisasi bagi para UMKM semula hanya 8 persen. Hingga per 2019, sudah ada 8 juta UMKM yang go online. Angka tersebut bisa saja bertambah. Ataupun kebalikannya. Mengingat pandemi yang menghantam rata seluruh sektor perekonomian.

Akademisi Departemen Manajemen Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Gita Gayatri menjelaskan, lebih 70 persen UMKM mengalami pukulan keras. Dengan faktor permintaan menurun, pasar mengecil, pendapatan berkurang, juga modal yang habis.

Dia melanjutkan, banyak harapan dari berbagai pihak agar UMKM tetap bertahan. Alasannya, karena rata-rata sumber daya UMKM sendiri tidak tergantung pendanaan pinjaman.

“Hanya 11 persen UMKM yang menggunakan dana perbankan, maksimum 12 persen saja,” ucap Gita Gayatri, saat menyampaikan materi dalam webinar zoom dengan tema ‘Komunikasi Pemasaran Bagi UMKM di Masa Pandemi Covid-19’, yang digelar Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman, Selasa (29/9) lalu.

Baca Juga: Proyeksi Ekonomi Kaltim

Bahan baku yang digunakan para UMKM juga berasal dari pasar lokal. Sehingga apabila terjadi suatu hal yang buruk, kondisi UMKM pun diharapkan bisa segera beradaptasi.

Tak hanya itu, Gita menyampaikan saat ini jalur distribusi internasional masih belum pulih. Yang berarti impor menurun, maka lokal produk mengisi permintaan. “Pemerintah juga mendukung. Mereka (pemerintah) juga berusaha memberikan imbauan optimalisasi digital kepada UMKM,” katanya.

Gita juga menuturkan ada 4 kunci untuk bertahan bagi para UMKM. Yakni pemahaman konsumen, perubahan, digitalisasi konsumen, dan bantuan.

Terkait konsumen, pemahaman dari para pelaku UMKM kepada orang yang membeli produknya, diterangkan Gita, sangat perlu dilakukan. UMKM juga perlu melakukan riset kecil atau observasi pasar untuk mengetahui dinamikanya. “Pelajari pola pembelian, pahami kebutuhan juga modal. Dan upayakan kepuasan konsumen maksimal,” lanjutnya.

Selanjutnya adalah perubahan. Dalam hal ini perubahan yang Gita maksud adalah untuk bertahan dan juga agar tetap eksis. Yang berarti menyesuaikan dengan keadaan dan situasi. Seperti mendesain ulang bisnis.

Sistem digitalisasi konsumen pun, kata Gita lagi, bisa dipandang sebagai peluang. Di mana hal tersebut tidak bisa dihindari oleh pelaku UMKM. “Penetrasi IT di Indonesia naik pesat. Tren konsumen saat ini membeli online. Sektor industri jasa antar juga naik. Ini bisa jadi persaingan juga peluang ide,” sambungnya.

Untuk poin bantuan, dikatakan Gita semuanya tergantung pada keperluan dari UMKM sendiri. Sekali lagi tujuannya agar usaha yang dijalankan bisa tetap populer.

Digitalisasi marketing tak hanya itu saja. Tujuannya juga untuk menjangkau konsumen maupun calon konsumen secara cepat dan tepat. “Rumusnya sederhana, jika customer puas maka mereka akan re-order kembali,” lugasnya.

Integrated Marketing Communication (IMC) juga perlu bagi UMKM. IMC adalah upaya membuat komunikasi yang dikeluarkan oleh perusahaan, melalui saluran komunikasi, berisi konten yang konsisten dan sejalan.

Tujuannya IMC agar terbangun imej yang solid. Serta memberikan nilai (value) bagi konsumen. “Untuk IMC, isi, pesan, warna, font, semua harus konsisten dan sebangun. Sehingga tidak membingungkan konsumen. UMKM bisa menggunakan brosur, flyer, free samples, banner dan iklan sponsor. Low budget dan high impact,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Fariszal Nova Arianto. Founder dan CEO Wiken Asia Digital ini mengatakan, COVID-19 yang menciptakan peluang baru perlu diperhatikan oleh para pelaku UMKM. Peluang tersebut seperti peraturan work from home (WFH) atau school from home (SFH).

Fariszal menuturkan, sisi positif yang perlu diambil dari situasi pandemi ini oleh UMKM, ialah garis start, risiko, dan peluang yang sama dengan pelaku usaha kelas atas.

Ia mengatakan, pemahaman soal potensi diri juga perlu dilakukan. Agar kebutuhan dan agen yang ingin dicapai bisa terpenuhi. “Ide-ide akan bermunculan ketika kita sudah mengetahui dan mengenal diri kita,” tuturnya.

Fariszal juga menyampaikan pendekatan terhadap konsumen perlu dilakukan. Menjalin komunikasi dengan customer dengan cara sederhana akan menarik perhatian calon pembeli. Jadi ketika ada perubahan produk yang dilakukan pelaku UMKM, customer tetap mengenali pengusaha dengan hubungan yang baik.

“Dan nantinya mereka jadi tidak sungkan untuk membeli produk. Tinggalkan cinta di hatinya, pastinya konsumen akan puas jika pelayanan terbaik kita berikan,” pungkasnya. (nad/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar