Bisa Dipertanggungjawabkan

Foto Int

Tanjung Redeb, Disway – Setelah mendaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Berau, Senin (28/9) malam, Sri Juniarsih bertolak ke Balikpapan keesokan harinya untuk jadwal pemeriksaan kesehatan calon. Ternyata, Ia kembali positif COVID-19. Hal ini menimbulkan pertanyaan.

Sekretaris DPD PKS Berau, Sultan, yang mendampingi Sri Juniarsih untuk pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan, mengaku kebingungan dengan hasil berbeda yang sehari sebelumnya dilakukan di Berau. Dia membenarkan, hasil swab di rumah sakit itu kembali positif.

“Jadwal Ibu itu MCU (medical check up) tanggal 30 September dan 1 Oktober, beliau inikan mungkin kelalahan malam harinya harus ke KPU dan pagi langsung ke Balikpapan, atas permintaan KPU,”jelasnya kepada Disway.

Bisa jadi, kata Sultan, faktor kelelahan jadi salah satu penyebab, tapi pihaknya hanya mengikuti prosedur tahapan.

“Prosedurnya karena ibu itu Riwayat COVID-19 jadi harus swab dulu, kalau terkait hasil berbeda bisa ditanyakan ke Klinik Tirta di Berau,”terangnya.

Diungkapkannya, kondisi istri almarhum Muharram tersebut, dalam keadaan baik. Sementara istirahat dan menunggu informasi lebih lanjut. Pasalnya, pihak RSUD Dr Kanujoso, akan terlebih dahulu bersurat ke KPU Berau. Terkait hasil swab dari Sri Juniarsih.

“Yang jelas masih ada waktu tambahan 14 hari, nanti kami jadwalkan swab lagi, jika negatif yang pasti lanjut mengikuti tahapan pemeriksaan kesehatan,”ujarnya.

Tambahan waktu 14 hari yang dimaksud Sultan, berdasarkan Surat Edaran KPU RI Nomor: 789/PL/02.2-SD/06/KPU/1X/2020, mengatur tentang penggantian calon. Di mana, bakal calon atau bakal pasangan calon yang dinyatakan positif COVID-19 diberikan waktu 14 hari. Sejak penetapan pasangan calon. Untuk melakukan penanganan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Semoga dilancarkan untuk melanjutkan tahapan, dan Ibu Sri benar-benar bebas dari COVID-19,”tandasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi mengaku kebingungan dengan perbedaan hasil tersebut. Diakuinya, telah mendapat laporan hasil pemeriksaan Klinik Tirta yang menyatakan Sri Juniarsih negatif COVID-19.

“Saya sudah dapat laporan itu,” ujarnya kepada Disway Berau, Selasa (29/9).

Dengan adanya hasil tersebut, Iswahyudi berencana melakukan press rilis. Namun, pihaknya mendapat laporan dari Dinas Kesehatan Balikpapan, bahwa Sri Juniarsih masih terkonfirmasi positif.

“Itu kenapa tidak ada nama atau inisial Sri Juniarsih pada rilis tadi,” katanya.

Dijelaskannya, berdasarkan pedoman revisi-5, pasien terkonfirmasi dengan gejala ringan atau pun tanpa gejala tidak diharuskan untuk melakukan follow up atau swab control. Namun, demi tidak terjadinya keresahan, pihaknya merekomendasikan untuk dilakukannya swab control terhadap Sri Juniarsih di Klinik Tirta.

“Kalau pun tidak swab control juga tidak masalah. Karena, di pedoman revisi-5 itu dijelaskan virus yang di atas 14 hari sudah tidak akan menular dan akan mati dengan sendirinya,” jelasnya.

Iswahyudi mengungkapkan, COVID-19 adalah penyakit yang membingungkan. Kerap terjadi hal yang tak terduga.

“Sering ditemukan hal seperti itu. Tiba-tiba negatif dan tiba-tiba positif,” ungkapnya.

Menurutnya, ini adalah perkara yang rumit. Pasalnya, hasil tersebut disangkutpautkan dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

“Yang penting itu sebenarnya penerapan protokol kesehatan. Anggap saja semua orang negatif,” tegasnya.

Terkait perbedaan hasil, dirinya beranggapan bahwa hasil dari Klinik Tirta bisa dipertanggungjawabkan. Pasalnya, dari banyaknya kasus yang dinyatakan sembuh berdasarkan hasil pemeriksaan Klinik Tirta, hingga saat ini tak ada yang menularkan.

“Beberapa masih kami pantau. Dan memang tidak ada informasi kalau ada orang terpapar dari pasien yang sudah dinyatakan sembuh,” imbuhnya.

Sementara itu, Perwakilan Klinik Tirta, dokter David mengatakan, bahwa setiap alat memiliki sensitivitas yang berbeda-beda. Termasuk item gen yang diperiksa.

“Kalau masalah perbedaan hasil, itu harus dicek lebih lanjut,” ujarnya.

Menurutnya, harus dilakukan banding hasil dari pemeriksaan RSUD Kanujoso dengan pihaknya.

“Termasuk gen-gennya,” katanya.

Ditegaskannya, alat yang dimilikinya sesuai standar baku dan sesuai rekomendasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Kami pakai mesin dari Roche dan gen kami ada RDRP juga Egene,” tegasnya.

Selain itu, kasus ini juga menarik perhatian dokter spesialis paru RSUD dr Abdul Rivai, Robert Christian Naiborhu. Menurutnya, pasien yang sudah dinyatakan selesai karantina dan pengobatan, dan swab control negatif, kemudian mendapat pernyataan ahli paru atau penyakit dalam, tidak mungkin positif lagi kecuali tertular (reninfeksi).

Sebab menyatakan sembuh memerlukan evaluasi dari seorang ahli yang sudah mengenal riwayat penyakit dan perjalanan penyakit serta pengobatan pasien.

Pernyataan sembuh bisa dinyatakan oleh dokter paru manapun, atau dokter penyakit dalam yang bertugas di COVID dengan membawa hasil pemeriksaan sebelumnya dan evaluasi sesuai dengan keahlian yang dimilikinya

Dijelaskannya, pemeriksaan lab adalah hasil pemeriksaan keadaan saat itu, sewaktu diuji oleh ahli patologi. Bahan hasil pemeriksaan tersebut harus dievaluasi oleh ahli paru yang sudah mengetahui perjalanan penyakit pasien dan perkembangan terapinya.

Diakuinya, beberapa kali rekan Sri Juniarsih melakukan koordinasi dengan pihaknya terkait obat yang digunakan oleh dirinya untuk mengobati pasien COVID-19.

“Ada beberapa kali rekan beliau konsul ke saya, namun hanya menanyakan obat-obatan saja, kalau mengenai perjalanan pengobatan saya tidak mengikuti,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, proses penelitian berkas cukup alot. Menguras waktu. Sekira dua jam lamanya. Pada akhirnya, KPU menyatakan berkas lengkap Sri Juniarsih dan Gamalis. Memenuhi syarat. Baik persyaratan calon maupun pencalonan. Sudah dibuatkan berita acara diterima.

“Selanjutnya, keduanya akan melakukan pemeriksaan kesehatan di Balikpapan,” ucap ketua KPU Berau, Budi Harianto.

Berkas diterima, tapi belum final ditetapkan pasangan calon kepala daerah. Menunggu hasil pemeriksaan kesehatan. Secara jasmani dan rohani, serta terbebas dari penggunaan obat-obatan terlarang. Narkotika. Untuk menentukan, apakah memenuhi syarat atau tidak.

Pasangan RAGAM Pesona Berau melakukan tahapan pengecekan kesehatan di Balikpapan. Sesuai PKPU, bahwa dalam pengecekan kesehatan minimal dilakukan di rumah sakit tipe B.

“Ada tiga hari waktu normalnya untuk penetapan,” jelasnya.

“Jika dalam waktu hasil check up kesehatan keduanya belum keluar, pihak rumah sakit akan mengirimkan surat kepada kami, untuk meminta tambahan waktu,” tambahnya.*/fst/jun/app

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar