HUT Tenggarong ke-238 yang Tak Seperti Biasanya

Tenggarong rayakan hari jadinya ke-238 tahun. Tepat 28 September 2020.  Yah, usia yang cukup matang bagi sebuah daerah. Bagi saya yang memang lahir dan menjadi putra daerah sejak 29 tahun lalu.

Oleh : Muhammad Rafi’I (Reporter Nomor Satu Kaltim wilayah Kukar)

DAERAH ini juga memiliki sebuah julukan. Yakni Kota Raja Tenggarong. Karena menjadi pusat pemerintahan sejak 1780 M. Saat masa pemerintahan Sultan Aji Imbut, dengan gelar Sultan Muhammad Muslihuddin. Raja Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XV.

Seperti tahun-tahun sebelumnya. DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) tak pernah absen mengagendakan Rapat Paripurna Istimewa. Untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Tenggarong.

Namun tidak seperti biasanya. Saat ingin masuk ke ruangan rapat paripurna. Saya harus melewati tahapan pemeriksaan. Harus lewat bilik sterilisasi dulu, cek suhu tubuh dulu.

Selain undangan, jangan harap bisa masuk. Awak media terpaksa menjalani aktivitas jurnalistiknya dari balkon atas. Memantau jauh dari atas. Cukup tegaslah dalam penerapan protokol yang diatur peraturan bupati.

Sejauh acara berlangsung. Berulang kali harapan disampaikan untuk Tenggarong. Mulai dari pidato Ketua DPRD Kukar, hingga pidato Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kukar. Berharap bisa segera berbenah. Menjadi lebih baik. Kembali meraih kejayaannya. Dan pastinya, mampu bangkit di tengah terpaan pandemi COVID-19.

Seperti hari ulang tahun sebuah daerah pada umumnya. Tentu ada pesta rakyat yang tersaji. Namun karena kondisi pandemi COVID-19 saat ini. Pesta itu urung dilakukan. Tak ada bazar, tak ada panggung seni budaya, tak ada panggung musik dan tak ada perlombaan yang memeriahkan saat ultah pada umumnya.

Dari sekian banyak kegiatan yang menghiasi, dan menyemarakkan HUT Kota Raja Tenggarong. Hanya ada kegiatan pembacaan doa. Yang dikemas dalam Haul Jamak. Bagi para Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan pejabat Kukar. Yang dibuat oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Mohammad Arifin. Minggu (27/9/2020) pagi.

Dengan kata lain, secara resmi pesta rakyat yang bertajuk Festival Kota Raja (FKR) ditiadakan dan dibatalkan hingga tahun depan. Melihat kondisi perkembangan COVID-19. Tidak ada lagi bazar, pentas seni. Dan acara yang ditunggu-tunggu. Tenggarong Kutai Carnival. Ajang busana yang mengadopsi Jember Festival Carnaval. Acara yang terfokus di Halaman Parkir Stadion Rondong Demang Tenggarong.

Stadion Rondong Demang Lengang

tenggarong
Halaman Parkir Stadion Rondong Demang Tenggarong, yang biasanya digunakan salah satu spot panggung Festival Kota Raja (FKR). (Rafi’i/Nomor Satu Kaltim)

Biasanya, pukul 15.30 WITA. Halaman Parkir Stadion Rondong Demang Tenggarong mulai didatangi masyarakat Kukar. Motor penuh berjejer, di sepanjang parkiran. Lambat datang ya bingung di mana parkir.

Tukang parkir siap menyambut pengguna motor dan mobil, memastikan terparkir rapi dan benar di area yang sudah ditetapkan. Tidak hanya warga Kukar saja lho, masyarakat luar Kukar juga ada. Seperti Samarinda dan beberapa kota lainnya menghabiskan waktu berkeliling bazar. Sekedar menikmati kuliner, mengajak anak-anak bermain di wahana permainan.

Tapi saat ini tampak lengang. Hanya diisi orang-orang yang sedang berolahraga. Ya memang kebetulan itu juga lapangan basket. Ada juga yang berlatih softball. Dan ada juga sekedar berlari santai di sore hari.

Tepian Mahakam pun Sama

tenggarong
Lapangan di Tepian Mahakam Timbau yang biasanya juga menjadi spot panggung FKR tampak lengang. (Rafi’i/Nomor Satu Kaltim)

Begitupun, dengan lapangan basket di Tepian Mahakam. Sejak siang hari sudah ada acara kebudayaan di sini. Seperti tarian daerah dari berbagai sanggar seni dan tari. Dan yang mungkin ditunggu masyarakat Kukar. Yakni lomba “bemamai”. Lomba marah-marah dengan Bahasa Kutai asli. Biasanya seperti itu.

Namun semua kemeriahan tersebut tidak lagi bisa dinikmati saat ini. Barangkali bisa diadakan lagi ketika pandemi COVID-19 berakhir.

Baca juga: Rizky Amelia Lulus Pascasarjana dengan Prestasi Cum Laude

Warga Kukar harus sedikit bersabar, hingga tahun depan. Mungkin bisa lebih lama, melihat kondisi sekarang. Ya tetap saja, saya merindukan suasana keramaian itu. Di mana saat-saat masyarakat luar Kukar bisa mengetahui budaya Kutai. Dan kita semua, generasi muda tidak lupa akan budaya di mana dirinya bertempat tinggal dan mencari penghidupan. (ava)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar