Angka Kematian Ibu Turun


Ilustrasi penyuluhan tentang risiko kehamilan tinggi.(INT)

TANJUNG REDEB, DISWAY – Dinas Kesehatan berhasil menekan angka kematian ibu. Dalam tiga tahun terakhir.

Data di Dinas Kesehatan Berau, pada 2018 terdapat 8 kematian ibu dari target 9 angka kematian. Di 2019 kembali menurun. Hanya 5 kematian ibu dari target 8. Dan di September 2020 sebanyak ada 3 dari target 7 angka kematian ibu.

Kepala Bidang Kesehatan, Dinkes, Lamlay Sane menjelaskan, pihaknya berupaya menekan angka kematian ibu setiap tahun.

Dikatakan, kematian dihitung selama masa kehamilan, sesudah melahirkan dalam kurun waktu 42 hari. Biasanya angka kematian ibu dipengaruhi dua faktor. Yaitu pada kehamilan dan penanganannya. “Angka kematian ibu dihitung bukan karena cedera dan kecelakaan,” ujarnya, Minggu (27/9).

Biasanya, kata Lamlay Sane , penyebab kematian ibu antara lain, jantung, pendarahan, sepsis dan eklamsia.

“Angka kematian ibu dapat ditekan kalau diketahui ibu hamil berisiko tinggi. Yaitu hamil di atas usia 30 tahun, terlalu sering melahirkan dan masih di bawah umur,” ungkapnya.

Karenanya, terutama di perkampungan, Dinkes menggerakkan seluruh kader dan bidan untuk memonitoring ibu hamil.

Agar menyarankan untuk ibu hamil minimal 4 kali datang ke puskesmas untuk mengecek kondisinya.

“Seperti di Long Laay kader harus mengetahui berapa yang hamil agar dimonitoring secara intens. Apalagi penduduknya tidak banyak,” katanya.

Lamlay mengatakan, di perkampungan monitoring lebih intens karena jauh dari rumah sakit rujukan.

Khusus rumah sakit rujukan, tambahnya, diupayakan agar ada kemudahan persyaratan. “Untuk rumah sakit umum Talisayan, Dinas Kesehatan sudah proaktif memenuhi fasilitas dan sumber daya manusia. Seperti dokter spesialis dan bidan. (RAP)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar