Alibaba di Tengah Gempuran Pandemi

Beijing, nomorsatukaltim.com – Jack Ma menyakan mundur dari Alibaba Group pada 10 September 2019. Ia meninggalkan perusahaan yang didirikannya 21 tahun lalu kepada penerusnya, Daniel Zhang.

Saat ini, Zhang menduduki posisi sebagai CEO Alibaba. Seperti dilansir dari Reuters, kapitalisasi pasar perusahaan yang berfokus utama di e-commerce itu kini menembus US$ 460 miliar.

Ma, yang kini berusia 56 tahun, menyebutkan beberapa karakteristik Zhang yang berbeda dengan dirinya yang flamboyan dan karismatik.

“Dia memiliki kemampuan berpikir yang kritis dan logis seperti komputer super, berkomitmen terhadap visinya, mempunyai keberanian untuk sepenuh hati melaksanakan model bisnis serta industri yang inovatif dan memandang ke masa depan,” paparnya pada 2018, ketika mengumumkan rencana pengangkatan Zhang.

Keputusan mundurnya Ma terbilang tak biasa. Karena bukan hal yang lazim bagi pendiri perusahaan teknologi besar untuk pensiun sedini ini. Di bawah kepemimpinannya, Alibaba telah menjelma menjadi perusahaan raksasa dengan 100.000 karyawan dan ekspansi ke bisnis layanan finansial, komputasi awan, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Meski demikian, berbagai pernyataan Ma tak lepas dari kontroversi. Misalnya, ketika dia mendorong karyawan perusahaan teknologi untuk lembur hingga malam dan tetap bekerja pada akhir pekan.

Ma juga tak sepenuhnya sukses membawa Alibaba menaklukkan pasar di luar China. Contohnya, gagal menggolkan akuisisi senilai US$ 1,2 miliar atas provider remitansi MoneyGram.

Kasus lainnya adalah tudingan bahwa Taobao, marketplace milik Alibaba, merupakan surga bagi barang mewah palsu. Taobao bahkan masuk dalam daftar marketplace “yang patut diwaspadai” oleh Pemerintah AS. Karena dinilai menjual barang-barang yang melanggar hak kekayaan intelektual perusahaan-perusahaan AS.

Adapun Zhang mewarisi sejumlah tantangan yang tak ringan. Di bawah pengawasan jutaan pasang mata dari seluruh dunia. Salah satu yang terbesar adalah menemukan potensi bisnis baru seiring makin mature-nya sektor e-commerce Negeri Panda.

Pertumbuhan ritel online di China hanya 17,8 persen pada paruh pertama 2019. Sekitar separuh periode yang sama tahun sebelumnya. Yang mencapai 32,4 persen.

“Akan lebih sulit bagi Alibaba untuk menemukan inovasi atau tren baru sekarang dibandingkan sebelumnya,” ucap Liu Yiming, analis di perusahaan penerbit teknologi China, 36kr.

***

Dilansir dari Reuters, CEO Alibaba, Zhang mengatakan, banyak rencana dan target bisnis yang meleset di musim libur Tahun Baru Imlek. Karena wabah virus corona yang sudah menyebabkan kematian ribuan orang di China dan menginfeksi ribuan orang lainnya.

Ia mengatakan, banyak pelapak atau pedagang yang menggunakan platform Alibaba mengalami keterlambatan pengiriman. Guna memenuhi pesanan yang datang. Zhang mencontohkan, sektor pengiriman makanan atau delivery food menjadi salah satu yang terpukul. Jumlah order pengantaran makanan di Alibaba anjlok karena banyak restoran yang tutup.

Di sisi lain, supermarket dan pemasok bahan kebutuhan pokok lain yang juga dilayani Alibaba mengalami lonjakan permintaan tajam. Namun tak bisa menjual barang secara maksimal. Karena keterbatasan pengiriman.

Meskipun dipastikan bakal suram, berdasarkan pengamatan yang baru dilakukan, Zhang mengatakan, sebagian besar masyarakat di kota-kota besar China mulai kembali bekerja seperti biasa. Sehingga jaringan logistik telah kembali normal.

Virus corona tak semuanya berimbas negatif pada Alibaba. Zhang mencontohkan, bisnis DingTalk, sebuah aplikasi yang dikembangkan sebagai percakapan antar perusahaan terkait bisnis, mengalami lonjakan pengguna selama krisis corona. Ini lantaran banyak perusahaan meminta karyawannya bekerja dari rumah. Kemudian lonjakan lainnya ditopang oleh sekolah yang memilih menggunakan aktivitas belajar jarak jauh secara online bagi para siswanya.

“Pendapatan Alibaba untuk kuartal berikutnya dipastikan akan terkena dampak dari wabah corona. Tetapi bisnis perusahaan sudah cukup buat menahan penurunan dalam waktu singkat. Bisnis cloud computing di sisi lain dijadikan pendongkrak untuk outlook yang lebih cerah,” kata Jesse Cohen, Analis Senior Platform Pasar Keuangan Investing.

Alibaba biasanya melaporkan pendapatan tertingginya terjadi di kuartal terakhir. Karena ada peningkatan belanja e-commerce pada setiap November. Perusahaan bahkan mencatat penjualan hanya dalam sehari pernah menembus rekor 38,4 miliar dolar AS pada 2019.

Grup Alibaba mencetak banyak pendapatan dari berbagai segmen. Seperti penjualan layanan iklan dan promosi pada pedagang yang mendaftarkan produk mereka di situs e-commerce seperti Tabao dan Tmall.

Selain itu, Alibaba juga secara aktif ikut membantu Pemerintah China dalam penanggulangan wabah corona. Seperti membantu memastikan pengiriman pasokan kebutuhan pokok bagi kota-kota terdampak corona di China. Bahkan perusahaan afiliasi Alibaba, Ant Financial MYBank, menawarkan pinjaman hingga 20 miliar yuan atau sekitar 2,9 miliar dolar AS kepada perusahaan-perusahaan di China segera setelah wabah tersebut bisa ditangani.

Sebagai informasi, bisnis inti Alibaba mengalami kenaikan siginifikan hingga 38 persen menjadi 141,48 miliar yuan di kuartal III tahun lalu. Sementara pendapatan dari bisnis komputasi awan atau cloud melonjak hingga 62 persen atau menjadi 10,72 miliar yuan. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham juga naik menjadi 52,31 miliar yuan dari periode yang sama tahun lalu sebesar 33,05 miliar yuan. (kmp/qn)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar