Ekspor Berharap Porang dan Sarang Burung Walet

Balikpapan, nomorsatukaltim.com– Ekspor komoditas yang melalui Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan mengalami penurunan. Dampak dari pembatasan beberapa negara yang memberlakukan lockdown.

Menurut data yang dirilis, hingga September 2020 tercatat total nilai ekspor Rp 3,5 triliun lebih. Angka itu untuk produk pertanian dan non pertanian.  Capaian ini lebih rendah dibandingkan pada periode yang sama pada 2019. Pada periode tersebut berhasil menghimpun Rp 5,4 triliun lebih.

Kepala Karantina Pertanian Balikpapan Abdul Rahman mengatakan, penurunan komoditi ekspor mulai terlihat sejak April. Tidak lain adalah dampak dari pandemi COVID-19.

“Angka yang tercatat oleh kami adalah kinerja ekspor produk pertanian dan non pertanian UPT Balai Karantina Pertanian Balikpapan,” kata Abdul Rahman saat dijumpai, Kamis (24/9).

Abdul Rahman menjelaskan, pada Maret ekspor masih mengalami kenaikan. Kemudian pada dua bulan berikutnya, April dan Mei mulai mengalami penurunan. “Penurunan terjadi karena dampak pandemi. Negara tujuan saat itu memiliki kebijakan melakukan lockdown. Sehingga permintaan pun mengalami penurunan,” terangnya.

Baca Juga: Targetkan Ekspor Pertanian Rp 14 Triliun

Meski begitu, laju penurunan masih tertolong produk non pertanian yang melejit pada Agustus kemarin. Khususnya untuk pengiriman komoditas spent bleaching earth, kayu veener, kayu palet, kayu lapis, RBD palm olein, dan RBD palm stearin. Dengan nilai mencapai Rp 17 miliar lebih. Jauh dibandingkan Agustus tahun lalu yang senilai Rp 182 juta lebih saja. Turunnya ekspor produk pertanian tahun ini diperparah permintaan pisang yang dihentikan karena pandemi.

Sejauh ini, ada belasan komoditi pertanian dan non pertanian yang diekspor. Yaitu kayu chips akasia, kayu lapis, kelor, palm kernel oil, cangkang sawit, bubuk rempah, bungkil kelapa sawit, pasak bumi, jahe iris kering, jagung kering pipil dan lainnya.

Komoditi tersebut menyasar beberapa negara tujuan. Seperti China, India, Jepang. Meski demikian, Abdul Rahman mengatakan pihaknya optimistis target ekspor yang ingin dicapai pada tahun ini akan tercapai.”Target harus setinggi-tingginya. Untuk pencapaiannya berbagai upaya terus dilakukan, ” ucapnya.

Pada tahun ini, Balai Karantina Pertanian Balikpapan telah mengidentifikasi komoditi pertanian yang memiliki potensi tinggi untuk ekspor. Seperti porang dan sarang burung walet.”Kedua komoditi tersebut sudah kami petakan. Ada beberapa kabupaten/kota yang mulai menanam porang,” ujarnya.

Sejumlah petani yang mulai tertarik untuk tanam porang tersebar di Balikpapan, Samboja, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara dan Paser. “Porang ini memiliki nilai yang tinggi apabila nantinya diolah menjadi chip atau tepung. Saat ini belum ada pabriknya di Kaltim. Karena masih melihat produksi tanam ya,” bebernya.

Menurutnya, pengembangan porang saat ini terus digalakkan. Petani juga mulai tertarik untuk menanam porang. Kendala yang ditemui adalah pengadaan bibitnya.”Karena di Pulau Jawa petani juga mengembangkan porang. Bibit yang ditanam di Kaltim adalah dari Kalimantan Selatan,” tandasnya.

Sedangkan sarang burung walet. Di wilayah Kaltim memiliki banyak pengusaha yang bergerak di bidang tersebut. Namun, kendala yang ditemui adalah belum mengekspor ke negara tujuan langsung.

“Petani sarang burung walet mengirimkannya ke daerah lain seperti di Jawa atau Batam. Hal ini karena dikirim dalam bentuk kotor. Sehingga nilai jualnya juga tidak tinggi,” kata Abdul Rahman.

Sehingga pihaknya mendorong agar memproses sarang burung walet menjadi bersih. Agar saat ekspor ke negara tujuan akan lebih tinggi.

Ia menambahkan, upaya-upaya yang dilakukan saat ini hasilnya dapat dirasakan pada tahun mendatang. Seperti porang apabila ditanam saat ini, maka enam bulan kemudian sudah bisa dipanen. “Tahun depan hasilnya akan bisa dilihat. Ada komoditi baru untuk ekspor produk pertanian dan non pertanian,” harapnya. (fey/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar